Ahkam Al-Udhhiyah

0 komentar
 

Ahkam Al-Udhhiyah (Sembelihan Kurban)
Definisi Udhhiyah:Udhhiyah adalan nama hewan yang akan disembelih, yaitu hewan tertentu yang dikhususkan untuk disembelih dengan niat taqarrub kepada Allah yang dilakukan pada waktu tertentu -yaitu pada tanggal 10 Zulhijjah dan ketiga hari tasyriq-, dengan syarat-syarat tertentu pula. Lihat: Tanwir Al-Ainain hal. 314
Hukumnya:Kaum muslimin sepakat akan disyariatkannya berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34)
Mereka hanya berbeda pendapat apakah hukumnya wajib ataukah sunnah?
Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat Abu Bakar, Umar, Abu Mas’ud Al-Badri, Bilal, Suwaid bin Ghaflah, Said bin Al-Musayyab, Asy-Sya’bi, Said bin Jubair, Al-Hasan, Thawus, Jabir bin Zaid, Abu Asy-Sya’tsa`, Muhammad bin Ali bin Al-Husain, Alqamah, Al-Aswad, Atha`, Sufyan, Abdullah bin Al-Hasan, Abu Yusuf, Malik, Asy-Syafi’i, Al-Muzani Ahmad, Abu Sulaiman Daud bin Ali, Ishaq, Abu Tsaur, Daud, dan Ibnu Al-Mundzir. Lihat Al-Mughni (11/94), Al-Majmu’ (8/385) dan Al-Muhalla (7/358).
Mereka berdalil dengan beberapa dalil di antaranya:
1.    Hadits yang shahih dari seluruh jalan-jalannya dimana disebutkan bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- menyembelih dua ekor domba: Salah satunya untuk beliau dan keluarga beliau dan yang satunya untuk umat beliau. Datang dari hadits Jabir riwayat Abu Daud (2795,2810), At-Tirmizi (1521), Ibnu Majah (3121), Ahmad (3/356,362,375) dan selainnya, juga datang dari hadits Ibnu Umar riwayat At-Tirmizi (1506) dan Ibnu Majah (3124), juga dari hadits Abu Rafi’ riwayat Al-Hakim (4/229) dan selainnya, juga hadits Abu Thalhah riwayat Ibnu Abi Syaibah, sebagaimana dalam Al-Mathalib (2323), juga hadits Aisyah riwayat Abu Daud (2792), Ahmad (6/78), dan selainnya, dan juga dari hadits Abu Said riwayat Al-Hakim (4/228) dan selainnya.
Sisi pendalilannya: Barangsiapa di antara umat beliau yang tidak menyembelih maka sembelihan beliau sudah mencukupinya. Ini menunjukkan umat beliau sudah tidak wajib lagi untuk menunaikan udhhiyah, tapi tetap disunnahkan. Demikian disebutkan dalam Syarh Az-Zarkasyi (8/386)
2.    Hadits Ummu Salamah, bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:
إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ, فَلاَ يَمُسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Jika sepuluh hari pertama Zulhijjah telah masuk dan salah seorang di antara kalian ingin menyembelih maka jangan dia mencabut rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1977 dan selainnya)
Sisi pendalilan: Beliau mengaitkan hukum udhhiyah dengan keinginan seseorang dan ini menunjukkan sunnahnya, karena pelaksanaan sebuah kewajiban tidaklah ditentukan oleh keinginan hamba.
Adapun dalil-dalil yang memerintahkan udhhiyah maka: Ada yang tidak shahih, ada yang shahih tapi tidak tegas menunjukkan wajibnya, dan ada yang shahih dan tegas memerintahkan akan tetapi perintahnya dipalingkan kepada makna sunnah dengan kedua dalil di atas, wallahu a’lam.
[Lihat Al-Mughni (11/94) dan Al-Muhalla (7/355-358)]
Mana yang Afdhal, Udhhiyah atau Bersedekah Dengan Harganya (Uang)?
Udhhiyah lebih afdhal karena itulah yang dikerjakan oleh Rasululah -alaihishshalatu wassalam- dan kaum muslimin sepeninggal beliau. Ini adalah pendapat Rabiah guru Imam Malik, Abu Az-Zinad, Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan selainnya.
Hanya saja Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Jika kaum muslimin terdesak sehingga mereka sangat membutuhkan sedekah, maka dalam keadaan seperti bersedekah lebih afdhal.” (Asy-Syarhul Mumti: 7/521-522)
[Lihat: Al-Majmu’ (8/425) dan Al-Mughni (11/95)]
Hewan Apa yang Disembelih?
Para ulama sepakat bahwa yang disembelih adalah bahimah al-an’am (hewan ternak) berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 28) dan ayat 34 di atas.
Yang dimaksud dengan ‘bahimah’ di sini adalah: Onta, sapi/kerbau, dan kambing/domba/biri-biri. Maka tidak termasuk darinya: Rusa/kijang, kuda, itik, ayam, burung, dan selainnya selain ketiga hewan di atas.
Kata ‘al-an’am’ artinya hewan yang diternakkan, maka dikecualikan darinya semua hewan yang tidak diternakkan atau hewan liar, walaupun dia berupa sapi atau kambing.
Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai keabsahan udhhiyah pada selain bahimah al-an’am. Mayoritas ulama berpendapat tidak syahnya udhhiyah selain dari ketiga hewan di atas. Inilah pendapat yang kuat yang merupakan pendapat Imam Empat kecuali Imam Ahmad. Maka yang boleh disembelih hanyalah onta ternak (bukan yang liar) dengan semua jenisnya, sapi/kerbau ternak dengan semua jenisnya, dan kambing ternak dengan semua jenisnya, tidak syah dengan selain ketiga hewan ternak ini. Karenanya tidak pernah ternukil dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- dan para sahabat mereka pernah menyembelih selain ketiga hewan ini.
[Lihat: Al-Majmu’ (8/393), Badai’ Ash-Shanai’ (5/104), dan Al-Muhalla (7/370)]
Udhhiyah yang afdhal.
Yang paling afdhal adalah yang lebih mahal dan lebih berharga bagi pemiliknya. Karenanya menyembelih onta lebih afdhal daripada sapi dan sapi lebih utama daripada kambing. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Hanya saja ini berlaku jika satu onta atau sapi mewakili satu orang, adapun jika satu ekor onta atau sapi untuk tujuh orang sedang kambing untuk satu orang, maka yang lebih utama adalah satu kambing untuk satu orang.
Kesimpulannya: Yang terbaik adalah onta kemudian sapi kemudian kambing kemudian stau onta untuk tujuh orang kemudian satu sapi untuk tujuh orang. Yang jantan afdhal dari yang betina, yang gemuk afdhal dari yang kurus, dan yang bertanduk afdhal dari yang tidak. Lihat Al-Muhalla (7/372)
Beberapa Hukum Seputar Udhhiyaha.    Tidak boleh menjual kulitnya, bulunya, susunya, dan dagingnya.
Ibnu Rusyd berkata, “Para ulama sepakat -sepanjang pengetahuan saya- akan tidak bolehnya menjual dagingnya. Mereka berbeda pendapat mengenai kulitnya, bulunya, dan bagian lainnya yang bisa dianfaatkan (apakah bisa dijual)? Mayoritas ulama berpendapat tidak bolehnya.” Selesai yang diinginkan dari As-Subul (4/177)
Kami katakan: Khusus untuk kulitnya, jika dia menjualnya maka hasil penjualannya harus dia sedekahkan, wallahu a’lam.
[Lihat: Al-Umm (2/351) dan Al-Majmu’ (8/419-420)]
b.     Hukum mengganti hewan udhhiyah.
Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (7/509) menguatkan pendapat mayoritas ulama yang berpendapat bolehnya mengganti udhhiyah dengan yang lebih baik daripada sebelumnya. Tidak boleh menggantinya dengan yang lebih rendah nilainya, sedangkan menggantinya dengan yang semisalnya adalah perbuatan sia-sia.
c.    Tidak boleh memberi upah kepada tukang potong/sembelih dengan daging udhhiyah. Ini berdasarkan hadits Ali -radhiallahu anhu- beliau berkata:
وَأَمَرَنِي أَنْ لاَ أُعْطِيَ الجَزُوْرَ مِنْهَا شَيْئًا وَقَالَ: نَحْنُ نُعْطِيْهِ مِنْ عِنْدِنَا
“Dan beliau memerintahkan saya untuk tidak memberikan dagingnya sedikitpun kepada tukang potong dan beliau bersabda, “Kami akan memberikan upahnya dari harta kami.” (HR. Mslim no. 1317)
Tapi jika dia adalah orang miskin maka tidak mengapa memberikan daging udhhiyah disamping dia juga berhak menerima upah pekerjaannya.
d.    Jika dia sudah membeli dan menetapkan mana hewan udhhiyahnya, lalu dia kembali menjualnya maka Imam Asy-Syafi’i menyatakan kalau jual belinya tidak syah dan dia harus menarik kembali udhhiyah tersebut dan mengembalikan uang kepada pembelinya.
Masalah Aib/Cacat Pada Udhhiyah
Al-Barra` bin Azib berkata, “Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- ditanya tentang hewan yang harus dijauhi dalam udhhiyah. Maka beliau menjawab:
أَرْبَعًا: اَلْعُرْجَاءَ الْبَيِّنَ ضَلْعُهَا, وَالْعَوْرَاءَ الْبَيِّنُ عَوْرُهَا, وَالْمَرِيْضَ الْبَيِّنَ مَرَضُهَا, وَالْعُجْفَاءَ الَّتِى لاَ تَنْقَى
“Ada empat: Pincang yang jelas kepincangannya, aura` (rusak sebelah matanya) yang jelas a’warnya, sakit yang jelas sakitnya, dan kurus yang tidak mempunyai sum-sum.” (HR. Abu Daud no. 2802, At-Tirmizi no. 1497, An-Nasai no. 4369-4371, dan Ibnu Majah no. 3144)
Imam Ibnu Qudamah menukil ijma’ dalam Al-Mughni (11/100) akan tidak syahnya udhhiyah yang mempunyai salah satu dari cacat di atas.
a.    Yang dimaksud dengan pincang di sini adalah kepincangan yang parah lagi jelas sehingga dia tidak bisa menyusul teman-temannya menuju makanan, yang menyebabkan dagingnya/berat badannya berkurang. Jika kepincangannya tidak sampai pada keadaan di atas maka syah menyembelih dengannya. (Al-Mughni: 11/100)
b.    Yang dimaksud dengan a’war di sini adalah kerusakan yang nampak/kentara pada salah satu atau kedua matanya. Adapun jika salah satu matanya tidak melihat akan tetapi matanya kelihatan normal/tidak ada kelainan pada bentuknya, maka tidak mengapa menyembelihnya, demikian pula jika pada matanya ada sesuatu yang putih akan tetapi tidak menghilangkan penglihatannya maka syah menyembelihnya. Dari sini dipetik lebih tidak bolehnya menyembelih hewan yang hilang biji matanya dan tidak pula hewan yang buta. (Al-Mughni: 11/100-101)
c.    Yang dimaksud dengan sakit di sini adalah penyakit yang menyebabkan dagingnya rusak atau berkurang dan menyebabkan harganya kurang dari yang semestinya. Misalnya: Perutnya membengkak karena tidak bisa buang angin dan buang air, gila, gugurnya gigi karena penyakit dan mengganggu makannya, yang terpotong/tidak ada sebagian anggota tubuhnya. (Al-Mughni: 11/101-102, Mughni Al-Muhtaj: 6/129, Al-Muhalla: 7/358, Asy-Syarhul Mumti’: 7/476, dan Al-Majmu’: 8/401-402)
d.    Yang terakhir adalah hewan yang tidak memiliki sum-sum di dalam tulangnya sehingga membuat tubuhnya sangat kurus. (Al-Mughni: 11/100)
Kesimpulannya sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qadhi Abdul Wahhab Al-Baghdadi dalam Al-Ma’unah (1/662), “Inti permasalahan ini adalah bahwa semua cacat yang mengakibatkan kurangnya daging atau mempengaruhinya, atau dia berupa penyakit, atau mengurangi postur fisiknya, maka cacat itu menjadi penghalang untuk menyembelihnya.”
Umur Udhhiyah
Sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam hal ini ada istilah al-jadza’ dan ats-tsaniy.
Pada onta, al-jadza’ adalah yang sudah genap berumur 4 tahun dan sudah memasuki tahun kelima. Sementara ats-tsaniy adalah yang sudah berumur 6 tahun.
Pada sapi, al-jadza’ adalah yang sudah genap berumur 2 tahun dan ats-tsaniy adalah yang sudah berumur 3 tahun.
Pada kambing, al-jadza’ adalah yang genap berumur 2 tahun dan ats-tsaniy adalah yang sudah berumur 3 tahun.
Pada domba, al-jadza’ adalah yang genap berumur setahun dan ats-tsaniy adalah yang sudah berumur 2 tahun.
[Lihat Lisan Al-Arab: 8/43-44, 14/123 dan An-Nihayah: 1/226]
Kemudian, ada khilaf dalam penentuan umur hewan yang bisa disembelih dalam udhiyah. Dan yang menjadi pendapat mayoritas ulama -di antaranya: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan selain mereka- adalah tidak bolehnya menyembelih onta, sapi, dan kambing kecuali ats-tsaniy.
Adapun jika udhhiyahnya berupa domba/biri-biri, maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiah sebagaimana dalam Al-Ikhtiyarat (hal. 120) menguatkan tidak bolehnya menyembelih al-jadza’, kecuali jika dia tidak menemukan ats-tsaniy, maka ketika itu diperbolehkan. Beliau berdalil dengan hadits Jabir secara marfu’:
لاَ تَذْبَحُوْا إِلاَّ مُسِنَّةً, إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَاذْبَحُوا جَذْعَةً مِنَ الضَّأْنِ
“Janganlah kalian menyembelih musinnah (ats-tsaniy), kecuali jika kalian sulit mendapatkannya maka sembelihlah domba yang berusia al-jadza’.” (HR. Muslim no. 1963)
[Lihat: Al-Hawi (15/76), Lisan Al-Mizan (8/43-44)(14/123), Al-Mughni (11/99), dan Bidayah Al-Mujtahid (2/440-441)]

Seputar Persekutuan (Patungan) Dalam Udhhiyah
Dibolehkan bersekutu dalam 1 ekor onta dan sapi, 7 orang untuk satu ekor onta atau 7 orang untuk 1 ekor sapi, tidak boleh lebih dari itu. Berdasarkan hadits Jabir -radhiallahu anhu- dia berkata:
نَحَرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبُدْنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ
“Kami menyembelih bersama Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- pada tahun Hudaibiah, 1 ekor onta untuk 7 orang dan 1 ekor sapi untuk 7 orang.” (HR. Muslim no. 1318)
Dalam sebagian riwayat Muslim, “Maka Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan kami untuk bersekutu pada onta dan sapi, setiap 7 orang di antara kami 1 ekor onta.”
Walaupun redaksi hadits ini berkenaan dengan al-hadyu (sembelihan saat haji), akan tetapi mereka mengkiaskan udhhiyah kepadanya karena keduanya sama pada kebanyakan hukum-hukumnya dan keduanya merupakan penyembelihan untuk taqarrub kepada Allah.
Lagi pula masalah patungan dalam udhhiyah ini adalah hal yang sudah masyhur di kalangan sahabat, sebagaimana bisa dilihat atsar-atsarnya dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar (4/175) dan Al-Muhalla (7/382). Karenanya ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya adalah: Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Aisyah, Atha`, Thawua, Salim, Al-Hasan, Amr bin Dinr, Ats-Tsauri, Al-Auzai, Asy-Syafi’i, Abu Tsaur, Ahlu Ar-Ra`yi, Said bin Al-Musayyab, Ahmad, Ishak, Ibnu Al-Mubarak, dan selainnya.
Adapun udhhiyah berupa kambing/domba/biri-biri, maka tidak ada persekutuan padanya, 1 ekor hanya boleh dimiliki satu orang. Adapun persekutuan dalam masalah pahala, maka hal tersebut diperbolehkan berdasarkan amalan dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- sendiri, yaitu dalam hadits pertama yang kami bawakan dalam pembahasan ini, dan dia adalah hadits yang shahih dari seluruh jalan-jalannya: Dimana beliau menyembelih 2 ekor domba, salah satunya untuk beliau dan keluarga beliau dan yang lainnya untuk umat beliau. Akan tetapi tentunya ini hanya persekutuan dalam hal pahala, bukan dalam hal kepemilikan udhhiyah.
Karenanya boleh seorang kepala rumah tangga menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan untuk seluruh keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Ini adalah pendapat Malik, Al-Auzai, Ahmad, Ishak, dan diriwayatkan juga dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah. Sebagai faidah, Al-Baji -rahimahullah- membatasi keluarga yang boleh bersekutu dengannya hanya pada orang-orang yang dia wajib nafkahi, baik jumlahnya banyak maupun sedikit. Lihat Al-Muntaqa (3/97)
[Lihat: Al-Mughni (11/96), Syarh As-Sunnah (4/355), Al-Mufhim (5/363-364), dan Asy-Syarh Al-Mumti’ (7/462)]

Hukum Bagi Al-Mudhahhi (Pemilik Udhhiyah)
Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- bersabda dalam hadits Ummu Salamah:
إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ, فَلاَ يَمُسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Jika sepuluh hari pertama Zulhijjah telah masuk dan salah seorang di antara kalian ingin menyembelih maka jangan dia mencabut rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1977 dan selainnya) Dan dalam sebagian riwayat Muslim:
إِذَا رَأْيْتُمْ هِلاَلَ ذِيْ الْحِجَّةِ …, فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika kalian telah melihat hilal bulan Zulhijjah … maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya.”Ada beberapa hukum yang bisa dipetik dari kedua riwayat di atas:
1.    Pemilik udhhiyah tidak diperbolehkan untuk mencabut rambutnya, kulitnya, dan kukunya. Jika dia melanggar larangan ini dengan sengaja maka dia berdosa walaupun udhhiyahnya tetap syah dan diterima. Lihat Asy-Syarhul Mumti’ (7/532-533).
2.    Rambut di sini mencakup rambut kepala, janggut, kumis, rambut pada ketiak, kemaluan dan dada dan rambut yang ada pada kulit. Lihat Mughni Al-Muhtaj (9/124). Adapun jika sebagian kukunya patah dengan tidak sengaja, lantas ada sisanya yang bisa mengganggu dirinya maka dia boleh memotong sisa patahan tersebut dan tidak ada masalah baginya.
3.    Pelarangan ini berlaku setelah terpenuhinya dua syarat: Masuknya bulan Zulhijjah dan dia berniat untuk menyembelih udhhiyah. Karenanya barangsiapa yang sudah berniat untuk menyembelih udhhiyah setelah masuknya bulan Zulhijjah, maka dia sudah harus menghindari larangan di atas, walaupun dia belum membeli hewan udhhiyahnya. Lihat Asy-Syarhul Mumti’ (7/533)
4.    Pelarangan ini hanya berlaku bagi al-mudhahhi (pemilik udhhiyah), bukan al-mudhahha anhu (yang disembelihkan untuknya). Misalnya seorang lelaki menyembelih seeokor kambing untuk dirinya dan semua anggota keluarganya, maka larangan ini hanya mengenai dirinya dan tidak berlaku bagi keluarganya yang dia sembelihkan untuk mereka, karena pemilik udhhiyah adalah dia sedang yang lainnya hanya bersekutu dengannya dalam hal pahala. Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ (7/529-530)
5.    Akhir waktu larangan ini adalah sampai udhhiyahnya sudah disembelih. Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ (7/530)

Udhhiyah Untuk Mayit (Yang Sudah Wafat)
Permasalahannya ada 3 bentuk:
1.    Dia bersekutu dengan orang yang hidup, misalnya 1 ekor sapi untuk 7 orang; 5 masih hidup dan 2 telah meninggal. Hal ini diperbolehkan karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- menyembelih domba untuk keluarga beliau, dan itu mencakup istri-istri dan anak-anak beliau yang masih hidup dan yang telah meninggal.
2.    Disembelih untuk mayit secara tersendiri untuk mengirimkan pahalanya kepadanya. Misalnya 1 ekor sapi atau kambing untuk 1 mayit. Hukumnya kembali kepada masalah hukum mengirimkan pahala dari ibadah harta kepada mayit, dan ada perbedaan pendapat di dalamnya. Pembahasannya panjang, tapi yang kuat -insya Allah- adalah pendapat Al-Malikiah dan Asy-Syafi’iyah yang berpendapat sampainya pahala amalan harta itu kepada si mayit, karenanya hal ini diperbolehkan.
Catatan:
a.    Walaupun ini diperbolehkan akan tetapi tidak pernah dinukil dari Rasulullah dan para sahabat beliau ada melakukan hal ini, karenanya yang lebih utama adalah tidak mengerjakannya. Lihat Asy-Syarh Al-Mumti (7/455-456)
b.    Ibnu Al-Mubarak dan Asy-Syirbini mengharuskan semua daging dan bagian tubuh udhhiyah disedekahkan, tidak boleh ada sedikitpun daging yang boleh dimakan oleh orang yang mengirimkan pahalanya untuk si mayit
3.     Menyembelih udhhiyah untuk mayit karena si mayit mewasiatkannya. Maka yang seperti ini wasiatnya ditunaikan dan disembelihkan untuknya.
Lihat: Risalah Al-Udhhiyah Syaikh Ibnu Al-Utsaimin (hal. 51) dan Mughni Al-Muhtaj (6/138)

Penerima Udhhiyah
a.    Jika dia menerima udhhiyah berupa daging maka dia boleh melakukan apa saja pada daging tersebut termasuk menjualnya, karena sedekah berupa daging itu telah menjadi miliknya sehingga dia bebas terhadapnya. Tapi jika dia menerima hewan udhhiyah yang masih hidup, lalu pemberi udhhiyah berkata, “Sembelih hewan ini untuk kamu makan bersama keluargamu,” maka kewajiban dia adalah menuruti ucapan pemberi udhhiyah dan tidak boleh bagi dia untuk menjualnya. Karena ini adalah sedekah yang diikat dengan persyaratan yang harus dia penuhi. Lihat Al-Muntaqa (3/91)
b.    Tidak boleh memindahkan pembagian daging udhhiyah dari daerah tempatnya disembelih ke daerah lain, kecuali jika di tempat tersebut orang-orang miskinnya kurang dan semuanya sudah mendapatkan jatah dan di daerah tujuan terdapat banyak orang-orang miskin, maka dibolehkan.

Hukum Al-Mudhahhi Memakan Udhhiyahnya
Mayoritas ulama berpendapat hal itu hanya disunnahkan dan bukanlah suatu kewajiban. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) “Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (QS. Al-Hajj: 36) Dan perintah dalam kedua ayat ini hanya bermakna sunnah, sebagaimana yang diterangkan oleh mayoritas ulama tafsir. Lihat Tafsir Ath-Thabari (10/166-167), Tafsir Al-Qurthubi (12/44), Tafsir Ibnu Katsir (3/292, dan kitab-kitab tafsir lainnya.
Juga berdasarkan hadits Aisyah dimana beliau menyebutkan kalau awalnya Nabi -alaihishshalatu wassalam- melarang al-mudhahhi untuk memakan udhhiyahnya, lalu sebagian sahabat ada yang mempertanyakannya maka beliau bersabda:
إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِي دَفَّتْ – أَيْ مِنْ أَجْلِ الْفُقَرَاءِ الَّذِيْنَ نَزَلُوْا عَلَيْكُمْ – فَكُلُوْا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوْا
“Sesungguhnya saya tidaklah melarang kalian darinya kecuali karena ad-daffah yang mengetuk -yakni orang-orang fakir yang datang ke rumah kalian-. Adapun sekarang maka makanlah, simpanlah, dan bersedekahlah kalian.” (HR. Muslim no. 1971)
Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Muslim (1972) dari Jabir dan (1973) dari Abu Said Al-Khudri, dan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5569) dari Salamah bin Al-Akwa`. Perintah dalam hadits ini bermakna sunnah atau pembolehan, karena perintah ini datang setelah adanya larangan sebelumnya. Kaidah yang masyhur dalam ushul fiqh bahwa: Perintah yang datang setelah larangan maka hukumnya kembali kepada hukum sebelum datangnya larangan tersebut.

Seputar Waktu Penyembelihan
Dalam pembahasan ini ada tiga perkara yang akan dibahas:
a.    Awal waktu penyembelihan. Dalam hal ini ada dua keadaan:
1.    Jika imam shalat menyembelih udhhiyahnya di lapangan, maka orang-orang yang shalat pada lapangan yang sama dengan imam, tidak boleh bagi mereka untuk menyembelih sebelum imam menyembelih, sehingga awal waktunya adalah setelah imam selesai menyembelih. Jabir -radhiallahu anhu- berkata:
فَأَمَرَ النَّبِيُّ مَنْ كَانَ نَحَرَ قَبْلَهُ أَنْ يُعِيْدَ بِنَحْرٍ آخَرَ, وَلاَ يَنْحَرُوا حَتَّى يَنْحَرَ النبي – صلى الله عليه وسلم -
“Maka Nabi memerintahkan orang yang menyembelih sebelum beliau agar dia mengulanginya dengan sembelihan yang lain, dan agar mereka jangan menyembelih sebelum Nabi -shallallahu alaihi wasallam- menyembelih.” (HR. Muslim no. 1964)
2.    Jika imam tidak menyembelih maka awal waktunya adalah setelah shalat id walaupun khutbah belum selesai, baik al-mudhahhi melakukan shalat id maupun tidak. Demikian halnya orang-orang yang berbeda lapangan dengan imam maka dia sudah boleh menyembelih udhhiyah setelah shalat. Dari Al-Barra` bin Azib secara marfu’:
لاَ يَذْبَحَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يُصَلِّيَ
“Jangan sekali-kali ada yang menyembelih sampai dia selesai shalat.” (HR. Muslim no. 1961)
Dan dalam riwayat Al-Bukhari (965) dan Muslim (1961) dengan lafazh, “Sesungguhnya perkara pertama yang kami lakukan pada hari ini adalah shalat kemudian kami pulang lalu menyembelih.”Dan dari hadits Jundub bin Sufyan secara marfu’, “Barangsiapa yang menyembelih udhhiyahnya sebelum dia shalat -atau kami shalat- maka hendaknya dia menggantinya dengan sembelihan lain.” (HR. Al-Bukhari no. 5562 dan Muslim no. 1960)
Hadits yang semakna dengannya juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5564) dan Muslim (1962) dari Anas bin Malik.
b.    Akhir waktunya.
Waktu bolehnya penyembelihan udhhiyah berakhir pada dua hari setelah hari id atau tanggal 12 Zulhijjah, sehingga lama waktu untuk menyembelih adalah 3 hari: Hari id dan 2 hari tasyrik. Ini adalah pendapat Umar, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Anas -radhiallahu anhum-, Imam Malik, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah.
Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala, “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28) Kata ‘ma’lumatin’ (hari-hari yang telah ditentukan) adalah bentuk jamak dan jumlah jamak paling minimal adalah 3, karenanya menetapkan lebih dari 3 hari adalah dugaan dan klaim semata karena syariat tidak membatasinya. (Tafsir Al-Qurthubi: 12/43)
Mereka juga berdalil dengan beberapa atsar, di antaranya:
Dari Ibnu Umar dia berkata:
اَلْأَضْحَى يَوْمَانِ بَعْدَ يَوْمِ الْأَضْحَى
“Al-Adhha (penyembelihan) itu sampai dua hari setelah hari idul adhha.” (Riwayat Malik hal. 365)
Dalam riwayat Al-Baihaqi (9/297) bahwa sehari setelah shalat id, Abu Salamah berkata kepada Ibnu Umar, “Saya hendak menyembelih,” maka Ibnu Umar menjawab, “Barangsiapa yang mau maka hendaknya dia menyembelih sekarang atau besok insya Allah.”
Juga ada atsar dari Abu Hurairah dengan sanad yang bisa dihasankan dia berkata, “Waktu penyembelihan itu selama 3 hari.”(Riwayat Ibnu Hazm: 7/377) yakni: Dimulai dari hari id.
Insya Allah inilah pendapat yang kuat karena tidak shahih dari para sahabat ada di antara mereka yang berpendapat selain dari ini.
c.    Hukum menyembelih di malam hari.
Yang afdhal tentunya dia menyembelih di siang hari berdasarkan lahiriah kata ‘ayyam’ dalam ayat, dan ayyam adalah bentuk jamak dari kata ‘yaum’ yang bermakna siang hari. Akan tetapi bolehkan menyembelih di malam hari? Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ishak, dan Ahmad berpendapat bolehnya menyembelih di malam hari selama tidak mengurangi/mengganggu jalannya proses udhhiyah. Dan inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (7/503)

Pembagian Hewan Udhhiah.
Telah berlalu hadits dari empat orang sahabat mengenai pembagian udhhiyah, yakni: Ada yang dimakan, ada yang disimpan, dan ada yang disedekahkan. Hanya saja tidak ada keterangan berapa bagian dari masing-masing amalan ini. Sekelompok ulama menyebutkan 1/3 untuk dimakan, 1/3 untuk disimpan, dan 1/3 lainnya disedekahkan, akan tetapi tidak ada dalil yang shahih dalam masalah ini. Karenanya seseorang boleh membagi berapa saja udhhiyahnya, hanya saja yang lebih utama tentunya memperbanyak bagian untuk sedekah, wallahu a’lam.

Adab-Adab Dalam Udhhiyah.
An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (8/408) menyebutkan beberapa adab menyembelih, di antaranya:
1.    Tidak menyiksa hewan udhhiyah
2.    Menajamkan alat penyembelih.
3.    Menghadap ke arah kiblat.
4.    Wajib untuk membaca: Bismillah sebelum menyembelih, dan boleh ditambahkan: Allahu Akbar. Berdasarkan hadits Jabir yang telah berlalu dalam riwayat Muslim.
5.    Disunnahkah setelah itu untuk membaca: Allahumma hadza anni wa ‘an ali baiti (Ya Allah ini dariku dan dari keluargaku), sebagaimana yang tersebut dalam riwayat Muslim (1967)
6.    Makruh memotong leher udhhiyah sampai terputus walaupun dia halal untuk memakannya.
7.    Tidak menyembelih udhhiyah dari arah leher belakangnya. Jika dia mati karena tulang lehernya patah dan bukan karena penyembelihan maka hewan itu tidak halal dimakan.
8.    Yang paling utama adalah dia menyembelih hewan udhhiyahnya sendiri dan jika dia tidak mampu maka dia boleh mewakilkannya kepada muslim lainnya, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau sendiri yang menyembelih udhhiyahnya.
9.    Dibolehkan bagi wanita untuk menyembelih dan demikian pula anak-anak jika mereka paham cara menyembelih. Lihat Mughni Al-Muhtaj (6/124-125)
10.    Tidak diharuskan al-mudhahhi dan keluarganya untuk menghadiri penyembelihan udhhiyahnya, karena tidak ada satupun dalil shahih yang mewajibkannya.
11.    Di antara bid’ah-bid’ah dalam penyembelihan: Mencuci sebagian anggota tubuh udhhiyah seakan-akan hewan itu berwudhu, mengelilingi hewan udhhiyah, melangkahinya sebelum disembelih, adanya zikir berjamaah yang dilakukan oleh al-mudhahhi serta keluarganya saat mereka mengelilingi udhhiyah.

http://al-atsariyyah.com

Leave a Reply