Risalah Ringkas Pembatal Puasa

0 komentar
 

Oleh: Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu
Asy-Syaikh ditanya: Hal apa saja yang dapat membatalkan puasa?
Beliau menjawab:
Hal yang dapat membatalkan puasa ada tiga yang tersebut dalam Al-Qur’an, yaitu: makan, minum dan jima’. Dalilnya:
“Maka sekarang gaulilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam yaitu fajar shadiq. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga datang malam.” (Al-Baqarah: 187)
Maksud dari makan dan minum di sini sama saja apakah halal atau haram. Baik itu bermanfaat maupun bermadharat, banyak atau sedikit. Oleh sebab inilah menghisap rokok membatalkan puasa, di samping itu ia membawa madharat dan haram. Sampai para ulama mengatakan, walaupun seseorang itu menghisap rokok dengan sekali hisapan maka puasanya batal. Dalam keadaam satu hisapan tadi tak bermanfaat bagi badan. Dari itulah dianggap sebagai pembatal puasa. Jikalau ia mencicipi suatu adonan yang tercampur dengan najis, maka puasanya batal di samping hal itu bermadharat.
Yang ketiga yaitu jima’ dan ini merupakan pembatal puasa yang paling keras. Dikarenakan wajibnya kafarah bagi pelakunya di siang hari pada bulan Ramadhan. Adapun kafarahnya ialah membebaskan budak. Jika ia tidak mampu atau tidak mendapatkannya, maka wajib baginya berpuasa dua bulan berturut-turut. Dan jika tidak mampu juga, maka wajib memberi makan 60 orang fakir miskin.
Yang keempat, keluarnya mani yang disertai dengan rasa nikmat. Jika seseorang mengeluarkan maninya dengan disertai rasa nikmat (bukan dalam mimpi), maka puasanya batal. Akan tetapi tak ada kafarah baginya. Sebab kafarah khusus untuk jima’ saja.
Yang kelima, suntikan yang digunakan sebagai penambah energi dimana infus ini sebagai penambah tenaganya. Adapun suntikan yang disuntikkan bukan sebagai penambah energi, maka puasanya tidak batal, baik disuntikkan melalui pembuluh darahnya maupun ototnya. Karena bukan sebagai makanan atau minuman dan tidak pula semakna dengan makanan atau minuman.
Yang keenam, muntah dengan sengaja. Jika seorang muntah dengan sengaja maka batal puasanya. Jika muntahnya tidak bisa ditahan, maka tak ada kafarah untuknya.
Yang ketujuh, keluarnya darah haid dan nifas. Jika seorang wanita haid atau nifas, walaupun sesaat sebelum Maghrib maka batal puasanya. Dan jika darah haid atau nifas itu keluar sesaat setelah Maghrib, maka sah puasanya.
Yang kedelapan, keluarnya darah dengan cara dibekam. Berdasar dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam,
“Telah batal orang yang dibekam dan yang membekam.” (HR. Abu Dawud no. 2367)
Jika seseorang berbekam dan nampak darahnya, maka batal puasanya dan juga rusak/batal puasa orang yang membekamnya. Jika pembekaman itu dilakukan sesuai dengan cara yang telah dikenal pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, yaitu orang yang membekam menghisap darah dengan botol yang dilekatkan di badan orang yang dibekam. Adapun jika berbekam dengan perantara suatu alat yang terpisah dari orang yang membekam, maka yang dibekam batal puasanya dan yang membekam tidak batal puasanya.
Jika hal-hal yang membatalkan puasa ini dilakukan oleh orang yang berpuas yang merupakan kewajiban di siang hari di bulan Ramadhan, maka terkena baginya empat perkara. Yaitu: dosa, batal puasanya, wajib baginya untuk menahan waktu yang selebihnya (tetap melanjutkan puasanya hingga terbenam matahari) dan wajib baginya untuk mengganti puasanya. Jika puasa ini batal karena jima’, maka dia terkena perkara kelima, yaitu membayar kafarah.
Akan tetapi wajib untuk kita ketahui bahwa pembatal-pembatal puasa ini tidaklah merusak puasa seseorang (membatalkannya) kecuali dengan tiga syarat: – Dalam keadaan dia berilmu, artinya tahu bahwa ini adalah pembatal puasa. – Dalam keadaan dia ingat, tidak lupa.
- Dalam keadaan dia memiliki keinginan.
Jika seseorang yang puasa ini mendapati salah satu dari pembatal-pembatal ini dalam keadaan dia jahil maka puasanya sah, baik dia tidak tahu waktunya atau hukumnya. Contoh seseorang yang tidak mengengetahui waktu: Seorang bangun di akhir malam dan dia menyangka bahwa fajar shadiq belum terbit, lalu dia makan dan minum, ternyata jelas baginya bahwa fajar shadiq telah terbit, maka puasanya sah karena dia tidak tahu atau menganggap bahwa fajar belumlah terbit. Contoh orang yang jahil tentang hukumnya: Seseorang yang puasa dan dia berbekam bersamanya, dia tidak tahu jika berbekam itu termasuk pembatal puasa, maka dinyatakan padanya bahwa puasamu sah. Dalil dalam hal ini ialah firman Allah:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah (tidak sengaja).” (Al-Baqarah: 286)
Dan ini dalil dari Al-Qur’an.
Dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Hadits Asma’ binti Abu Bakr yang diriwayatkan Bukari dalam Shahih-nya (no. 1959). Asma’ berkata, “Kami pernah berbuka puasa dalam keadaan hari mendung (matahari tertutup awan) pada jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kemudian setelah itu matahari muncul.”
Ini berarti mereka berbuka di siang hari. Akan tetapi mereka dalam keadaan tidak mengetahuinya, bahkan menyangka bahwa matahari sudah terbenam. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tidak memerintahkan untuk mengganti puasa mereka. Jika mengganti puasa ketika itu wajib, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam akan memerintahkan kepada mereka. Dan seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkannya kepada mereka pasti akan dinukilkan kepada kita atau beritanya sampai kepada kita. Akan tetapi jika seseorang berbuka menyangka bahwa matahari terbenam, lalu nampak baginya matahari belum tenggelam, agar menahan puasanya hingga matahari benar-benar terbenam dan puasanya itu sah.
Syarat yang kedua, seorang itu dalam keadaan ingat dan tidak lupa. Jika seseorang itu lupa bahwa dia sedang berpuasa jika dia makan atau minum maka puasanya sah berdasarkan firman Allah:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah (tidak sengaja).” (Al-Baqarah: 286)
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Barangsiapa yang lupa dalam keadaan ia puasa lalu dia makan dan minum, maka sempurnakanlah puasanya. Karena sesungguhnya Allah memberi ia makan atau minum.” (HR. Muslim no. 2686)
Syarat yang ketiga, adanya keinginan atau kemauan. Jika seseorang yang puasa itu melakukan salah satu pembatal-pembatal puasa ini tanpa kemauan dan usaha dia, maka puasanya sah. Misalnya jika ia sedang berkumur-kumur lalu air itu masuk ke perutnya tanpa keinginan dia, maka puasanya sah. Jika seseorang itu dipaksa oleh suaminya untuk jima’ dan jika tidak mampu untuk mencegahnya (menolak), maka puasanya sah karena bukan kemauan dia. Dalilnya adalah firman Allah terhadap orang yang dipaksa untuk kafir:
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah ia beriman, (ia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang-orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.” (An-Nahl: 106)
Jika dia dipaksa untuk berbuka atau melakukan salah satu pembatal puasa tanpa keinginannya, maka tidak apa-apa baginya dan puasanya tetap sah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: 48 Soal Jawab tentang Puasa Bersama Syaikh Utsaimin karya Syaikh Salim bin Muhammad Al-Juhani, alih bahasa: Khairur Rijal, penerbit: Maktabah Al-Ghuroba, cet. Pertama Sya’ban 1427 H – Agustus 2006, hal. 22-29, dengan sedikit perubahan.-http://fadhlihsan.wordpress.com

Leave a Reply