Kisah Pedagang Kambing

0 komentar
 

Setelah melayani pembeli, Asep menghampiri seorang ibu. Dari penampilan nya, tampaknya dia tidak akan membeli. Iseng-iseng Asep menawarkan : “Silahkan Bu.."
“Kalau yang itu berapa Bang?” Ia menunjuk Kambing yg paling murah.
"Yang itu 600 ribu, Bu"
"Harga pasnya berapa?"
"500 ribu deh. Harga segitu untung saya kecil Bu, tapi biarlah.."
“Uang saya cuma 450 ribu, boleh nggak?”.
Waduh, Asep membatin: "Itu harga modalnya."
Lalu ia berujar: "Biarlah..”
Asep pun mengantar Kambing itu. Ketika sampai di rumah sang pembeli, ia  terkejut!  Astaghfirullaah al 'azhim. Allaahu Akbar !"
Terasa mengigil seluruh badan Asep ketika melihat keadaan rumah ibu tadi. Dia tinggal bertiga dgn emak dan satu orang anaknya di rumah gubuk berlantai tanah.
Asep  tidak melihat tempat tidur dan kasur. Yang ada dipan kayu beralas tikar lusuh. Di atas dipan, tidur seorang nenek tua kurus.
“Mak ... bangun Mak. Lihat Umi bawa apa nih," perempuan tua itu terbangun.
"Umi udah beli kambing qurban buat Emak. Nanti kita bawa ke Masjid ya Mak..."
Orang tua itu kaget.  Sorot mata bahagia nampak. Sambil mengelus-sang kambing, orang tua itu berucap,  "Alhamdulillaah .. akhirnya kesampean juga niat emak untuk berqurban..."
“Ini uangnya, Bang. Ma'af ya kalau saya nawarnya kemurahan.  Saya cuma kuli nyuci. Saya sengaja ngumpulin uang buat beli kambing yang saya niatin buat qurban emak saya"
Asep berucap: Ya Allah,  ampuni dosa hamba. Hamba malu berhadapan dgn hamba-MU yg satu ini. Hamba-MU yg miskin harta tapi dia Kaya Iman.
Seperti bergetar bumi ini setelah Asep mendengar kalimat dari sang ibu itu. "Bang ini ongkos bajajnya.!" katanya.
“Sudah bu, biar ongkos bajaj saya yg bayar," tuturnya.
Ia cepat-cepat pergi sebelum ketahuan sembab matanya karena tak sanggup mendapat "teguran" dari Allah Subhanna hu wataaalla. 
http://sabili.co.id

Leave a Reply