Meugang: Tradisi Masyarakat Aceh Untuk Menyambut Bulan Ramadhan

0 komentar
 

Masyarakat di Aceh memiliki sebuah tradisi yang unik ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yaitu tradisi Meugang. Makmeugang atau yang kini hanya disebut dengan Meugang merupakan hari yang dirayakan dengan cara memasak dan menyantap daging bersama-sama dengan keluarga, yang dilakukan sehari menjelang bulan puasa. Hari tersebut merupakan waktu yang dimanfaatkan oleh keluarga di Aceh sebagai waktu berkumpul dan makan bersama. Bahkan, tidak jarang juga keluarga di Aceh yang mengundang anak yatim untuk menikmati kebersamaan hari Meugang ini.
Tidak hanya menjelang datangnya bulan Ramadhan, tradisi ini juga biasa dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri dan menjelang hari raya Idul Adha. Makmuegang ini sendiri berasal dari kata "Makmue" yang berarti makmur (karena semua elemen masyarakat di Aceh pada hari ini dapat menikmati daging tanpa kecuali), dan kata "Gang" yang merujuk pada gang yang berada di dekat pasar dimana para penjual daging menjajakan dagangannya.

Tradisi Meugang sendiri sudah dilakukan sejak masa Kerajaan Aceh. Ketika itu, Raja memotong sapi dan kerbau dalam jumlah yang banyak dan kemudian membagi-bagikan daging sapi tersebut kepada rakyatnya sebagai bentuk rasa syukur Raja atas kemakmuran sekaligus bentuk terima kasih kepada rakyatnya, dan juga untuk merayakan datangnya bulan suci Ramadhan. Setelah Kerajaan Aceh dikalahkan oleh penjajah Belanda, masyarakat Aceh berinisiatif sendiri untuk melakukan pemotongan sapi guna memeriahkan hari Meugang, sehingga tradisi ini tetap mengakar kuat di tengah masyarakat Aceh sampai hari ini.

Tidak hanya itu, menurut orentialis barat ahli ketimuran berkebangsaan Belanda bernama Snouck Hurgronje dalam bukunya "De Atjeher", ia menyebutkan bahwa tradisi Meugang dalam masyarakat Aceh mampu membantu perjuangan para pejuang Aceh untuk bergerilya melawan penjajah. Karena daging Meugang juga banyak yang diolah dengan cara pengasinan dan pengawetan sederhana sehingga daging menjadi tahan lama dan dapat menjadi persediaan makanan selama perang gerilya. Mungkin mirip dengan apa yang sekarang kita kenal sebagai dendeng.

Walau sebagai salah satu kekayaan khasanah kebudayaan Aceh, Meugang sebenarnya memiliki sisi negatif. Meugang kini menjadi sebuah tradisi yang mengagungkan kemampuan ekonomi bagi masyarakat Aceh. Untuk para pria di Aceh, Meugang merupakan pembuktian bahwa dirinya adalah benar-benar seorang laki-laki. Bukan lelaki Aceh namanya bila tak mampu membeli daging pada hari Meugang. Semakin banyak daging yang mampu dibawa pulang, maka semakin tinggilah harga diri seorang pria di mata masyarakat.

Untuk pengantin baru, Meugang juga digunakan sebagai ajang pembuktian harga diri. Jika sang suami tak mampu membawa pulang daging sebanyak minimal 5 kilogram, maka oleh mertuanya ia akan dianggap sebagai lelaki yang tidak mampu dan tak punya rasa malu. Bahkan seringkali hal ini akan menjadi bahan gunjingan para tetangga, walau sebenarnya sang mertua tidak pernah mempersalahkan hal tersebut. Bahkan, jika ia berada di daerah yang masih sangat kental adatnya, sang pria itu bisa jadi tidak diterima lagi sebagai menantu.

Sehingga wajar bila kemudian harga daging di Aceh pada hari Meugang meroket tajam mencapai ratusan ribu rupiah. Padahal pada hari biasa, harga daging hanya berkisar antara Rp. 70-80 ribu per kilogram. Sehingga mereka yang termasuk kelompok ekonomi lemah akan mencari berbagai cara untuk dapat membawa pulang daging Meugang ke rumah, termasuk dengan cara berhutang. Simbolisasi kemakmuran ini telah menjadikan jurang pemisah yang lebar antara si kaya dan si miskin. Meskipun demikian, Meugang tetaplah sebuah tradisi masyarakat Aceh yang perlu dijaga. Hanya saja perlu cara pandang yang berbeda terhadap hari spesial itu.

Leave a Reply