I’tikaf dan Adab-Adabnya

0 komentar
 
I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah. I’tikaf disunnahkan untuk meraih malam Lailatul Qadar. Allah telah menjelaskan masalah ini di dalam firman-Nya,
“Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu ber-I’tikaf” (QS. Al-Baqarah: 187)
Dijelaskan dalam as-Shahiihain, dan lain-lain, bahwa Nabi ber-I’tikaf dan para sahabat pun ber-I’tikaf bersama beliau.[2] Setelah itu, I’tikaf tetapi disyari’atkan dan tidak dihapus. Dalam hadits lain dijelaskan dari ‘Aisyah, ia berkata,
“Nabi ber-I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau. Lalu, para isteri beliau pun ber-I’tikaf sesudahnya” [3]
Dalam Shahiih Muslim dijelaskan juga dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah ber-I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya aku ber-I’tikaf pada sepuluh hari pertama untuk mencari malam ini (Lailatul Qadar), lalu aku ber-I’tikaf pada sepuluh hari pertengahan (bulan Ramadhan). Kemudian dikatakan kepadaku bahwasanya Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam terakhir. Maka, barangsiapa dari kalian yang senang ber-I’tikaf maka lakukanlah.” (Diriwayatkan al-Bukhari).
Maka, orang-orang pun ber-I’tikaf bersama beliau. [4]

Imam Ahmad berkata, “Saya tidak menemukan adanya perselihan pendapat di kalangan ulama tentang sunnahnya I’tikaf. Dengan demikian, I’tikaf itu disunnahkan baik berdasarkan nash (dalil) maupun ijma’ (kesepakatan) ulama.”
Tempat ber-I’tikaf adalah di masjid yang digunakan untuk shalat berjama’ah, di mana pun tempatnya.[5] Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala,
ketika kamu ber-I’tikaf dalam masjid” (QS. Al-Baqarah: 187)
Adapun yang paling utama adalah masjid yang diselenggarakan shalat Jum’at, hal ini supaya ia tidak perlu keluar dari masjid (untuk shalat Jum’at). Akan tetapi, apabila ia ber-I’tikaf di masjid yang tidak diselenggarakan shalat Jum’at, maka setelah tiba waktu shalat Jum’at ia harus meninggalkan masjidnya untuk berangkat ke masjid yang diselenggarakan shalat Jum’at.
Orang yang ber-I’tikaf harus menyibukkan diri dengan keataan kepada Allah, baik dengan shalat, membaca Al-Qur’an, maupun berdzikir kepada Allah, karena itulah maksud dari I’tikaf. Dan tidak mengapa baginya sekedar berbincang dengan teman-temannya, apalagi jika hal itu bermanfaat.
Diharamkan bagi orang yang sedang ber-I’tikaf untuk berjima’ dan perkara-perkara yang mengantarkan kepada persetubuhan. [6]
Adapun hukum keluarnya seseorang yang ber-I’tikaf dari masjid, maka para ulama membaginya menjadi tiga:
Pertama, boleh. Yaitu, ia keluar untuk suatu hal yang wajib ditunaikan secara syari’at maupun tradisi, keluar untuk berwudhu’, keluar untuk mandi wajib, dan keluar untuk buang hajat (besar maupun kecil).
Kedua, keluar untuk mengerjakan ketaan yang tidak wajib ditunaikan secara syari’at, seperti menjenguk orang sakit dan menyaksikan jenazah. Namun apabila ia mensyaratkan hal itu, di awal ia mulai ber-I’tikaf, maka hukumnya boleh. Adapun jika ia tidak mensyaratkannya, maka tidak boleh.
Ketiga, keluar untuk suatu perkara yang membatalkan I’tikaf, seperti keluar untuk pulang ke rumah, berbelanja, berjima’ dengan isteri, dan sebagainya. Semua ini tidak boleh, baik ada syarat maupun tidak.Wallaahu a’lam [7]
Ditanyakan: “Apakah disyari’atkan ber-I’tikaf di luar bulan Ramadhan?”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin menjawab, I’tikaf yang disyari’atkan yaitu pada bulan Ramadhan saja, karena Nabi tidak pernah melakukan I’tikaf di luar Ramadhan, kecuali pada bulan Syawwal, saat beliau tidak bisa melakukan I’tikaf pada bulan Ramadhan tahun itu. Namun, seandainya ada yang ber-I’tikaf di luar bulan Ramadhan, maka itu boleh. Sebab, ‘Umar pernah bertanya kepada Rasulullah, “Saya bernadzar untuk ber-I’tikaf selama satu malam atau satu hari di Masjidil Haram.” Lalu Rasulullah bersabda, “Penuhilah nadzarmu itu!”
Akan tetapi, kaum Muslimin tidak dituntut untuk mengerjakannya di luar bulan Ramadhan.
Sumber: Tim Editor Media Tarbiyah (2012). Sifat Puasa Nabi: “Seakan-akan Anda berpuasa bersama Rasulullah”. Bogor: Media Tarbiyah. hlm. 120-124
Catatan kaki:
[1] Majmuu’ Fataawaa wa Rasaa-il, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, XX/15
[2] HR. Al-Bukhari (no.2026)
[3] HR. Al-Bukhari (no.2026) dan Muslim (no. 1172)
Syaikh Al-Albani menjelaskan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya wanita ber-I’tikaf. Tidak diragukan lagi bahwa boleh dengan syarat adanya izin dari walinya untuk ber-I’tikaf. Selain itu, juga harus aman dari fitnah dan tidak berdua-duaan dengan laki-laki, sebab banyak dalil mengenainya. Dan kaidah fiqih menyebutkan: ‘Menghindari kerusakan harus lebih didahulukan daripada mengambil manfaat‘” Dinukil dari Shifat Shaumin Nabiy, karya dua orang murid Syaikh Al-Albani, yaitu Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi dan Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali.
[4] HR. Al-Bukhari (no.2027)
[5] Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa I’tikaf hanya boleh dikerjakan di 3 masjid (Masjidil Haram, Masjid An-Nabawi, dan Masjidil Aqsha). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no.2786).
Syarat-syarat I’tikaf, yaitu: 1) Islam, 2) Berakal (waras, tidak gila, tidak mabuk), 3) Niat, 4) Baligh, 5) Berpuasa, 6) izin wali bagi wanita.
Menurut Syaikh Al-Albani, mulai masuknya I’tikaf boleh kapan saja. Meskipun yang masyur adalah dimulai sebelum matahari tenggelam dan diakhiri setelah berlalu satu hari. Syaikh berkata, “Boleh saja, yang penting ia masuk dalam keadaan berpuasa.” (Lihat Mausuu’ah a;-Fiqhiyyah a-Muyassarah, III/356)
[6] Adapun hal-hal yang boleh dilakukan saat ber-I’tikaf adalah: Keluar dari masjid untuk keperluan mendesak, sibuk dalam urusan-urusan mubah, berkunjungnya isteri dan berduaan dengannya, mandi dan berwudhu’ di masjid, mendirikan kemah/tenda, memakai kasur/selimut, meminang dan melangsungkan akad nikah, wanita mustahadhah boleh ber-I’tikaf.
[7] Fataawaa Arkaanil Islaam - jilbab online

Leave a Reply