Kiat Mempersiapkan Anak Prasekolah Berpuasa

0 komentar
 

“Ayah nggak setuju!” terdengar suara Pak Ahmad agak keras. “Nggak setuju! Masak anak sebesar Lita sudah disuruh berpuasa. Ia kan, baru empat tahun, ya nggak logis, dong!”
Demikianlah, cerita kecil dalam sebuah rumah tangga. Suami tidak setuju kalau anak mereka yang berumur empat tahun berpuasa. Nggak logis dan kasihan, demikian alasan utama sang suami. Sementara Aida, sang istri, sudah mengemukakan beberapa alasan, seperti kebiasaan sejak dini sehingga menimbulkan sensitivitas. Ia juga merasa, Lita sudah cukup umur untuk berpuasa. Apalagi, anaknya sendiri ingin berpuasa. Bagaimananakah sebenarnya penyelesaian masalah ini?
^^^
Asy Syahid Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an yang fenomenal itu mengatakan, “Adalah sesuatu yang logis apabila puasa diwajibkan atas suatu umat yang berkewajiban melakukan jihad di jalan Allah.”
Logis? Ya, karena salah satu syarat untuk bersungguh-sungguh (berjihad) di jalan Allah adalah persiapan yang baik dan benar, seperti pelatihan jasmani, rohani, dan akal. Puasa adalah bentuk latihan ideal.
Mungkin, kita tidak menolak keterangan ini. Namun, persoalannya adalah apakah alasan logis itu cocok untuk anak-anak yang masih prasekolah? Sudah mampukah mereka menahan lapar dan haus yang lama? Tidakkah puasa akan memengaruhi kesehatan mereka?
Anak yang salih dan salihah adalah harapan semua orang tua di mana pun. Tidak hanya kita, umat Islam secara luas membutuhkan generasi yang berdayaguna, tahan uji, kuat, dan terlatih. Generasi harapan ini pasti membutuhkan latihan sejak dini. Fisik, akal, dan jiwanya harus sudah terbiasa dipenuhi dengan keimanan. Sejak dini, anak-anak harus dibiasakan dengan akhlak mulia, makanan yang halal dan sehat, serta lingkungan yang baik pula.
Allah memang Mahakaya dan Maha Mengetahui, makanya untuk kebutuhan tersebut telah disediakan-Nya sebuah bulan latihan, yaitu bulan Ramadan. Bulan yang baik untuk pengondisian dan pembentukananak, baik fisik maupun jiwanya dan bulan di mana mereka dapat lebih dekat dengan ajaran-ajaran agamanya secara lebih khusus.
Rasulullah saw. bersabda, “Ajarilah anak-anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah mereka (pada tempat yang tidak meninggalkan bekas) pada usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.”
Abdullah Nasih Ulwan, ulama pakar pendidikan anak, mengartikan bahwa perintah mengerjakan shalat dapat disamakan dengan ibadah lainnya, seperti puasa. Hal ini berarti proses pelatihan sebaiknya dimulai di bawah umur tujuh tahun supaya ketika anak mencapai usia tujuh tahun sudah mantap ibadah puasanya.
Pada zaman Rasulullah saw., banyak sahabat yang memboyong anak-anak mereka ke masjid dan dihibur dengan mainan bulu apabila anak mereka merengek meminta makan pada siang hari karena sedang berpuasa.
Jadi tidak salah kalau sejak dini, kita sudah membiasakan anak-anak berpuasa sesuai dengan kemampuannya. Asy Syahid Sayyid Quthb menegaskan bahwa puasa merupakan persiapan membiasakan jiwa untuk menghadapi rintangan perjalanan hidup, memantapkan akidah yang kokoh dan teguh, serta kemuliaan untuk menghubungkan manusia dengan Allah berupa ketakwaan dan ketaatan.
Di Kampung Tenjolaya, daerah Ciwidey, melatih puasa sejak dini (prasekolah) untuk sebagian orang, seperti yang dikatakan beberapa guru merupakan kegiatan yang biasa. Hampir semua orang tua di kampung tersebut sepakat untuk melatih anak-anak berpuasa sehingga tidak menjadi beban. Saya jadi ingat judul sebuah buku yang ditulis oleh ibu Hillary Clinton, It Takes a Village to Educate Children.Secara psikologis, ketika semua anak berpuasa maka akan lebih mudah bagi kita sebagai orang tua atau guru membiasakannya.
Dalam mendidik anak prasekolah berpuasa, ada beberapa hal yang harus diperhatikan khususnya oleh orang tua:
  1. Anak-anak, khususnya balita, masih dalam proses perkembangan. Supaya diperhatikan, agar pelatihan puasa tidak mengabaikan fakta ini. Pada anak balita, kebutuhannya terhadap gizi dan waktu tidur masih tinggi.
  2. Harus dipahami bahwa kegiatan berpuasa ini adalah sebuah pelatihan, pengondisian, pembiasaan, dan persiapan anak agar akrab dengan aktivitas ibadah. Bukan sesuatu yang lazim sehingga kebijakan yang diterapkan harus fleksibel sesuai dengan kondisi umur, fisik, dan keadaan psikologis anak.
  3. Meski hal ini hanya pelatihan, tetapi hendaknya dilaksanakan sungguh-sungguh. Sehingga, anak-anak merasa bahwa sebuah pekerjaan sesulit apa pun harus dikerjakan secara serius.
  4. Orang tua atau guru harus yakin dan memahaminya terlebih dahulu sebelum mulai melatih anak atau siswanya berpuasa. Mengapa harus melatih sejak dini penting untuk dipahami? Secara psikologis, melatih di usia dini akan mempermudah penyesuaian berpuasa pada masa remaja atau dewasa. Anak usia dini melakukan segala sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Ketika anak sudah terbiasa menahan lapar dan haus di usianya yang masih muda, hal ini akan membantunya menjadi kuat pada masa remajanya. Semakin dini usia anak dilatih, semakin mudah penyesuaian dirinya pada masa remajanya. Maksudnya, bantuan orang tua dan guru untuk melatih anak berpuasa di usia dini akan mempermudah anak melakukan ibadah puasaterutama pada masa remaja.
Semoga kita sekeluarga diberikan kesehatan dalam menyambut Ramadhan tahun ini.
(Sumber: http://syaamilquran.com)

Leave a Reply