Pernik-Pernik Ramadhan

0 komentar
 

Melatih Jiwa Untuk Taat Kepada Allah
Jiwa sifatnya seperti anak kecil yang perlu dilatih, karena itu, jiwa seorang muslim harus dilatih dan dibiasakan untuk mengerjakan ketaatan. Salah satu bentuk pelatihan agar jiwa terbiasa dalam mengerjakan ketaatan. Salah satu bentuk pelatihan agar jiwa terbiasa dalam mengerjakan ketaatan adalah dengan puasa karena dalam puasa seseorang akan meninggalkan sebagian kenikmatan -yang asalnya halal- dari menahan makan, minum, dan berkumpul dengan istri, yang semuanya ini ditinggalkannya demi mencari ridha dan pahala Allah.
Sudah barang tentu itulah pelatihan yang nyata. Tidak ada yang sanggup mengerjakannya kecuali orang yang benar-benar beriman, suci jiwanya, dan tulus cintanya untuk taat kepada Allah. Barangkali inilah yang disyaratkan dalam sebuah hadits yang berbunyi.
“Sungguh bau mulutnya orang yang berpuasa lebih harus di sisi Allah ta’ala daripada minyak misk. Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku. Semua amalan bani Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan:
“Syi’ar dan tanda kaum mukminin pada hari kiamat adalah cahaya yang memancar karena bekas wudlu mereka di dunia, sebagai pembeda dengan seluruh ummat lainnya. Dan syi’ar mereka juga pada hari kiamat dengan puasanya, bau mulut mereka lebih harum di sisi Allah daripada minyak misk (kesturi), agar mereka terkenal dengan amalan tersebut pada hari perkumpulan. Kita memohon kepada Allah keberkahan pada hari itu (Shahih Ibnu Hibban 8/211).
Menumbuhkan Sifat Sabar
Puasa adalah jihad melawan hawa nafsu dan melatih kesabaran. Di dalam puasa terdapat tiga macam kesabaran:
  • Sabar dalam ketaatan
  • Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
  • Sabar menerima takdir
Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnu Rajab rahimahullah: “Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan larangan Allah, dan sabar dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan. Semua jenis sabar ini terkumpul dalam ibadah puasa karena dalam puasa terdapat sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan dari kelezatan syahwat, dan sabar untuk menerima apa yang dia dapat berupa rasa sakit dengan kelaparan dan kehausan serta lemasnya badan dan jiwa. (Latha’iful Ma’arif, Ibnu Rojab)

Leave a Reply