Lailatul Qadar berbeda antara satu negara dengan yang lainnya?

0 komentar
 

Lailatul Qadar berbeda antara satu negara dengan yang lainnya?

Pertanyaan:
Seperti yang kita ketahui, masuknya tanggal 1 Ramadhan antara satu negara dengan yang lainnya berbeda, dan umumnya selisih 1 hari. Sehingga ganjil dan genapnya berbeda. Nah, bukankah Allah menurunkan malam lailatul qadar di malam ganjil? Trus bagaimana untuk mereka yang puasanya genap? Apa lailatul qadar turun dua kali?

Terima kasih
Dari: Abdullah
Jawaban:
Di antara bagian dari rahasia Allah adalah waktu kapan lailatul qadar itu terjadi. Tidak satu pun manusia di alam ini yang mengetahui kapan lailatul qadar. Di antara hikmah mengapa Allah rahasiakan malam ini adalah agar manusia bisa istiqamah dalam melakukan ketaatan kepada Allah sepanjang waktu. Sehingga mereka tidak beribadah dengan milih-milih malam tertentu, tapi dia beribadah sepanjang malam.
Benar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rambu-rambu agar orang mencari lailatul qadar di sepuluh malam terakhir. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Beliau bersabda,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah malam qadar di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas, tidaklah mengajarkan kepada kita untuk hanya rajin ibadah di malam ganjil pada sepuluh terakhir Ramadhan saja. Sama sekali tidak mengajarkan semikian. Hadis di atas mengarahkan kepada kita untuk mencari lailatul qadar di sekitar malam ganjil. Karena di malam inilah umumnya lailatul qadar itu terjadi. Namun kita tidak bisa memastikan malam ganjil yang mana dan bisa saja Allah menurunkannya di malam genap.

Lailatul Qadar Hanya Sekali

Syaikh Abdullah Al-Jibrin menjelaskan
تكون ليلة واحدة ولو اختلف دخولها بالنسبة للبلدان ، فتدخل في البلاد العربية عند غروب شمس نهارهم  وتدخل عند البلاد الإفريقية أيضا عند غروب شمس نهارهم وغيرها من البلاد ، فكلما غربت عند قوم دخلت عندهم ولو استغرق ذلك أكثر من 20 ساعة فتحسب لهؤلاء ليلتهم ، ولهؤلاء ليلتهم ، ولا مانع من أن تنزل الملائكة عند هؤلاء ، وهؤلاء أيضا .
Lailatul qadar hanya terjadi sekali, meskipun masuknya waktu malam berbeda-beda antar-negara. Mungkin masuk waktu malam di negara-negara Arab ketika matahari tenggelam di siang itu, kemudian masuk waktu malam di negera-negara Afrika ketika matahari tenggelam di siang harinya, dst. Ketika hilang di satu negara, datang di negara yang lain, meskipun bisa jadi itu memakan waktu lebih dari 20 jam. Karena itu, satu kaum menilai ini sebagai malam mereka dan kaum yang lain menilai itu sebagai malam mereka. Dan tidak ada yang mustahil ketika malaikat turun di kaum pertama kemudian turun lagi di kaum yang lain (Fatawa Islam, no. 129688).
Kembali kepada malam ganjil, bahwa lailatul qadar belum tentu ada di malam ganjil kita atau malam ganjil orang lain. Hanya Allah yang tahu. Karena kapan Allah menurunkan lailatul qadar ini, semuanya murni kehendak Allah.
Selayaknya, kaum muslimin untuk tidak pilih-pilih malam untuk beribadah, sehingga hanya mau rajin ibadah di malam tertentu saja, karena ini adalah sikap malas, hanya mencari untung tanpa melakukan banyak usaha. Bisa jadi, sikap semacam ini membuat kita jadi tertipu karena Allah tidak memberikan taufik untuk beribadah pada saat lailatul qadar.
Sebaliknya, mereka yang rajin beribadah di sepanjang malam dan tidak pilih-pilih, insya Allah akan mendapatkan lailatul qadar. Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah memberikan nasihat tentang lailatul qadar, beliau mengatakan,
من يقم الحول يصبها
“Siapa saja yang shalat malam sepanjang tahun, dia akan mendapatkannya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Ketika mendengar keterangan dari Ibnu Mas’ud ini, Abdullah bin Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati Ibnu Mas’ud, sebenarnya beliau paham bahwa lailatul qadar itu di bulan Ramadan, namun beliau ingin agar masyarakat tidak malas.” (Tafsir al-Baghawi, 8:482)
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Leave a Reply