Mengapa Berbuka dengan Kurma? Ini Penjelasannya

0 komentar
 

REPUBLIKA.CO.ID, Rasulullah SAW selalu berbuka puasa dengan kurma. Beliau juga menganjurkan untuk berbuka puasa dengan kurma. Sudah menjadi sunnah bagi orang yang berpuasa untuk berbuka dengan kurma.
Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Salman bin Amir RA, dari Nabi SAW Beliau bersabda, "Jika salah seorang kalian hendak berbuka, maka hendaklah ia berbuka dengan kurma. Jika tidak ada, maka hendaklah ia berbuka dengan air sebab ia suci dan menyucikan."
Apakah rahasia dari sunnah yang sederhana tersebut? Apa bisa hikmah berbuka puasa dengan kurma ini bisa diuraikan dengan ilmu pengetahuan dan sains? tentu saja bisa! berikut penjelasannya.
Pada pengujung fase pasca-absorbsi (hari menjelang berbuka puasa), tingkat konsentrasi glukosa dan insulin di urat darah halus portal liver (dam al-warid al-babi al-kabidi) meng­alami penurunan.
Pada gilirannya akan mengurangi operasi glukosa dan pengambilannya melalui sel-sel liver dan ja­ringan-jaringan terminal (ansijah tharfiyyah) seperti sel otot dan sel saraf. Cadangan glikogen liver pun semuanya telah terurai atau nyaris habis.
Dalam kondisi demikian, untuk memperoleh energi, jaringan-jaringan praktis mengandalkan oksidasi asam lemak dan oksidasi glukosa yang diproduksi dalam liver yang berasal dari asam amino dan gliserol.
Karena itu, penyuplaian tubuh sesegera mungkin dengan glukosa dalam waktu ini memiliki banyak sekali manfaat. Konsentrasi glukosa dalam urat darah halus portal liver akan meninggi dengan cepat, begitu mengalami absorbsi.
Kurma merupakan salah satu buah yang kaya gula glu­kosa. Kurma juga merupakan makanan/nutrisi terbaik yang dikonsumsi tubuh kala itu. Kurma mengandung kadar glucida tinggi yang berkisar antara 75-85 % dengan komposisi glu­kosa (55 %) dan fruktosa (45 %).
Ditambah kandungan pro­tein, lemak, beberapa vitamin (A, B2, dan B12) dan sebagian mineral penting, namun yang terpenting adalah kalsium, fos­for, potasium, sulfat, sodium, magnesium, kobalt, seng, florin, tembaga, manganis, dan sejumlah selulosa.

Fruktosa ini akan terkonversi menjadi glukosa dengan kecepatan yang luar biasa dan langsung terserap sistem Pencernaan. Ini bisa mengobati kehausan tubuh akan energi, terutama jaringan-jaringan yang menjadikan glukosa sebagai pemasok utama energi, seperti sel otak dan saraf, sel darah merah, dan sel-sel tulang sumsum (medula).

Sebaliknya, jika manusia mengawali buka puasanya de­ngan menyantap makanan berprotein atau berlemak, maka bahan-bahan makanan ini tidak langsung terserap kecuali se­telah melalui masa pencernaan dan penguraian yang panjang.

Selain itu, cara makan seperti ini tidak membantu tubuh yang saat itu membutuhkan energi dengan cepat. Belum lagi, bah­wa kenaikan asam amino di dalam tubuh akibat makanan yang miskin glucida atau bahkan yang mengandung sedikit glucida sekalipun bisa mengakibatkan penurunan gula darah.
Dengan alasan-alasan ini kita bisa melihat betapa bijaknya Nabi SAW sewaktu beliau memerintahkan kita untuk berbuka puasa dengan kurma.
Redaktur: Hafidz Muftisany
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Terapi Puasa, Oleh Dr. Abdul Jawwad Ash-Shawi

Leave a Reply