Perhiasan Akhlak Untuk Ramadhan

0 komentar
 

Di bulan Romadhon hendaknya seorang muslim menghias dirinya dengan perhiasan akhlaq, dimana dengannya ia akan terlihat indah dalam pandangan manusia, khususnya di sisi Allah. Berikut ini beberapa cara mempercantik diri di bulan Romadhon.

Menjaga Sahur & Mengakhirkannya

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Bersahurlah, karena sesungguhnya di dalam sahur terdapat berkah”. [HR. Al-Bukhoriy (1923), dan Muslim (1095)]

Perhatikan Zaid bin Tsabit -radhiyallahu anhu- berkata, “Kami sahur bersama Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, lalu beliau bangkit untuk sholat”. Anas bertanya (kepada Zaid), “Berapakah (waktu senggang) antara adzan dan sahur?”. Zaid menjawab, “Lamanya seperti membaca 50 ayat”.[HR. Al-Bukhoriy (1821), dan Muslim (1097)]. Kalau menggunakan parameter menit maka ini berarti sekitar 15 atau 20 menit sebelum adzan shubuh.

Amer bin Maimun Al-Jazariy berkata, “Para sahabat Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling cepat berbuka, dan paling lambat bersahur”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (7916)]

Memperbanyak Amalan Kebajikan

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata dalam Zaadul Ma’ad (2/32), “Diantara petunjuk beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di bulan Romadhon, memperbanyak ibadah. Dulu Jibril alaihis sholatu was salam- mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di bulan Romadhon. Jika beliau ditemui oleh Jibril, maka beliau adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan dibandingkan angin yang berhembus. Beliau adalah manusia yang paling pemurah, apalagi di bulan Romadhon; di dalamnya beliau memperbanyal shodaqoh, berbuat baik, membaca Al-Qur’an, sholat, berdzikir, dan i’tikaf”.

Bersungguh-sungguh dalam Melaksanakan Berbagai Bentuk Ibadah

Romadhon adalah waktu “mengencangkan sarung” (bersungguh-sungguh) dalam beribadah kepada Allah seperti dalam cerminan kehidupan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabat. Mereka isi malamnya dengan sholat malam dan i’tikaf pada 10 akhir Romadhon di masjid-masjid. A’isyah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

“Dulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- jika memasuki malam sepuluh (terakhir), maka beliau menghidupkan malam (sholat malam), membangunkan keluarganya,bersungguh-sungguh, dan menyingsingkan sarung (bersungguh-sungguh)”. [HR. Al-Bukhoriy (2024), dan Muslim (1174)]

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah- berkata dalam Zaadul Ma’ad (2/32), “Diantara petunjuk beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di bulan Romadhon, memperbanyak ibadah”.

Membersihkan Mulut dengan Kayu Siwak

Islam adalah agama yang menjaga kebersihan. Karenanya, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan ummatnya bersiwak, baik saat puasa, maupun tidak. Sebagian ulama’ menganalogikan bolehnya bersikat gigi dengan bersiwak, sepanjang tidak masuk ke tenggorokan. [Lihat Shiyam Romadhon (hal.21) oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zinu]

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Andaikan aku tidak (khawatir) memberatkan ummatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka bersiwak setiap kali (hendak) sholat”. [Al-Bukhoriy (887), dan Muslim (252)]

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Siwak merupakan pembersih mulut, dan membuat Robb (Allah) ridho”.[HR. An-Nasa'iy (5), Ibnu Majah (289), dan Ahmad (7). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Al-Irwa' (66)]

Abdur Rahman bin Ghonmin Al-Asy’ariy berkata, “Aku pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal, “Apakah aku boleh bersiwak sedang aku puasa?” Dia menjawab, “Ya”. Aku berkata, “Waktu mana aku boleh bersiwak?” Dia jawab, “Waktu mana saja kamu hendak; jika mau pagi (ya, boleh); jika mau siang (ya, juga boleh)” [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (133). Atsar ini dikuatkan oleh Al-Hafizh dalam At-Talkhish (2/202)]

Menjauhkan Diri dari Perbuatan Tercela yang Menyalahi Hikmah Puasa

Allah -Ta’ala- berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqoroh: 183)

Jadi, hikmah disyari’atkannya puasa adalah mencapai derajat taqwa. Seorang akan mencapainya jika ia menjauhkan dirinya dari dusta, berkata-kata jorok dan kotor, bertengkar, berkelahi, menghina, menonton aurat wanita, baik langsung atau lewat TV, dan gambar, dan lainnya. Orang yang melakukan hal-hal ini tak mendapatkan, kecuali penat di dunia, dan akhirat.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Jika seorang diantara kalian berpuasa di suatu hari, maka janganlah ia janganlah ia berkata-kata jorok, dan berbuat jahil. Bila ada seseorang yang mencela atau melawannya, maka hendaknya ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang puasa, sesungguhnya aku sedang puasa”.” [HR.Muslim (1151)]

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya, selain lapar; terkadang seorang yang bangun (sholat) malam tidak mendapatkan dari bangunnya, selain begadang”. [HR. Ibnu Majah (1690). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (2014)]

Men-segerakan Buka Puasa

Ketika seorang telah melihat matahari tenggelam dengan sempurna, maka hendaknya ia segerakan; jangan ditunda, sekalipun belum terdengar adzan. Menyegerakan buka puasa merupakan kebaikan, karena ia adalah bentu penyelisihan ahlul Kitab yang senang mengakhirkannya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan buka puasa”. [Al-Bukhoriy (1957), dan Muslim (1098)]

Ada dua sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang terlupakan ketika kaum muslimin berbuka, yaitu berbuka sebelum sholat maghrib, dan memakan ruthob (korma basah lagi segar), atau korma kering, atau air. Jangan sampai perut kosong sampai usai sholat maghrib. Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- juga berkata,
“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berbuka dengan ruthob (korma basah dan segar), sebelum beliau sholat. Jika tak ruthob, maka dengan tamer (korma kering). Jika tamer juga tak ada,maka beliau meneguk beberapa teguk air”. [Abu Dawud (2356), dan At-Tirmidziy (696). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalamAsh-Shohihah(2840)]

Memberi Buka Puasa

Diantara amal sholeh yang terpuji, memberi makan, karena mengharapkan pahala di sisi Allah. Terlebih lagi di bulan Romadhon. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Barangsiapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, niscaya ia akan mendapatkan semisal pahala orang yang puasa itu; Cuma tidak mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun”. [ At-Tirmidziy (807).Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (11361)]

Bersemangat untuk Berpuasa & Sholat Tarawih

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Barang siapa yang bangun (sholat malam) karena beriman dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu . Barangsiapa yang berpuasa di bulan Romadhon karena beriman dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu” ..[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (1802), dan Muslim dalam Shohih-nya (175)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 29 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.

Leave a Reply