Petualangan Kaum Muslim Cina Menjalani Ramadhan

0 komentar
 
REPUBLIKA.CO.ID, WUZHONG--Ma Guoxing (48 tahun) bangun pagi pagi dan pergi ke sebuah masjid di Kota Wuzhong, Cina, untuk shalat Subuh pada hari pertama bulan Ramadhan. Setibanya di masjid, Ma bergegas bergabung dengan jamaah shalat. "Ini adalah bulan yang sangat penting bagi kami," kata pria yang berprofesi sebagai petani seperti dikutip dari kantor berita Xinhua.

Jika melakukan perbuatan baik pada bulan Ramadhan, kata Ma, itu berarti setiap Muslim melakukan perbuatan baik 1.000 kali dibandingkan bulan-bulan lainnya. "Dalam keseluruhan tahun, sebagai Muslim kami mengharapkan bulan Ramadhan untuk melakukan perbuatan yang lebih baik dan mengumpulkan pahala," papar dia.

Meskipun penduduk Muslim di Cina minoritas, hal itu tidak mengurangi semangat mereka untuk mendedikasikan waktunya selama bulan suci menjadi lebih dekat kepada Allah. Melalui Ramadhan, mereka dapat menahan diri, berbuat baik, dan beribadah sebanyak mungkin.

Muslim di Cina sekarang sekitar 20 juta jiwa. Setengah dari mereka kebanyakan berasal dari kelompok etnis Hui. "Ramadhan dapat memperkuat pikiran kita, menahan keinginan egois, dan mengajarkan kita untuk menjalani hidup dengan cara yang sehat," kata Jianming, seorang pemuda Muslim dari kelompok etnis Hui.

Bagi umat Islam Cina, Ramadhan adalah kesempatan untuk memperkuat ikatan keluarga dan masyarakat. Selain itu, momen bulan suci sebagai sarana menyantuni orang miskin. Sebab, di negeri berpenduduk satu miliar jiwa lebih itu masih banyak orang yang tidak dapat makan dengan kenyang. "Oleh karena itu, kami menawarkan makanan kepada orang lain supaya mendapatkan pahala," kata Abdul'ahat Kurban dari daerah Xinjiang, ibu kota Urumqi.

Bulan puasa di Cina dimulai sebulan setelah peristiwa sewenang-wenang tentara Cina yang menewaskan sekitar 190 warga Muslim Uigur di Provinsi Xinjiang. Kekejian itu menimbulkan protes diskriminasi agama dan kontrol budaya di daerah mereka. "Kami mengalami penderitaan yang luar biasa lebih dari sebulan lalu," kata Abdul.

Dia berharap, kekerasan tidak terjadi lagi di Cina. Semua warga Muslim di sana berharap, mereka dapat hidup berdampingan dengan masyarakat lain secara tenang dan damai. Puasa di musim panas Warga Muslim di Negeri Tirai Bambu itu menyambut bulan suci dengan penuh semangat.

Mereka bahkan sudah mempersiapkan segala kebutuhan seminggu sebelum Ramadhan. Pasalnya, tahun ini mereka menjalankan puasa dengan cuaca panas. Selain itu, mereka juga membeli baju baru untuk anak-anak. Semua makanan tersebut dapat membantu pemasokan energi selama puasa pada musim panas. Sebab, mereka menjalani puasa selama 17 jam.

Setiap makan besar, kaum Muslim Cina juga mengundang sepupu dan teman-teman untuk bergabung. Mereka membuat Ramadhan ini sebagai bulan yang penting untuk meningkatkan hubungan sosial. "Ramadhan kali ini pada musim panas, pada saat siang hari berlangsung selama 17 jam," kata Abdul, seperti dikutip dari Global Times.

Puasa dianggap oleh umat Islam di sana untuk membantu kesehatan dan kebersihan. "Dengan puasa, Anda dapat membersihkan tubuh Anda dan mengubah cara hidup Anda yang selama ini buruk," paparnya. Dan, yang paling penting, lanjut Abdul, seseorang harus dapat memperbaiki diri sendiri. Sebagai contoh, ketika merasa lapar, seseorag dapat menjaga diri dari makanan karena sedang berpuasa. "Ini akan menumbuhkan kontrol diri Anda dan tidak akan mencoba untuk mendapatkan sesuatu yang bukan milik Anda."

Leave a Reply