Iftar Di Masjid Nabawi

0 komentar
 


Menikmati hari-hari Ramadan di Madinah benar-benar sulit digambarkan. Selain benar-benar menyenangkan, banyak pengalaman yang bisa dipetik dan sangat bisa diaplikasikan di Tanah Air. 

Salah satu pengalaman baru bagi saya adalah menikmati berbuka puasa di Masjid Nabawi. Sungguh sebuah kenyataan di luar realita Tanah Air.

Semangat bersedekah benar-benar terlihat di sana. Dalam penyediaan menu berbuka puasa misalnya, masyarakat Madinah berlomba-lomba membooking tempat.

Tak tanggung-tanggung, ada yang membooking tempatnya cukup luas. Sehingga ruang dalam masjid ditambah pelatarannya, semua terisi bentangan plastik panjang tempat berbuka puasa. 

Caranya pun cukup praktis. Usai Salat Ashar, mereka yang bersedekah dibantu petugas kebersihan masjid dan juga keluarganya langsung membentangkan plastik panjang di sela-sela shaf jamaah.  

Dalam sekejap, masjid yang cukup luas dengan jutaan jamaah itu, sudah terisi bentangan plastik. Sehingga jangan takut tidak kebagian makanan saat berbuka tiba. Bahkan, makanan yang tersedia sering berlebih dan kembali disedekahkan kepada jamaah untuk dibawa pulang ke hotel.

Seusai Salat Ashar, kesibukan menyambut buka puasa benar-benar terlihat. Kesibukan mereka membawa makanan dari luar masjid berbaur dengan kesibukan masing-masing jamaah. 

Umumnya, jamaah Salat Ashar tidak lagi kembali ke hotel. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu menanti berbuka puasa itu dengan membaca Alquran atau ada juga yang berbaring. 

Menu yang disajikan cukup variatif. Ada kurma, roti, yoghurt, dan air zam-zam, termasuk kopi Arab yang rasa jamu itu. Kurma yang disajikan itu pun bukan kurma murahan, tetapi kurma pilihan termasuk ajwa (kurma nabi) yang harganya mencpai 120 riyal per kilo, setara Rp300 ribu.

Bagi jamaah yang baru datang dan belum mendapatkan tempat berbuka, tak perlu khawatir. Sebab, akan sangat banyak yang akan meminta Anda untuk duduk di tempat yang sudah mereka siapkan. 

Bahkan, tidak sedikit yang menggunakan petugas khusus mencari jamaah yang belum kebagian tempat agar mau berbuka di tempat yang mereka siapkan. 

Ketika azan Magrib berkumandang, berbuka puasa pun dilaksanakan. Semua jamaah dari berbagai negara membaur jadi satu menyantap hidangan ala Arab Saudi ini. 

Waktu untuk berbuka tidak lama, hanya sekitar lima menit. Setelah bilal mengumandangkan iqomah, aktivitas berbuka dihentikan dan semua jamaah berdiri untuk salat.

Lalu bagaimanan dengan sisa-sisa makanan berbuka? Tidak ada masalah, sebab dalam hitungan detik, plastik panjang yang dibentangkan sebagai alas yang berisi sisa-sisa makanan, akan digulung dan dimasukkan oleh petugas kebersihan ke dalam plastik yang sudah disiapkan. Masjid pun kembali bersih seperti semula tanpa meninggalkan tumpahan makanan maupun minuman.

Usai salat, umumnya jamaah kembali ke hotel untuk makan malam dan sesaat kemudian kembali lagi ke masjid untuk menunaikan Salat Isya dan Tarawih. 

Dalam perjalanan pulang ke hotel, mulai dari dalam masjid kita kembali akan melihat jejeran orang-orang yang bersedekah. Berbagai macam bentuk sedekah yang mereka berikan. 

Ada kurma, roti, air zam-zam, mengoleskan parfum ke tangan jamaah, sampai tisu pun disedekahkan. Pokoknya, apa yang bisa disedekahkan akan mereka berikan, termasuk sedekah yang gratis yaitu senyum.    

Tidak jauh berbeda, suasana berbuka dan semangat bersedekah di Masjid Nabawi juga terlihat di Masjidil Haram, Makkah. Jamaah tidak perlu takut kelaparan karena tidak kebagian jatah berbuka. Jutaan jamaah akan terlayani dengan berbagai menu makanan yang disedekahkan.

Hanya saja, menu berbuka di Masjidil Haram tidak selengkap dan semewah di Masjid Nabawi. Terkadang, di berbagai tempat yang disediakan hanya ada kurma dan air zam-zam. Tapi, menu yang ada tetap saja mampu mengusir dahaga dan lapar menjelang jamaah mendapatkan menu makan malam di hotel.

Realita itu berlangsung setiap hari. Tidak satu pun jamaah yang tidak terlayani, meski jumlah jamaah yang terkonsentrasi di Masjidil Haram terus bertambah padat menjelang akhir Ramadan. 

Membludaknya jamaah khususnya sepuluh hari terakhir Ramadan, tidak lain karena jamaah ingin mengikuti salat malam di Masjidil Haram. 

Faktor lainnya tentu saja mengharapkan mendapatkan lailatul qadar —malam yang lebih baik daripada seribu bulan— yang banyak diyakini turun sepuluh malam terakhir Ramadan khususnya di malam-malam ganjil. 

Selain menu berbuka puasa, di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga tersedia menu sahur, khususnya untuk jamaah yang beriktikaf di masjid. Menu ini juga berasal dari sedekah. Menu sahur disajikan usai salat qiyamul lail (salat malam) yang berakhir hampir pukul 03.00 WAS.

Di luar tradisi berbuka puasa dan sahur, semangat bersedekah di Tanah Suci juga bisa disaksikan di dekat Kakbah. Warga yang berdesakan melakukan tawaf, seringkali disodorkan tisu untuk menghapus keringat. 

Bahkan, sesekali terasa tubuh seperti diguyur gerimis. Air itu tidak lain berasal dari jamaah yang menyemprotkan air ke udara untuk mengurangi rasa panas yang menyengat. 

Leave a Reply