Ingat Shalat Dimanapun Berada

0 komentar
 
Buruh tani Bugel melaksanakan salat duhur di hamparan sawah disela waktu istirahatnya. Foto: Jarot S
KENCANGNYA hembusan angin tidak mengganggu kekhusyukan Satini (60) warga Desa Bugel Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo. Hamparan sawah yang kering, keras dan tidak rata di Desa Gesing Kecamatan Purwodadi pun tidak mengganggunya untuk menunaikan salat duhur. Tidak peduli dimanapun tempatnya, Satini tetap menjalankan kewajiban salatnya.
 
Satini menyadari, hamparan sawah tidak selayak musala atau rumahnya di desa. "Tapi mau ke masjid atau musala jauh, daripada terlambat salat, kami memilih salat di tengah sawah," katanya kepada KRjogja.com, Jumat (27/7).
 
Keberadaannya di areal sawah Desa Gesing juga lantaran pekerjaan. Tenaganya tengah disewa seorang juragan untuk menanam bibit melon di hamparan seluas kurang lebih lima hektare.
 
Buruh lainnya Istiyam (50) mengatakan, salat dilakukan secara bergantian. Mereka tidak bisa melakukan salat berjamaah karena hamparan sawah yang tidak rata. Selesai salat, mereka kembali menjalankani pekerjaannya.
 
Untuk air wudhu, buruh perempuan mengambil dari air sumur pantek yang dibuat pemilik tanah. "Pakai air sumur, sehingga bersih dari najis. Salatnya tetap dengan mukena dan sajadah yang disiapkan dari rumah," ungkapnya.

Salat merupakan kewajiban yang pantang untuk ditinggalkan. Kendati sakit atau sesibuk apapun, bukan menjadi alasan untuk tidak mengerjakan kewajiban itu. Menurutnya, manusia baru boleh berhenti salat jika mendapat haid atau dipanggil Tuhan. "Kami berusaha ingat salat dimanapun berada, kewajiban itu sebagai bentuk syukur kami kepada Tuhan," tegasnya.(Jas)

(Sumber: http://kr.co.id/)

Leave a Reply