Ramainya santri lansia di Pondok Sepuh Payaman saat Ramadan

0 komentar
 

Urip neng ndonyo mung sedelo, nggo sangu ngombe neng akhirat (hidup di dunia hanya sebentar untuk mencari bekal di akhirat)". Itulah sebait kalimat yang dilontarkan Mbah Jumari (75) warga Desa Dalangan, Kecamatan Candi Mulyo, Magelang, Jateng yang sudah sejak 6,5 tahun ini sengaja tinggal dan bermukim di Pondok Pesantren Sepuh (lansia) di Kompleks Masjid Agung, Payaman, Secang, Magelang, Jateng.

Bersama 50-an lansia lainya, Mbah Jumari menghabiskan waktunya di Pondok Sepuh mencari bekal ilmu agama Islam. Dirinya menyadari penuh jika sudah usianya lanjut butuh bekal amal untuk dibawanya menghadap Allah.

"Setiap hari sejak enam tahun lalu saya di sini. Padhos sangu ngge wangsul ting akhirat mangkeh supados lancar, jembar, pada dalane (cari bekal untuk kembali di akhirat nanti supaya tidak ada hambatan, lebar dan mudah jalanya). Ini permintaan pribadi saya ke anak cucu saya supaya tenang dan kalau pulang pas saya sakit saja," tuturnya ketika ditemui  merdeka.com, Selasa (24/7).

Namun, lain di saat-saat awal Ramadan ini, Mbah Jumari kedatangan ratusan lansia lain yang datang dari berbagai kota yang mayoritas dari daerah wilayah Karisidenan Kedu (Magelang, Temanggung, Purworejo, Kebumen dan Wonosobo).

Sejak 1 Ramadan ratusan lansia itu sengaja untuk datang di sekitar Ponpes Sepuh dan Masjid Agung Payaman, Secang, Magelang. Mereka sengaja tinggal dan menginap di situ mulai awal Ramadan sampai sekitar tanggal 25 Ramadan untuk mengaji, mencari ilmu. Selain itu mayoritas alasan mereka mencari ketenangan hati dengan mengaji menjadi santri di Ponpes Sepuh ini.

Selama di Ponpes Sepuh, para lansia ini tidak tanggung-tanggung dalam sehari mengaji sebanyak empat kali. Mereka mendengarkan ceramah pengajian fikih dari para ustad dan kiai diwaktu pagi yang sering disebut kuliah subuh, juga pengajian usai sholat Zuhur kemudian pengajian sebelum dan sesudah Ashar.

"Pengajianya yang kita berikan adalah berupa pengajian fikh tata cara beribadah simpel, ringkes dan sederhana seperti sholat dan puasa dibulan Ramadan serta ibadah sunah yang dilakukan pada bulan suci Ramadan ini," ungkapnya.

Bicara tentang sejarah keberadaan Ponpes Sepuh itu sendiri, ternyata sudah sangat tua. Cikal-bakal dan pendiri ponpes sepuh ini adalah seorang ustad dan kiai karomah yang sangat disegani pada jaman penjajahan Belanda. Dia adalah KH Anwari Sirajd Bin Abdurrosyid yang telah mendirikan Masjid Agung Payaman kemudian mendirikan Ponpes Sepuh pada tahun 1937.

Almarhum KH Anwari Sirajd merupakan kiai karomah yang selevel dengan kiai khos NU lainya yaitu Almarhum Mbah Dahlar yang merupakan pendiri sekaligus pimpinan Ponpes Watu Congol, Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Mbah Irsajd juga teman satu perguruan saat belajar Islam di Mekkah dengan Almarhum KH Hasyim Asy'ari pimpinan Ponpes Tebu Ireng, Jombang. Pendiri organisasi islam terbesar Indonesia Nahdlatul Ulama(NU) sekaligus kakek kandung dari KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur.

Didirikanya Ponpes Sepuh ini, menurut pengakuan cucu generasi keempat KH Anwari Sirajd, KH Mafatikhul Huda bersama beberapa kiai qosh lainya diantaranya KH Syakir Chozin, KH Mawali, KH Umaeri, KH Mudris Abdul Madjid, KH Azhari Al Hafidz dan H Munief mendirikan Pondok Sepuh ini.

Pendirian Ponpes Sepuh dilakukan sekitar tahun 1937 beberapa kiai dan santri marak mendirikan ponpes. Seluruh wilayah Jawa saat terdengar kabar Portugis dan Belanda mulai datang dan masuk menjajah negeri ini. Semua para kiai berebutan santri mendirikan berbagai aliran ilmu islam.

"Namun, kaum santri yang menjadi anak didik para kiai menjadi rebutan. Akhirnya simbah Sirajd memutuskan untuk menampung santri-santri yang tua. Yo wes nek kabeh ngurusi santri nom-nom aku tak ngurusi santri ro sedulur sing tuo-tuo(Ya sudah kalau semua mendirikan ponpes untuk santri muda, saya tak ngurusi ponpes santri lansianya),"ungkapnya.

Ponpes Sepuh yang telah melewati dua dekade penjajahan Belanda dan Jepang saat itu dipimpin oleh KH Abdul Majdid ke KH Sabikhun. Kini dipimpin oleh Mafatikhul Huda sendiri yang merupakan cucu keturunan keempat yang sampai saat ini memimpin ponpes tersebut.

Selain suasana khusyuk, alunan bacaan tadarus Alquran yang mewarnai suasana Masjid Agung Payaman setiap tahun ini. Jika bulan Ramadan tiba, layaknya pasar tiban, kondisi ramai pedagang dan banyaknya lansia didalam masjid menghiasi tempat ibadah bersejarah yang merupakan peninggalan jaman Belanda dan sudah beberapa kali menjalani renovasi itu.
[bal]
http://www.merdeka.com

Leave a Reply