Berburu Lailatul Qadar di Jalur Gaza

0 komentar
 
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Sorban putih nan bersih itu selalu melapisi rambut hitamnya yang ikal. Dengan jubah yang juga putih bersih menyelimuti tubuhnya yang tampak semampai, Imam Masjid Al-Umari—masjid termegah di Jalur Gaza—ini sungguh tampak anggun dan kharismatik. 

Ditambah lagi janggut hitam dan rapi yang tumbuh lebat di sekitar dagu dan pipinya, semakin menegaskan bahwa ia benar-benar seorang pengamal sunnah Nabi SAW. Imam masjid itu bernama Syekh Aahid Basyir Zeno, yang juga salah seorang qori (pembaca Alquran) terbaik di Gaza.

Sampai saat ini, penulis masih berada di Jalur Gaza, Palestina, guna menjadi relawan penerjemah dalam program pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza. RSI ini adalah amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina di Gaza. 

Dan Alhamdulillah, berkat izin Allah SWT saya berkesempatan dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan di Jalur Gaza. Sungguh tak pernah terbayangkan di benak kami sebelumnya bahwa kelak kami akan menghabiskan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan 1432 Hijriah di Palestina. Bumi yang diberkahi. Tidak hanya itu, sepuluh hari terakhir Ramadhan kali ini benar-benar terasa sangat spesial, karena kami bisa melaksanakan i’tikaf di salah satu masjid terbesar dan termegah di Jalur Gaza.

Masjid itu bernama Masjid Al-Umari Al-Kabir. Berlokasi di tengah-tengah komplek pasar bernama As-Saaha yang terletak di sebuah distrik bernama Hayu Ad-Darj. Masjid ini awalnya adalah sebuah kuil tempat penyembahan matahari oleh bangsa "Filistin" kuno yang dibangun pada abad ke-3 sebelum masehi. 

Sekitar delapan abad kemudian, bangunan ini dialihfungsikan oleh kekaisaran Bizantium menjadi sebuah gereja. Pada abad ke-7 Masehi bangunan ini direkonstruksi menjadi sebuah masjid oleh Khalifah Umar "Al-Faruq" bin Khathab RA.

Arsitektur masjid ini masih sangat kental dengan gaya kuno ala masjid-masjid Timur Tengah lainnya. Kalau memerhatikan dinding serta tiang-tiang masjid ini, tampak jelas sekali bahwa masyarakat di sini masih benar-benar menjaga keotentikan masjid tua tersebut.

Hal itu terlihat dari kabel-kabel lampu yang tampak melilit tak tersusun rapi, karena memang pada masa Khilafah Ar-Rasyidin teknologi lampu bohlam dan neon belum menyentuh peradaban masyarakat saat itu. Bahkan tidak tampak satu kaca pun menutupi lubang-lubang jendelanya.

Suasana di dalam masjid sungguh terasa sejuk dan terkesan "kalem" dengan warna krem yang monoton yang melapisi seluruh permukaan dinding masjid. Kami semakin terhanyut dalam haru ketika seorang kakek tua menginformasikan, "Di sinilah Khalifah Umar bin Khathab meletakkan dahinya ketika sujud,” sambil menunjuk tempat sujud di dalam mihrab tempat kami berada saat itu.

Bukan hanya fisik masjid ini yang terasa memiliki ruh para mujahid tangguh Islam masa lalu, melainkan para penghuninya pun sungguh menggambarkan bahwa mereka adalah benar-benar anak keturunan para pembebas negeri para nabi ini.

Aktivitas i'tikaf di sini tidak dimulai dari pagi hari, melainkan dari sore hari. Ini dikarenakan keyakinan akan janji Allah yang menurunkan "Lailatul Qadar" pada 10 akhir Ramadhan pada malam hari. 

Sesuai namanya, yaitu "Malam Al-Qadr". Jadi kami di sini menjadikan siang hari untuk istirahat dan malam hari untuk beraktivitas memburu keberkahan malam Lailatul Qadar.

Jumlah mu'takif (orang yang melakukan i'tikaf) di masjid Al-Umari tidak menentu setiap harinya. Di malam-malam genap, jumlahnya sekitar 250 sampai 300 mu'takif. Namun di malam-malam ganjilnya, bisa mencapai 800 mu'takif. Para mu'takif di siang hari pun beda jumlahnya. Hanya sekitar 110 sampai 150 orang.

Dan pada umumnya, mereka adalah mu'takif resmi–termasuk kami—yang memegang kartu peserta i'tikaf dari pihak masjid dengan membayar 30 shekel (mata uang setempat) atau setara dengan Rp 75.000—untuk konsumsi sahur dan iftar selama 10 hari dan menghabiskan 24 jam mereka di dalam masjid.

Durasi siang hari bulan Ramadhan kali ini terbilang sangat panjang. Karena Ramadhan tahun ini merupakan yang terpanas dan terlama siang harinya sejak 40 tahun terakhir. Coba kita Hitung. Azan Subuh dimulai pukul 03.39 waktu setempat dan Azan Maghrib pukul 18.19. Jadi total durasi berpuasa sekitar 15 jam kurang 20 menit dengan suhu siang harinya berkisar antara 40-45 derajat Celcius.

Aktivitas i'tikaf dimulai setelah shalat Maghrib, setelah sebelumnya para sha'imin (orang yang berpuasa) melakukan iftar jama'i atau buka puasa berjamaah dengan tiga butir kurma yang dibagikan oleh petugas masjid dan beberapa teguk air putih.

Sudah kebiasaan yang menjadi budaya di masyarakat arab—Gaza dan Palestina khususnya—bahwa jeda antara shalat Maghrib dan shalat Isya diisi dengan acara makan besar. Dengan nasi kebuli dan daging ayam sebagai menu utamanya dan sari buah dan minuman soda sebagai minumannya.

Demikian juga para mu'takif di masjid Al-Umari. Selesai acara makan besar, biasanya tersisa waktu sekitar 30 menit untuk mempersiapkan diri shalat Isya. Namun ada juga beberapa dari mereka yang melakukan shalat sunnah Nafilah atau tadarus Alquran. Suasana ba'da shalat Maghrib benar-benar terasa tenang dan mengenyangkan.

Selanjutnya para mu'takif berbondong-bondong digiring keluar ruangan oleh petugas i'tikaf menuju teras masjid–yang letaknya masih di dalam dinding masjid—karena ruangan dalam masjid akan digunakan oleh kaum Muslimah untuk shalat Isya dan tarawih berjamaah.

Melihat panasnya suhu udara di Gaza, sebetulnya kami juga lebih memilih untuk shalat di luar ruangan yang beratapkan langit dengan "ber-AC-kan" angin malam,  meskipun tetap terasa panas tanpa bantuan kipas angin yang menempel di tiang-tiang besar masjid.

Lantunan indah nan syahdu ayat suci Alquran dari bibir sang imam utama masjid, benar-benar menghipnotis para jamaah shalat yang jumlahnya mencapai 500 orang itu. 

Untuk shalat Isya dan tarawih, yang menjadi imam tetapnya tidak lain adalah Syekh Aahid Basyir Zeno. Formasi tarawih di Gaza tidak jauh berbeda dengan formasi tarawih sebagaian masjid di Indonesia, yaitu delapan rakaat dengan empat kali tahiyat dan tiga rakaat witir. Yang sedikit berbeda, kalau di sini tiga rakaat witirnya terdiri dari dua rakaat yang disebut "rakatain As-Syafi’i" dan satu rakaat witir.

Mazhab yang dipegang oleh masyarakat Gaza pada umumnya adalah mazhab Syafi'i. Mungkin hal ini dikarenakan Gaza adalah kampung halaman sang imam mazhab tersebut yang lahir di kota Gaza. 

Perbedaan lainnya dalam tarawih di Gaza adalah letak kultum (kuliah tujuh menit)-nya. Kalau di Indonesia biasanya kultum tarawih diletakkan sebelum tiga rakaat witir, di sini kultum diletakkan setelah empat rakaat pertama.

Setelah selesai melakukan shalat Isya dan witir berjamaah di masjid bagian luar, jamaah shalat Muslimah keluar masjid, kembali menuju rumah masing-masing. Acara selanjutnya diisi dengan "dars" atau kajian. Dan biasanya diselingi dengan lantunan syair atau nasyid. Acara yang bisa dibilang "intermezo" i'tikaf ini berlangsung selama 30 menit saja.

Acara berburu Lailatul Qadar yang sesungguhnya baru dimulai setelah selesai tarawih sore. Para mu'takif kembali bangkit dari istirahat sejenaknya untuk kembali melakukan shalat sunnah Qiyamul Lail. Ini yang terasa berbeda dengan kebanyakan masjid di bumi pertiwi yang kami ketahui selama ini.

Pada shalat Qiyamul Lail inilah para qori terbaik di Jalur Gaza silih berganti mengimami jamaah shalat masjid miniatur Masjid Al-Aqsha tersebut. Shalat sunnah per dua rakaat kemudian dimulai sejak pukul 22.00 waktu setempat sampai menjelang sahur, dengan membaca lima lembar mushaf atau setengah juz per satu rakaat dengan bacaan tartil dan tenang.

Jujur saja, untuk kami pribadi tidak terbiasa berdiri lama-lama seperti ini. Jadi wajar saja kalau kedua kaki ini mulai terasa dihinggapi "semut-semut transparan" (kesemutan) dan panas campur pegal. Ini mengingatkan kami kepada aksi longmarch "Cinta Al-Aqsha" yang beberapa kali kami ikuti selama di Indonesia. Berjalan kaki puluhan kilometer di malam hari sebagai aksi menggalang kepedulian masyarakat terhadap kecintaan dalam membebaskan Al-Aqsha.

Dan saat ini, kami dan masjid yang dibangun oleh Nabi Sulaiman AS itu hanya berjarak sekitar 70-80 kilometer saja. "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar... Al-Aqsha haqquna!"

Sementara sebagian besar mu'takif melangsungkan shalat sunnah Qiyamul Lail secara berjamaah di luar, beberapa mu'takif juga tampak melakukan shalat sunnah secara sendiri-sendiri di dalam masjid. 

Dasar memang mental para mujahid tangguh, anak-anak kecil di sini pun tampak asyik sendirian. Berdiri tegak menghadap kiblat dengan tangan kanan memegang mushaf. Mereka shalat dua rakaat dengan setengah juz per rakaat.

Suasana malam hari di Masjid Al-Umari Al-Kabir benar-benar hidup dan sangat terasa seperti di siang hari. Berbeda dengan hari-hari sepuluh terakhir lainnya, ada yang istimewa di hari ke-27 dan 29 Ramadhan. 

Jamaah i'tikaf selalu mencapai lebih dari 1.500 mu'takif. Terutama hari ke-27, masyarakat lebih antusias menghabiskan malam harinya di masjid. Sepertinya mereka sangat meyakini bahwa malam ke-27 inilah kemungkinan terbesar turunnya Lailalul Qadar.

Tidak hanya itu, karena pada malam tersebut, masjid ini kedatangan tamu istimewa. Dialah Abu Al-Abid atau yang biasa kita kenal dengan nama Ismail Haniyah, Perdana Menteri Palestina. Ia senantiasa hadir di masjid tertua di Gaza ini setiap malam ke-27 bulan Ramadhan.

Satu jam menjelang waktu sahur, para panitia i'tikaf segera membentangkan plastik berukuran tipis—namun panjang—untuk menyiapkan sajian sahur para mu'takif. Dengan menu sahur yang selalu serupa, para mu'takif mulai menikmati roti bundar dengan lauk keju, timun dan manisan. Sahur di sini selalu terasa sangat sederhana, namun sangat nikmat oleh kebersamaan dan keberkahannya.

Acara berburu Lailatul Qadar ditutup oleh lantunan merdu imam shalat Subuh yang disusul kajian Subuh sejenak. Selanjutnya para mu'takif istirahat, mengumpulkan stamina untuk beraktifitas di malam selanjutnya.


Redaktur: cr01
Sumber: Muhammad Husain, Relawan MER-C Indonesia di Jalur Gaza-Palestina



Leave a Reply