Pelajaran Penting di Bulan Muharram

0 komentar
 

بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh: Al Ustadz Muhammad Na’im, Lc
Allah Ta’ala telah menjadikan dalam satu tahun itu ada dua belas bulan dengan firman-Nya, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu,dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”. (QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan yang dimuliakan tiga diantaranya berurutan yaitu bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharam (‘Asyura’) serta yang keempat sendiri yaitu bulan Rajab antara Jumada Tsaniyah dengan bulan Sya’ban.
Termasuk kemudahan dari Allah Ta’ala ketika menjadikan Hisab Syar’i Arabi dengan bulan-bulan Qamariyah (mulai dari munculnya hilal atau bulan sabit). Karena hal itu mudah diketahui dan dipahami oleh manusia secara umum yaitu dengan melihat hilal di ufuk barat setelah terbenamnya matahari. Kapan hilal itu terlihat, masuklah ke dalam bulan berikutnya dan usailah hitungan bulan yang lalu. Dari sini kita mengetahui bahwa awal waktu dari hari-hari itu dimulai dengan terbenamnya matahari bukan dengan bergesernya matahari ke arah barat karena awal bulan masuk dengan terbenamnya matahari.
A.        Sejarah Penentuan Bulan Hijriyah
Telah dimulai kalender Hijriyah semenjak masa Umar bin Al-Khathab , ketika beliau mengumpulkan para sahabat pada tahun ke-16 atau ke-17 Hijriyah dan bermusyawarah dengan mereka kapan akan dimulainya awal tahun baru Islam?
Sebagian mengatakan, “Dimulai dari lahirnya Rasulullah ”, sebagian lagi mengatakan, “Dimulai dari diutusnya beliau ”, yang lain mengatakan, “Dimulai dari hijrahnya Rasulullah ”, yang lain mengatakan, “Dimulai dari meninggalnya beliau ”. Namun kemudian Umar  memilih untuk dimulai tahun baru Islam dari hijrahnya Rasulullah , karena memiliki beberapa pertimbangan : 1) Hijrah membedakan antara yang hak dan yang batil, 2) Hijrah merupakan awal membangun kekuatan umat Islam, 3) Hijrah merupakan awal pembentukan negri Islam dengan kekuasaan yang berdiri sendiri.
Kemudian para sahabat yang dikumpulkan oleh Khalifah Umar-pun bermusyawarah untuk menentukan bulan apa dimulainya tahun baru Islam. Sebagian berpendapat untuk dimulai dari bulan Rabi’ul Awal, karena bulan itu Rasulullah  hijrah ke Madinah. Sebagian mengatakan untuk dimulai dari bulan Ramadhan karena bulan itu diturunkannya Al Qur’an. Akhirnya terjadi kesepakatan pendapat antara Umar, Utsman dan Ali  untuk mengawali tahun Hijriyah dengan bulan Muharam karena termasuk bulan yang dimuliakan, yang sebelumnya adalah bulan Dzulhijjah dimana kaum muslimin menunaikan Rukun Islam ke-5 yaitu pergi haji ke Baitullah yang merupakan penyempurna dari Rukun Islam, kemudian bulan berikutnya adalah bulan dimana Rasulullah  membai’at orang-orang Anshar untuk hijrah dan bai’at ini merupakan muqodimah dari hijrahnya Rasulullah , maka yang paling sesuai untuk mengawali Tahun Baru Islam adalah pada bulan Muharram. Bersyukurlah kita sebagai umat Islam yang dalam segala urusan sudah ada aturan dan tuntunan dari Islam termasuk penentuan kalender, maka cukuplah bagi kita bangga dengan apa yang kita miliki tidak perlu mengadopsi dari pihak lain.
B.        Kemuliaan Bulan Muharam
Berkata Al Hafidz Ibnu Katsir -rahimahullah- : Firman Allah : ( فَلاَتَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ  ) yakni bulan-bulan yang dimuliakan karena berbuat dosa pada bulan-bulan itu lebih besar dan lebih jelas dari bulan-bulan yang lain, sebagaimana maksiat di tanah haram juga akan berlipat dosanya, seperti firman Allah,”Dan siapa yang bermaksud di dalamnya malakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)
Demikian pula dengan bulan-bulan haram (Asyhurul hurum) maka berlipat dosa yang dilakukan di dalan bulan-bulan itu.
Berkata Ibnu Abbas , firman Allah : ( إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ الله ) maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, kemudian dikhususkan bulan yang empat itu dan dijadikannya bulan haram, diagungkan kemuliaannya, berbuat dosa pada bulan-bulan itu sangat besar serta amal shaleh di dalamnya dan pahalanya akan berlipat.
Maka bulan Muharam adalah termasuk diantara asyhurul hurum, pembuka bulan dalam satu tahun dan muqodimahnya, di bulan itu Allah Ta’ala memberi pertolongan kepada Nabi Musa  dan kaumnya dari kebiadaban Fir’aun dan tentaranya.
C.        Sunnah Rasulullah  di bulan Muharam
Di sunnahkan pada bulan ini untuk kita berpuasa, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya dari Abu Hurairah  berkata, Rasulullah  telah bersabda , “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah bulan Allah yakni Muharram.”
Dari Ali , seseorang bertanya kepada beliau, “Bulan apa yang engkau perintahkan aku untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan?”  Beliau menjawab, Aku tidak mendengar seseorang bertanya tentang hal ini  kecuali seorang yang mendengar dia bertanya kepada Rasulullah  dan aku ketika itu sedang duduk, kemudian bertanya, “Ya Rasulallah, bulan apa yang engkau perintahkan aku untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan?” Beliau menjawab, ” Jika kamu berpuasa setelah bulan Ramadhan maka puasalah bulan Muharam, maka sesungguhnya itu adalah bulan Allah ta’ala, Allah telah memberi taubat kepada suatu kaum dan akan memberi taubat kepada suatu kaum di bulan ini.” (HR.Tirmidzi dan mengatakan : Hadits hasan gharib)
Dan hari yang paling mulia pada bulan ini adalah hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharam), sebagaimana diriwayatkan dalam shahihain dari Abdullah bin Abbas  berkata, Nabi  datang ke Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ maka beliau bertanya kepada mereka, “Hari apa yang kalian berpuasa ini?”  Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang agung, pada hari ini Allah Ta’ala telah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya maka Nabi Musa ‘alaihissalaam berpuasa sebagai tanda syukur dan kamipun berpuasa.” Maka Nabi  bersabda, ” Kami lebih berhak dan lebih utama dengan Nabi Musa dari pada kalian”.  Maka Nabi  pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa.
Sebagaimana beliau juga memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal sembilan-nya, untuk menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani Ahli Kitab.
Dari Ibnu Abbas  berkata, Telah bersabda Rasulullah , “Jika aku masih hidup sampai tahun yang akan datang, pasti aku akan berpuasa pada tanggal sembilan-nya.” (HR.Muslim)
D.        Beberapa Penyimpangan Yang Terjadi Di Bulan Muharam
Sebagaimana yang dipaparkan di atas, bahwa bulan Muharram termasuk diantara bulan yang dimuliakan, yang semestinya kita sebagai umat Islam memuliakan apa yang telah diagungkan oleh Allah Ta’ala dengan memperbanyak keta’atan kepada-Nya, memperbaiki amalan kita, serta muhasabah dan introspeksi diri dengan hari-hari dan satu tahun yang telah kita lewati, sejauh mana pengabdian dan penghambaan kita kepada-Nya, sejauh mana andil/bantuan kita kepada Islam dan kaum muslimin. Untuk itu perlu kiranya untuk kita menghitung dan menelaah mukhalafat dan penyimpangan yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin pada bulan Muharram ini, diantaranya:
1.         Mengadakan perayaan tahun baru Islam dan malam muhasabah. Hal ini adalah sesuatu yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah  kepada kita. Kalaulah hal itu sesuatu yang baik, pasti Rasulullah  telah memerintahkan kepada para sahabatnya. Tidak ada satupun riwayat dari tiga kurun yang dimuliakan (masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut-tabi’in) mereka melakukannya. Bahkan hal ini merupakan bentuk tasyabuh (menyerupai) dengan orang orang-orang kafir dengan apa yang mereka rayakan dari tahun bari Masehi atau apa yang mereka rayakan dari hari-hari yang mereka anggap sakral dan bermakna. Nabi  bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk dari golongan mereka.” (HR.Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar)
2.         Sangat takut mengadakan walimah dan hajatan serta acara yang semisalnya di bulam Muharram. Masih banyak dari kaum muslimin yang menghindari bulan Muharam ketika hendak mengadakan walimah putra-putrinya ataupun hajat yang lain, dengan keyakinan bahwa bulan Muharram bukanlah hari baik untuk mengadakan hajatan dan mereka beranggapan jika melakukannya di bulan itu akan mendatangkan madharat serta harus siap dengan banyak resiko. Maka ketahuilah bahwa baik dan buruknya sesuatu adalah diukur dengan ketentuan syari’at, namun kebanyakan orang kurang menyadarinya. Allah ta’ala berfirman : “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. “(QS. Al-A’raf: 131)
Firman Allah Ta’ala, “Utusan-utasan itu berkata:”Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”. (QS. Yaasin: 19)
Maka kita lihat orang yang suka tathoyur (meyakini hari baik dan hari buruk/nahas), selalu dalam keadaan gelisah dan tidak tenang, hidupnya terganggu dan tidak percaya diri kepada Allah Ta’ala. Hal ini jika sampai diyakini dalam hati, maka akan membawa  kepada kesyirikan dan menghilangkan kesempurnaan tauhid. Allah Ta’ala menyebutkan dalam ayat di atas bahwa tathoyur bukanlah keyakinan dan sifat orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah Ta’ala, namun hal itu adalah keyakinannya orang-orang musyrik dan sifat dari musuh-musuh para Rasul.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih dari Urwah bin Amir berkata: Disebutkan tentang tayhoyur di hadapan Nabi , maka beliau bersabda, “Lebih baik dengan tafa’ul (prasangka baik kepada Allah), maka jika salah seorang dari kalian mendapatkan apa yang tidak disukainya, hendaknya mengatakan: “Ya Allah, tiada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau dan tiada yang menolak keburukan kecuali Engkau, tiada daya dan kekuatan kecuali bagi-Mu.”
Dari Ibnu Mas’ud  dari Nabi  bersabda, “Tathoyur adalah syirik, tathoyur adalah syirik” (HR.Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
3.         Mengadakan sedekah bumi atau sedekah laut (labuhan). Masih ada dari kaum muslimin yang melestarikan budaya yang syirik ini dengan berkorban sebuah kepala sapi atau kerbau ditambah dengan sesaji yang lain, dengan anggapan bisa terhindar dari mara bahaya. Ketahuilah, sesungguhnya berkurban itu hanyalah untuk Allah Ta’ala dan dalam rangka taqarub mendekatkan diri kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” (QS.Al-An’am: 162)
Dari Ali  berkata, Rasulullah  telah menceritakan kepada kami dengan empat perkara, ” Laknat Allah bagi orang yang menyembelih kurban untuk selain Allah, laknat Allah atas orang yang melaknat kedua orang tuanya, laknat Allah atas orang yang melindungi orang yang berlaku bid’ah dan laknat Allah atas orang yang merubah batas-batas tanah.” (HR. Muslim)
Dari Thoriq bin Syihab, bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang masuk surga karena seeokor lalat dan seorang masuk neraka karena seekor lalat.” Mereka bertanya : Bagaimana itu terjadi ya Rasulallah? Beliau menjawab : “Dua orang lewat pada suatu kaum yang mereka memiliki sebuah patung, tidak boleh seorangpun melewatinya kecuali harus berkurban dengan sesuatu. Mereka mengatakan kepada salah satu dari keduanya : Berkurbanlah!! Dia menjawab : Aku tidak memiliki sesuatu untuk berkurban. Mereka berkata : Berkurbanlah, meskipun hanya dengan seekor lalat. Maka diapun berkurban dengan seekor lalat dan dibebaskan untuk melewati jalan, dan masuk neraka. Mereka berkata kepada yang lain : Berkurbanlah!! Diapun menjawab : Aku tidak pernah berkurban untuk siapapun kecuali hanya untuk Allah ta’ala. Maka dipenggallah lehernya dan masuk sorga.” (HR.Ahmad)
Jika ini terjadi pada orang yang berkurban untuk selain Allah Ta’ala dengan seekor lalat, maka bagaimana dengan orang yang berkurban untuk selain Allah Ta’ala dengan sebuah kepala kerbau atau sapi ? Maka perhatikanlah !!
4.         Melakukan puasa mutih. Yaitu puasa dengan tidak makan nasi atau makanan yang bernyawa selama satu bulan penuh. Hal ini dilakukan oleh sebagian orang Islam dengan keyakinan akan menambah kekayaan atau penglaris dan lain sebagainya. Maka ketahuilah puasa adalah suatu ibadah yang telah ada aturan syarat dan rukunnya, jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi , maka akan tertolak bahkan akan mengarah kepada kesyirikan manakala diniatkan bukan karena Allah Ta’ala. Karena ibadah itu tidak akan diterima oleh oleh Allah Ta’ala, kecuali dengan dua syarat, a)  Ikhlas karena Allah Ta’ala, b) Ada tuntunan dari Rasulullah .
5.         Mengambil barakah kepada selain  Allah Ta’ala. Hal ini merupakan kebiasaan orang-orang musyrik jahiliyah ketika mereka mengagungkan Latta, Uzza dan Manat.
Dari Abi Waqid Al Laitsi d berkata, “Kami keluar bersama Nabi  ke Hunain, kami ketika itu baru masuk Islam dan orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon bidara yang mereka bersemedi di bawahnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka, yang diberi nama dengan Dzatu Anwath (pohon gantungan). Kami melewati pohon tersebut dan kami mengatakan, “Ya Rasulallah, jadikanlah untuk kami Dzatu Anwath senbagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath”. Rasulullah  bersabda, “Allahu Akbar!! Sesungguhnya itu adalah sunnah-sunnah (orang-orang musyrik), demi Dzat Yang aku ada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan apa yang dikatakan oleh Bami Isra’il terhadap Nabi Musa : “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”. Pasti kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian. “  (HR.Tirmidzi dan disahihkannya)
Jika hal ini dikatakan sebagai kebiasaan orang-orang musyrik dan orang-orang jahiliyah juga Bani Isra’il umat Nabi Musa, maka jika umat ini melakukannya, berarti telah menyerupai dan sama dengan mereka. Maka apalah artinya mengucapkan dua kalimah syahadat, jika disisi lain melakukan hal-hal yang membatalkannya ?? Bagaimana dengan mereka yang mengambil barakah kepada penghuni kubur, pohon-pohonan, batu-batuan, binatang dan orang yang yang dianggap shalih ?!! Sungguh hal itu merupakan perbuatan yang mengundang murkanya Allah ta’ala serta bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam tanpa disadari oleh pelakunya. Allaahul Musta’aan wa ‘alaihi tuklan…..
http://almadinah.or.id/388-pelajaran-penting-di-bulan-muharram.html

Leave a Reply