Ramadhan Ini Puasa Terpanas di Arab

0 komentar
 
REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Ramadan tahun ini menjadi bulan puasa terberat bagi muslim di negara-negara Teluk Arab. Sebab, di kawasan tersebut tengah diselimuti musim panas. 
Dikatakan suhu rata-rata perhari mencapai 50 derajat celcius. Badan Metereologi dan Seismologi Nasional UAE (NCMS) mengatakan provinsi Umm al-Zummool adalah tempat terpanas di negara itu. Di wilayah selatan Kota al-Ain itu, suhu perhari mendekati 51 derajat celcius. 
''Mereka yang berpuasa sambil bekerja di lapangan, harus mengambil banyak kemudahan dan perawatan. Terutama anak-anak,'' kata pakar meteorologi setempat seperti dilansir Gulf News, Rabu (10/7). 
Kondisi tersebut menjadikan Ramadan tahun ini yang terpanas dalam tiga dekade terakhir. Dikatakan suhu panas belum mencapai puncaknya. NCMS meyakini cuaca panas akan terus memanggang tanah arab sampai Agustus mendatang. 
Musim panas juga membuat waktu siang di kawasan itu menjadi lebih lama. Rata-rata mencapai 15 jam. Ini membuat waktu berbuka lebih lama.
Sedangkan di belahan bumi lain, musim panas juga mempengaruhi muslim di Uni Eropa. Di Jerman, waktu siang hari mencapai 18 jam. Di Swedia, Denmark, dan Finlandia, muslim menunggu waktu berbuka hingga 20 jam.
Sementara itu, di Islandia musim panas membuat negara itu tidak kebagian jam malam. Emirates 24/7 melansir di negara tersebut puasa membingungkan lantaran matahari seharian atau selama 24 jam tetap tampak. Namun, belum ditemukan adanya komunitas muslim di negara tersebut.
Sedangkan Argentina, dan kawasan Australia menjadi wilayah dengan waktu siang tercepat. Musim panas tidak mempengaruhi wilayah-wilayah Amerika dan Asia Pasifik. Rata-rata di kawasan itu muslim menjalani puasa antara sembilan sampai 12 jam.

Leave a Reply