Tata Cara Menyambut Bulan Ramadhan (Bag. 4)

0 komentar
 

“As Sahuur”

Hikmatus Sahuur : Allah Subhaana wa Ta`ala telah memfardhukan puasa kepada kita sebagaimana telah diwajibkan atas orang orang sebelum kita dikalangan ahlul kitab; Allah Ta`ala berkata :
(ياأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون) البقرة (183)
Artinya : “Hai orang orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang orang sebelum kalian, semoga kalian menjadi orang yang bertaqwa.” Al Baqarah (183).
Waktu dan hukum berpuasa itu sebelumnya sesuai dengan apa yang dituliskan kepada orang orang ahlil kitab, dimana mereka tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan dengan isteri isteri mereka setelah mereka tidur, maksudnya; apabila salah seorang dari mereka telah tidur dan tidak makan sampai malam yang akan datang, demikian juga diwajibkan terhadap kaum muslimin awal awalnya, lalu dimansukh-kan hukumnya, lantas setelah itu Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam memerintahkan ummatnya bersahur sebagai pembeda diantara puasa ummatnya dengan puasa ahlil kitab.
Dari `Amru bin Al `Aash radhiallahu `anhu bahwa Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :
((فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر))
Artinya : “Pembeda diantara puasa kita dengan puasa ahlil kitab adalah makan sahuur.” Hadits ini diriwayatkan oleh : Muslim (1096).

Keutamaannya :
A. As Sahuur makanan yang penuh keberkahan.
Dari Salmaan radhiallahu `anhu berkata : berkata Shollallahu `alaihi wa Sallam :
((البركة فى ثلاثة : الجماعة، والثريد، والسحور))
Artinya : “Keberkatan itu ada pada tiga : Al Jamaa`ah dan Ats sariid serta pada As Sahuur.” Hadits diriwayatkan oleh : At Thobraaniy di “Al Kabiir” (6127), Abu Nu`aiim di “Dzikru Akhbaar Ashbahaan” (1/57) dari jalan Salmaan Al Faarisiy. Berkata Al Haitsamiy di “Al Majma`” (3/151) : “Dan di dalam sanad hadits ini ada seorang rawi Abu `Abdullah Al Bishriy, berkata Adz dzahabiy : Dia tidak dikenal, akan tetapi rawi rawi yang lain adalah tsiqoh seluruhnya.” Dan hadits ini mempunyai syaahid dan jalan Abu Hurairah : Dikeluarkan oleh Al Khathiid di “Maudhi`u Auhaamil Jam`I wat Tafriiq” (1/263). Dan sanadnya hasan sebagai syawaahid.
Dari Abu Hurairah radhiallahu `anhu berkata : berkata Shollallahu `alaihi wa Sallam :
((إن الله جعل البركة فى السحور والكيل))
Artinya : “Sesungguhnya Allah Ta`ala telah menjadikan berkah pada makanan sahuur dan timbangan.” Hadits diriwayatkan oleh Asy Syiiraaziy di “Al Alqaab”-demikian juga di “Al Jaami`us Shoghiir” (1715)-Al Khathiib di “Al Maudhi`u” (1/263) dari jalan Abu Hurairah sesuai dengan sanad yang telah lewat. Hadits ini hasan dengan disokong syawaahid, dan diantara syahidnya hadits yang lalu. Al Manaawiy di “Faidhul Qadiir” (2/223) menjelaskan seolah olah dia tidak menemukan sanad hadits ini !!
Dari `Abdullah bin Al Haarits dari seorang laki laki dikalangan shahabat Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :
دخلت على النبى صلىالله عليه وسلم وهو يتسحر فقال : إنها بركة أعطاكم الله إياها فلا تدعوه
Artinya : “Saya pernah mendatangi Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam ketika dia sedang bersahur, lantas beliau berkata : “Sesungguhnya sahur ini makanan yang penuh berkah yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian maka jangan sekali kali kalian meninggalkannya.” Hadits diriwayatkan oleh An Nasaaiy (4/145), Ahmad (5/270) dengan sanad yang shohih.
Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam juga menamakan makanan untuk sahur ini dengan nama “Al Ghidzaaul Mubaarak” (makanan yang penuh berkah), sebagaimana dijelaskan oleh satu hadits dari jalan Al `Irbaadh ibnu Saariyah dan Abi Ad Dardaa` radhiallahu `anhuma :
((هلم إلى الغذاء المبارك : يعنى السحور))
Artinya : “Mari datanglah kesini untukmenikmati Al Ghidzaai (makanan) Al Mubaarak : maksudnya as sahuur.” Hadits Al `Irbaadh dikeluarkan oleh : Ahmad (4/126), Abu Daawud (2/303), An Nasaaiy (4/145). Berkata As Syaikh `Ali Hasan : Hadits ini shohih. (Shifat Shoum Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam hal. 45).

B. Sesungguhnya Allah Ta`ala dan para malaikat-Nya bershalawat terhadap orang bersahur.
Mudah mudahan diantara keberkatan yang paling besar daripad sahur ialah Allah Ta`ala meliputi orang yang sedang bersahur dengan ampunan-Nya, dan mengucurkan nikmat-Nya atas mereka, kemudian para Malaikat-Nya memohonkan ampunan untuk mereka kepada Allah, mendo`akan mereka semoga diampuni oleh-Nya, semoga mereka menjadi hamba hamba yang dibebaskan oleh Allah Ta`ala dari neraka di bulan Al Quran ini.
Dari Abi Sa`iid Al Khudriy radhiallahu `anhu berkata : berkata Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam :
(السحور أكلة بركة، فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء، فإن الله وملائكته يصلون على المتسحرين)
Artinya : “As Sahur makan yang penuh berkah, jangan kalian sekali kali meninggalkannya walaupun salah seorang kalian cuma meneguk seteguk air, sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersalawat kepada orang orang yang sedang bersahur.” Hadits diriwayatkan oleh An Nasaaiy (4/145), Ahmad (5/270) dengan sanad shohih.
Maka sepantasnya janganlah seorang muslim luput dari balasan yang sangat besar ini dari Rabbir Rahiim, dan sebaik baik makanan sahur ialah At Tamru (kurma).
Berkata Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam :
((نعم سحور المؤمن التمر))
Artinya : “Sebaik-baik sahur seorang mukmin ialah kurma.” Hadits diriwayatkan oleh Abu Daawud (2/303), Ibnu Hibbaan (223), Al Baihaqiy (4/237) dari berbagai jalan, dari Muhammad bin Muusaa dari Sa`iid Al Maqburiy dari Abu Hurairah. Dan sanadnya shohih.
Barang siapa yang tidak mendapatkan kurma maka hendaklah dia bersahur walaupun dia hanya meneguk seteguk air, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam :
((تسحروا ولو بجرعة ماء))
Artinya : “Bersahurlah kalian walaupun dengan seteguk air.”
Diantara yang disunnahkan oleh Nabi kita Shollallahu `alaihi wa Sallam ketika bersahur ialah dengan cara diakhirkan waktunya, betul betul menjelang masuk waktu subuh, bukan sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakkan orang awam di zaman kita ini, dimana mereka telah menyelisihi sunnah (cara) Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam dalam bersahur. Ada diantara mereka yang bersahur sebelum tidur, dengan dalil takut tidak akan bangun diwaktu sahur, ada yang bersahur pukul dua, tiga, atau empat pagi, cara begini bukan bersahur namanya tapi makan malam, karena apa ? Karena menyelisihi Sunnah (cara) yang telah diamalkan oleh Nabi kita Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam.
Kaum Muslimin rahimakumullah ! ketahuilah bahwa imsakiyah itu adalah perbuatan bid`ah yang benar benar telah menyelisihi sunnah Nabi mereka dalam bersahur. Tidak pernah Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam memerintahkan para shahabat-nya untuk berhenti makan dan minum serta berhubungan suami isteri seperempat atau sepuluh menit sebelum masuk waktu subuh, bahkan kalau kita melihat kepada amalan Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shahabat-nya sangat berbeda sekali dengan amalan kebanyakkan orang awam di zaman kita ini.
“Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam dan Zaid bin Tsabit radhiallahu `anhu pernah bersahur, takkala mereka berdua selesai dari sahurnya, maka berdirilah Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam untuk mendirikan Sholat, adalah jarak waktu yang dipakai oleh mereka berdua untuk bersahur sampai berdiri untuk sholat ukurannya lebih kurang sama dengan seorang laki laki membaca ayat Al Quran sebanyak lima puluh ayat saja.”
Kaum muslimin hadaakumullah ! Kalau kita perhatikan riwayat di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa sunnahnya sahur itu adalah diakhirkan sekali sampai sampai dekat sekali menjelang masuk waktu sholat. Kalau kita bertanya, berapa sih lamanya seseorang membaca lima puluh ayat tersebut ? Apakah dia menghabiskan waktu satu jam, setengah jam? Silahkan kaum muslimin menilainya sendiri !
Sesungguhnya Anas bin Maalik telah meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiallahu `anhu bahwa Zaid telah berkata :
((تسحرنا مع النبى صلىالله عليه وسلم، ثم قام إلى الصلاة، قلت : كم كان بين الأذان والسحور ؟ قال : قدر خمسين آية))
Artinya : “Kami pernah sahur bersama sama dengan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, kemudian beliau berdiri untuk melaksanakan sholat, lantas saya (Anas) bertanya : berapa kira kira jarak antara adzan dan sahur tersebut? Beliau menjawab : lebih kurang selama seseorang membaca lima puluh ayat.” Dikeluarkan oleh Al Bukhariy (4/118), Muslim (1097). Lihat : Shifat Shoum Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, hal. 43-46. Oleh As Syaikh Saliim bin `Iid Al Hilaaliy dan As Syaikh `Ali Hasan.
Di dalam riwayat lain Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :
((إذا سمع أحدكم النداء والإناء فى يده فلا يضعه حتى يقضى حاجته منه))
Artinya : “Apabila salah seorang kalian mendengar adzan (adzan kedua)-sudah masuk waktu subuh, sementara bejana (piring, gelas) ada di tangannya, maka janganlah dia letakkan sampai betul betul dia memenuhi hajatnya dari makanan dan minuman itu.” Hadits dikeluarkan oleh : Abu Daawud (235), Ibnu Jariir (3115), Al Haakim (1/426), Al Baihaqiy (1/218), Ahmad (2/423), dari jalan Hammaad dari Muhammad bin `Amru dari Abi Salamah dari Abi Hurairah. Sanadnya hasan.
Dan hadits ini mempunyai jalan yang lain : Dikeluarkan oleh Ahmad (2/510), Al Haakim (1/203,205) dari Hammaad, dari `Ammaar bin Abi `Ammaar, dari Abi Hurairah. Dengan sanad yang shohih.
Dan ada riwayat yang lebih kuat lagi menyokong pandangan ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umaamah radhiallahu berkata :
((أقيمت الصلاة والإناء فى يد عمر، قال : أشربها يا رسول الله ؟ قال : نعم. فشربها))
Artinya : “Iqomah sudah dikumandangkan, sedangkan bejana ada di tangan `Umar, lalu dia berkata : Saya minum air ini Ya Rasulullah ! Rasulullah menjawab : Benar. Maka `Umar langsung meminumnya.” Dikeluarkan oleh Ibnu Jariir (2/102) dari dua jalan.
Kaum muslimin rahimakumullah ! Dari riwayat riwayat ini jelas bagi kita tentang bid`ahnya imsakiyah/membunyikan serinai sebagai tanda waktu imsak sudah masuk agar kaum muslimin berhenti dari makan dan minum, serinai ini dibunyikan dan disiarkan keseluruh kota sebelum terbit fajar (masuk subuh) dengan dalih untuk berhati hati dari masuk waktu fajar. Sekali lagi ini merupakan perbuatan bid`ah yang menyelisihi sunnah Nabi kita Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam.
Berkata Al Imam Al Haafidz Ibnu Hajar rahimahullah di “Al Fath” (4/199) : “Diantara bid`ah bid`ah yang munkar yang diamalkan pada zaman ini adalah mengerjakan adzan yang kedua sebelum masuk waktu fajar (sholat shubuh) lebih kurang seperempat jam di bulan ramadhan serta memadamkan seluruh lampu lampu yang dijadikan sebagai tanda haramnya makan dan minum bagi yang ingin melaksanakan puasa, dengan da`waan dalam rangka berhati hati dalam beribadat, tidak mengetahui hal yang demikian kecuali sebagian kecil dari manusia, sampai sampai perbuatan demikian menggiring mereka untuk tidak melakukan adzan kecuali setelah matahari tenggelam beberapa waktu-mereka mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur, ini merupakan bentuk amalan yang menyelisihi sunnah, oleh karena itu sedikit sekali kebajikan pada mereka dan banyak kerusakan, Allahu Musta`aan.”
Ma`aasyiral muslimin rahimakumullah ! Demikian juga kalau kita melihat kembali cara Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shahabat-nya berbuka, apakah seperti kebanyakan masyarakat `awam pada zaman kita sekarang ini?? Dimana kita menyaksikan cara mereka berbuka adalah dengan mengikuti dan mendengarkan serentetan acara yang sudah diolah sedemikian rupa yang akhirnya mereka tetap menunggu beduk dan serinai barulah mereka melaksanakan berbuka walaupun matahari sudah tenggelam sekian lama namun karena sudah dikomandokan dengan sistim serinai maka mereka tidak akan berbuka kecuali apabila betul betul sudah mendengar bunyi serinai itu.
Kalau melihat hadits hadits Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam yang menjelaskan kepada kita tentang tata cara beliau berbuka sangat jauh berbeda dengan apa yang sudah di`amalkan oleh masyarakat `awam sekarang ini; seperti dijelaskan dalam satu hadits dikeluarkan oleh `Abdur Razaaq di “Al Mushannaf” (7591) dengan sanad dishohihkan oleh Al Haafidz di “Al Fath” (4/199) dan Al Haitsamiy di “Majmu`uz Zawaaid” (3/153) dari jalan `Amru bin Maimuun Al Audiy berkata :
((كان أصحاب محمد صلىالله عليه وسلم أسرع الناس إفطارا وأبطأهم سحورا))
Artinya : “Adalah shahabat Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam manusia yang menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur.”

Diantara hikmah disegerakan berbuka ialah :
1. Menyegerakan berbuka mendatangkan kebajikan.
Dari Sahal bin Sa`ad radhiallahu `anhu bahwa Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :
((لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر))
Artinya : “Senantiasa manusia itu berada dalam kebajikan apabila mereka menyegerakan berbuka.” Diriwayatkan oleh Al Bukhariy (4/173), Muslim (1093).
2. Menyegerakan berbuka merupakan Sunnah Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam.
Apabila ummat Islam selalu menyegerakan berbuka berarti mereka telah memelihara Sunnah Nabi mereka Shollallahu `alaihi wa Sallam dan cara orang orang sholih (As Salafus Sholih) mereka, dan sudah tentu mereka tidak akan sesat selagi mereka gigit sunnah itu dengan gigi geraham mereka, dan menolak seluruh bentuk amalan yang menyelisihi sunnah tersebut.
Dari Sahal bin Sa`ad radhiallhu `anhu bahwa Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :
((لا تزال أمتى على سنتى ما لم تنتظر بفطرها النجوم))
Artinya : “Senantiasa ummat saya berjalan di atas sunnah saya selagi mereka tidak menunggu terbitnya bintang untuk berbuka.” Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan (891) dengan sanad yang shohih, ashal hadits ini di dalam kitab “As Shohihain” (Al Bukhariy dan muslim). As Syaikh `Ali Hasan dan Saliim Al Hilaaliy berkata : “Demi sesungguhnya orang orang Syi`ah dan Raafidhoh betul betul telah mengikuti cara orang orang Yahudi dan Nashraniy dimana mereka telah mengakhirkan berbuka mereka sampai terbit bintang.” Semoga Allah Ta`ala melindungi kita dari kesesatan mereka.
3. Menyegerakan berbuka merupakan bentuk penentangan terhadap jalan orang orang yang dimarahi (Al Yahudiy) dan disesatkan (An Nashraaniy) oleh Allah Ta`ala.
Dari Abu Hurairah radhiallahu `anhu : bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :
((لا يزال الدين ظاهرا ما عجل الناس الفطر، لأن اليهود والنصارى يؤخرون))
Artinya : “Senantiasa Din (Agama) ini zhohir (nampak) dihadapan manusia selagi mereka menyegerakan berbuka, sebab orang orang Yahudi dan Nashraaniy selalu mengakhirkannya.” Diriwayatkan oleh Abu Daawud (2/305), Ibnu Hibbaan (224) dengan sanad yang hasan.
Dijelaskan juga dalam satu riwayat bahwa shahabat Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam betul betul telah mencocokan perkataan mereka dengan perbuatan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam; “sesungguhnya Abu Sa`iid Al Khudriy berbuka ketika terbenamnya lingkaran matahari.” Dikeluarkan oleh Al Bukhariy (4/196, mu`allaq), Ibnu Abi Syaibah di “Al Mushannaf” (3/12, maushul), Sa`iid bin Manshuur sebagaimana dijelaskan dalam “Al Fath” (4/196), `Umdatul Qaariy” (9/130), lihat “Taghliiqut Ta`liiq” (3/195). (Shifat Shoum, hal. 41).
Apa yang diucapkan ketika sedang berbuka ??
Kaum Muslimin rahimakumullah ! semoga Allah memberikan taufiq buat kita seluruhnya sudah tentu dengan cara meng-ikuti sunnah (cara) Nabi kita Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam, dimana setiap orang yang berpuasa memiliki do`a yang mustajab ketika sedang berbuka, pergunakanlah kesempatan emas tersebut, berdo`alah kepada Allah Ta`ala dengan meyakini dengan seyakin yakinnya Allah akan mengabulkannya- sebab Allah Ta`ala tidak mengabulkan do`a dari hati hati yang lalai, mintalah kepada Allah tentang kebajikan di dunia dan akhirat.
Dari Abu Hurairah radhiallahu `anhu berkata : berkata Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam :
((ثلاث دعوات مستجابات : دعوة الصائم، ودعوة المظلوم، ودعوة المسافر))
Artinya : “Tiga macam do`a yang dikabulkan oleh Allah : Do`a seorang yang sedang berpuasa, do`a orang yang didzolimi, do`a seorang musaafir.” Do`a yang mustajab yang tidak ditolak ini adalah ketika sedang berbuka, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang lain dari jalan Abi Hurairah juga; dari Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam :
((ثلاث لا ترد دعوتهم : الصائم حين يفطر، والإمام العادل، ودعوة المظلوم))
Artinya : “Tiga golongan do`a mereka tidak ditolak oleh Allah Ta`ala : Seorang yang sedang berpuasa ketika dia berbuka, pemimpin yang `adil, dan do`a orang yang didzolimi.” Diriwayatkan oleh At Tirmidziy (2528), Ibnu Maajah (1752), Ibnu Hibbaan (2407).
Do`a yang paling afdhol diucapkan oleh yang sedang berbuka ialah do`a telah diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam kepada para shahabat-nya yaitu :
((ذهب الظمأ وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله))
Artinya : “Telah hilang rasa haus dan telah basah urat urat, serta tetaplah pahala dari Allah Insya Allahu.” Dikeluarkan oleh Abu Daawud (2/306), Al Baihaqiy (4/239), Al Haakim (1/422), Ibnu Sunniy (128), An Nasaaiy di “`Amalul Youm” (269), Ad Daaruqutniy (2/185), berkata dia : “sanadnya hasan”. Dan berkata As Syaikh Saliim dan `Ali Hasan : sanadnya sebagaimana yang dikatakan olehnya. Lihat : Shifat Shoum Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, hal. 62-68.

Sumber : Buletin Jum’at Ta’zhim As-Sunnah Edisi 29 Ramadhan 1429 H atau klik di sini, Penulis : Al-Ustadz Abul Mundzir Dzul-Akmal As-Salafy

Leave a Reply