Tugas Seorang Muslim di Bulan Ramadhån

0 komentar
 

Oleh : Syaikh Ali Hasan Al Atsari Hafizhåhullåh
Seorang yang beriman memiliki tugas-tugas syar’i pada bulan Ramadhan yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melalui sabda dan perbuatan beliau. Dimana bulan Ramadhan adalah musim kebajikan karena nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada bulan Ramadhan melebihi dari bulan lainnya (Fathul Bari : 1/31)
Adapun tugas-tugas (mukmin) tersebut terlukis dalam amalan-amalan baik dan taqwa yang terdapat di bulan Ramadhan dari hukum-hukum Syar’i.
Yang pertama : Puasa
Keutamaannya (secara umum) adalah besar, karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّياَمَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ فَوَالَّذِي نَفْسِ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِِ الْمِسْكِ

“(Alloh berfirman) : Setiap amal bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, maka demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kesturi”
Berkata Imam al-Mazari dalam al-Mu’allim bi Fawaidil Muslim (2/41)
“Adanya takhshish (pengkhususan) Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap puasa dalam hadits tersebut dengan firmannya “لى“ (untukku), walaupun amalan baik (lainnya) diikhlaskan semuanya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun puasa tidak tercemar oleh riya’, tidak sebagaimana amalan-amalan yang lain.
Karena puasa adalah mencegah dan menahan diri, sedangkan keadaan seorang yang menahan diri lantaran kenyang atau kekurangan adalah sebagaimana keadaan orang yang menahan untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan yang mempengaruhi (membedakannya) hanyalah tujuan dan niat yang ada dalam hati.
Adapun shalat, haji, zakat adalah amalan-amalan badan yang zhahir, dimungkinkan padanya adanya riya’ (perbuatan yang ingin dilihat orang, pent.) dan sum’ah (perbuatan ingin didengar oleh orang, pent.). Oleh karena itu puasa dikhususkan penyebutannya daripada amalan lainnya.”
Dan yang lebih diutamakan dari hal yang diatas adalah keutamaan yang khusus yang adai pada bulan Ramadhan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. (Muttafaqun alaihi)
Dan beliau bersabda :

شَهْرُ الصَّبْرِ وَ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ

“Bulan kesabaran, dan (puasa) tiga hari pada setiap bulan adalah (sepadan dengan) puasa sepanjang masa“.
Diriwayatkan oleh Iman Nasai (4/218), Imam Ahmad (2/263,384), Imam at-Thoyalisi (310), Imam al-Baihaqi (4/293) dari Abu Hurairah dengan sanad yang shahih.
Yang dimaksud dengan bulan kesabaran adalah bulan Ramadhan.
Berkata Ibnu Abdil Bar : Puasa dalam Lisanul Arab diartikan dengan kesabaran

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب ٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas“. (Surat Az Zumar : 10).
Abu Bakar Ibnu al-Anbari berkata : “Puasa identik dengan sabar, karena menahan jiwa dari makan, minum, jima’ dan syahwat (nafsu).”
Yang kedua : shalat tarawih
Shalat tarawih sunnah dikerjakan berjama’ah sepanjang malam bulan Ramadhan yang diberkahi, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

إِنَّهُ مَنْ قاَمَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفُ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya barang siapa yang shalat tarawih bersama imam, hingga imam berpaling (selesai), dituliskan baginya shalat sepanjang malam“. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasai, Imam Ibnu Nashr, dari Abu Dzar dengan sanad shahih.
Dan tentang keutamaannya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan dengan (penuh) keimanan dan mengarapkan pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Adapun petunjuk yang paling sempurna tentang jumlah bilangan (rakaat) shalat malam, baik di bulan Ramadhan atau selainnya adalah 11 rakaat, selaras dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih, karena beliau adalah contoh dan qudwah (teladan) yang sempurna.
Yang Ketiga : Sedekah
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling dermawan di bulan Ramadhan.”(Muttafaqun alaihi)
Dan kedermawanan beliau tersebut meliputi seluruh bentuk sedekah, dan amalan-amalan yang baik, dimana arti dermawan adalah : luas dan banyaknya pemberian, dan ini meliputi amalan-amalan kebajikan, serta perbuatan-perbuatan yang ma’ruf.
Yang Keempat : Memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa.
Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menganjurkan dan menetapkan atas hal tersebut (memberi buka), dengan banyak dan besarnya ganjaran (pahala).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كاَنَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa memberi buka orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala puasa orang yang berpuasa itu sedikitpun.”
(HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dari Zaid bin Khalid dengan sanad sahih)
Yang kelima : Membaca al Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an, yang demikian sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدَى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتِ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَان

“Bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda” (QS Al-Baqarah : 185)
Dalam perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terdapat pengamalan akan hal ini. Bahwasanya Jibril mengajari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Al-Qur’an pada setiap malam di bulan Ramadhan (HR Bukhari)
Yang keenam : Umrah
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda :

عُمْرَة فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي

” Umrah di bulan Ramadhan menyamai (pahala) seperti haji bersamaku”.
Lihatlah -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kalian- pada keutamaan ini, alangkah besar dan mulianya.
Yang ketujuh : Mencari malam Lailatul qadar 1
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدَرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدَرِ لَيْلَةُ الْقَدَرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Qur’an pada lailatul qadr, dan tahukah kamu apakah lailatul qadr itu? lailatul qadr itu lebih baik dari seribu bulan” (QS Al-Qadr : 1-3)
Dalam Shahihain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ قاَمَ لَيْلَةُ الْقَدَرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa bangun pada malam lailatul qadar dengan iman dan mengharap pahala (di sisi Allah) diampuni dosanya yang telah lalu”.
Ketahuilah, malam lailatul qadar itu terdapat pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari akhir dari bulan Ramadhan.
Dari ‘Aisyah dalam hadits yang diriwayakan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad yang shahih ia berkata :

ياَ رَسُوْلَ اللهِ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدَرِ مَا أَقُوْلُ ؟ قاَلَ : قُوْلِي اللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Rasulullah jika saya mendapatkan lailatul qadar apa yang aku ucapkan? beliau bersabda, katakanlah : “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan menyukai maaf, maka maafkanlah aku”.
Maka inilah -wahai saudara seislam- ringkasan perkataan dan akhlak-akhlak yang seyogyanya dilakukan dan menjadi tugas-tugas syar’i dalam bulan yang diberkahi ini. Adapun tugas-tugas yang menyeluruh yang wajib dijaga oleh seorang muslim pada bulan kesabaran ini, yaitu menahan diri dari kejelekan-kejelekan, sabar atas gangguan-gangguan dan menjaga batin serta menunaikan amalan dhahir dengan iltizam (komitmen) dengan hukum-hukum Islam dan senantiasa meneladani sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Dialihbahasakan dari Majalah Al-Ashalah edisi III hal 70-72 oleh Abu Salma al-Atsariy

Leave a Reply