Tanya Jawab Tentang Puasa (Konsultasi Syariah)

2 komentar
 

Berikut adalah Tanya Jawab tentang hal-hal yang berkaitan dengan Puasa Ramadhan yang saya ambil dari konsultasi syariah com. Semoga bermanfaat !

Hukum Berenang Bagi Orang Puasa
Pertanyaan:
Apa hukum berenang di pantai atau di kolam renang di siang hari Ramadhan?
Jawaban:
Kami katakan, tidak apa-apa orang yang sedang berpuasa berenang di pantai atau kolam renang. Baik itu kolam yang dalam ataupun yang dangkal, ia boleh berenang dan berendam sesukanya, hanya saja harus berusaha semampunya agar air tidak sampai masuk ke dalam tenggorokannya. Renang bisa menambah semangat dan membantunya dalam melaksanakan puasa. Apapun hal yang bisa menambah semangat dalam menaati Allah, maka itu tidak terlarang, karena hal tersebut dapat meringankan beban ibadah pada seorang hamba dan memudahkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman mengenai puasa,
 “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran abgimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. al-Baqarah: 185)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda,
 “Sesungguhnya, agama ini mudah dan tidaklah seseorang berlebihan dalam menjalankan agama, kecuali ia akan terkalahkan.” (HR. al-Bukhari)
Dari itu, boleh berenang di kolam renang atau lainnya. Wallahu a’lam.
Syaikh Ibnu Utsaimin, Masa’il ‘an ash-Shiyam, Dar Ibnul Jauzi, hal. 32
Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2009



Mati Meninggalkan Utang Puasa
Pertanyaan:
Jika seseorang meninggal dengan mempunyai utang puasa Ramadhan, apakah boleh dipuasakan untuknya atau qadha’ itu hanya untuk sehari-hari yang dinadzarkan saja?
Jawaban:
Imam Ahmad berpendapat, bahwa qadha’ itu hanya untuk yang dinadzarkan, adapun yang fardhu tidak perlu di-qadha’-kan untuk orang yang telah meninggal dunia, tapi cukup dengan menyedekahkan dari harta yang ditinggalkannya sebanyak setengah sha’ untuk setiap hari puasa yang terlewatinya. Imam Ahmadrahimahullah berdalilh dengan hadits,
 “Tidaklah seseorang berpuasa atas nama orang lain dan tidaklah seseorang shalat atas nama orang lain.” (HR. Malik)
Sementara mayoritas imam berpendapat, bahwa tidak ada perbedaan antara nadzar dan fardhu, keduanya boleh di-qadha’-kan untuk orang yang telah meninggal dunia, berdasarkan hadits Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Barangsiapa meninggal dan mempunyai kewajiban puasa, maka dipuasakan oleh walinya.”
Hadits yang dijadikan landasan Imam Ahmad, mengandung makna, bahwa tugas itu adalah beban orang-orang yang hidup, dan orang-orang yang hidup itu tidak boleh mewakilkan kepada orang lain dalam urusan ibadah, kecuali dalam kondisi tertentu.
Maka kesimpulannya, bahwa pendapat yang benar insya Allah adalah bahwa qadha’ puasa untuk orang yang telah meninggal bersifat umum, baik yang fardhu maupun yang dinadzarkan.
Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2009



Sunnahkah Mengangkat Tangan Ketika Membaca Doa Qunut?
Pertanyaan:
Apakah disunnahkan mengangkat tangan ketika membaca doa qunut? Adakah dalilnya?
Jawaban:
Ya, disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika membaca doa qunut, karena hal itu diriwiwayatkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau membaca doa qunut dalam shalat fardhu ketika turun bencana. Begitu juga dijelaskan dalam hadits shahih dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththabradhiallahu ‘anhu, bahwa beliau mengangkat kedua tangan pada waktu membaca qunut dalam shalat Witir. Dia adalah seorang Khulafaurrasyidin yang kita diperintahkan untuk mengikutinya.
Jadi, mengangkat kedua tangan ketika membaca qunut dalam shalat Witir adalah sunnah, baik ketika menjadi imam, makmum ataupun shalat sendirian, maka jika Anda membaca qunut angkatlah kedua tangan Anda.
Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007



Hukum Bacaan Doa Qunut Saat Shalat Witir
Pertanyaan:
Kami minta dijelaskan tentang sunnahnya membaca doa qunut, apakah ada doa-doa khusus di dalamnya? Apakah disunnahkan untuk memperpanjang qunut dalam shalat Witir?
Jawaban:
Di antara doa qunut adalah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamkepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib, “Allahumma ihdini fii man hadaita, wa ‘aafini fiman ‘aafaita…” hingga akhir doa yang terkenal. Sedangkan Imam tatkala membacanya harus dengan dhamir jamak; karena dia berdoa untuk dirinya dan untuk orang yang ada di belakangnhya. Jika doa qunut dibaca sepantasnya tidak apa-apa, tetapi jika terlalu panjang sehingga memberatkan makmum atau menjadikan bosan, tidak seharusnya dilakukan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam marah kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu ketika dia memperpanjang shalat bersama kaumnya dan bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu memperpanjang shalat dengan membaca ini dan itu?”
Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007



Hukum Imam Tarawih Shalat dengan Membaca Mushaf
Pertanyaan:
Saya melihat ketika bulan Ramadhan di Mansharim – ini adalah untuk pertama kalinya saya shalat Tarawih di Manthiqah Ha’il – ketika itu imam memegang mushaf dan membacanya, kemudian dia meletakkan di sampingnya dan mengulang-ulang hal itu hingga selesai shalat Tarawih, sebagaimana yang dia lakukan pula ketika shalat malam di sepuluh terakhir Ramadhan. Pemandangan ini mengherankan saya, karena kebiasaan itu tersebar di hampir seluruh masjid-masjid di Ha’il, padahal aku tidak pernah mendapatkannya di Madinah Al-Munawarah misalnya, ketika saya shalat tahun yang lalu sebelum ini. Yang menjadi ganjalan saya, apakah amal tersebut pernah dikerjakan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jika tidak, berarti termasuk bid’ah yang diadakan yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun di antara sahabat maupun tabi’in. Lagi pula, bukankah lebih utama membaca surat pendek yang dihafal imam daripada membaca dengan melihat mushaf dengan target supaya dapt mengkhatamkan bersamaan dengan habisnya bulan, karena imam membaca setiap harinya satu juz? Jika perbuatan tersebut diperbolehkan, manakah dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam?
Jawaban:
Tidak mengapa seorang imam membaca dengan melihat mushaf pada saat shalat Tarawih, agar para makmum kedapatan pernah mendengar seluruh (ayat) al-Quran. Dalil-dalil syar’i dari al-Kitab dan as-Sunnah telah menunjukkan disyariatkannya membaca al-Quran ketika shalat, hal ini berlaku umum baik membaca dengan melihat mushaf ataupun dengan hafalan. Telah disebutkan pula dari Aisyah radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau memerintahkan budaknya Dzakwan untuk mengimaminya ketika shalat tarawih, ketika itu Dzakwan membaca dengan melihat mushaf. Riwayat ini disebutkan oleh al-Bukhari di dalam Shahih-nya secara mu’allaq dan beliau memastikan.
Sumber: Fatawa Syaikh Bin Baaz Jilid 1, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz



Hukum Shalat Isya di Belakang Imam Shalat Tarawih
Pertanyaan:
Seseorang mendatangi shalat jamaah, namun mereka tengah mengerjakan shalat Tarawih dan dia tahu hal itu. Bolehkah dia shalat bersama mereka dengan niat shalat Isya’ ataukah dia harus shalat sendiri?
Jawaban:
Tidak mengapa dia shalat bersama mereka dengan niat shalat Isya menurut pendapat ulama yang paling shahih. Jika imam telah salam, dia berdiri menyempurnakan shalatnya, sebagaimana disebutkan dalam Shahihain dari Mua’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau shalat Isya’ bersama Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kembali kepada kaumnya, lalu beliau shalat bersama mereka (menjadi imam-pent.), namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak mengingkari hal itu. Hal ini menjukkan bolehnya shalat fardhu di belakang imam yang shalat sunnah.
Di dalam hadits shahih disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa pada sebagian tata cara shalat khauf beliau shalat dua rakaat bersama sekelompok pasukan, kemudian shalat dua rakaat lagi bersama kelompok yang lain. Shalat yang pertama adalah shalat fardhu, sedangkan kedua sebagai shalat sunnah, meskipun bagi makmum itu adalah shalat wajib, wallahu waliyut taufiq.
Sumber: Fatawa Syaikh Bin Baaz Jilid 1, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz



Apakah Berkata Kotor di Bulan Ramadhan Membatalkan Puasa?
Pertanyaan:
Apakah perkataan kotor di siang hari bulan Ramadhan dapat membatalkan puasa?
Jawaban:
Jika kita membaca firman Allah,
 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 183)
Kita tahu, bahwa hikmah kewajiban puasa adalah agar bertakwa dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah meninggalkan apa yang diharamkan. Secara mutlak takwa adalah menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, selalu mengerjakannya dan tidak meninggalkan kebodohan, maka Allah tidak akan memberikan pahala atas puasanya.” (HR. al-Bukhari)
Dari sini jelaslah bahwa orang yang berpuasa hendaknya menjauhi hal-hal yang diharamkan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, sehingga dia tidak mencela manusia, tidak berdusta, tidak mengadu domba di antara mereka, tidak menjual barang haram, dan menjauhi semua perbuatan haram. Jika manusia mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang selama sebulan penuh, maka jiwanya akan lurus pada bulan-bulan berikutnya.
Tetapi sayang, banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak membedakan antara hari puasa dengan hari berbuka mereka, sehingga mereka tetap melakukan kebiasaan yang biasanya mereka lakukan, seperti berkata kotor, berdusta, mencela dan sebagainya, tanpa merasa bahwa dirinya sedang menjalankan ibadah puasa. Memang semua perbuatan tercela itu tidak membatalkan puasa, tetapi dapat mengurangi pahalanya dan mungkin di hari perhitungan kelak pahala puasanya hilang sama sekali.
Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007



Udzur yang Membolehkan Berbuka Puasa
Pertanyaan:
Apa saja udzur yang membolehkan untuk berbuka?
Jawaban:
Udzur yang membolehkan untuk berbuka adalah sakit dan bepergian seperti yang dijelaskan al-Quran. Di antara udzur lainnya adalah wanita hamil yang takut akan membahayakan dirinya atau janinnya jika berpuasa, wanita menyusui yang takut akan membahayakan dirinya dan anaknya jika berpuasa, dan seseorang yang perlu berbuka untuk menyelamatkan orang yang sedang menghadapi marabahaya. Seperti seseorang yang menemukan orang tenggelam di lautan sehingga orang itu harus berbuka atau menemukan orang di tempat yang terkunci yang di dalamnya ada kebakaran, sehingga dia harus berbuka puasa untuk menyelamatkannya. Maka, dalam keadaan seperti ini dia boleh berbuka dan menyelamatkannya. Begitu juga orang yang perlu berbuka supaya kuat dalam berjihad di jalan Allah. Semua itu termasuk sebab-sebab yang membolehkan seseorang berbuka puasa, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sahabat-sahabatnya dalam Perang al-Fath,
“Besok kalian akan menghadapi musuh dan berbuka akan lebih kuat bagi kalian, maka berbukalah.” (HR. Muslim)
Jika seseorang menemukan sebab yang membolehkannya berbuka, lalu dia berbuka, maka tidak wajib baginya menahan diri dari makan dan minum pada sisa harinya. Jika telah ditakdirkan bahwa seseorang harus berbuka untuk menyelamatkan orang yang sedang dalam bahaya, maka dia harus tetap berbuka seperti biasa walaupun setelah penyelamatan, karena dia berbuka berdasarkan sebab yang membolehkannya berbuka. Maka dari itu, kami berpendapat dengan pendapat yang kuat dalam masalah ini bahwa orang yang sakit, lalu sembuh di siang hari padahal dia sudah berbuka, maka tidak wajib baginya untuk menahan diri dari makan dan minum. Jika seorang musafir telah sampai di negerinya pada waktu siang hari, padahal dia sudah berbuka, maka dia tidak wajib menahan diri. Seorang wanita haid yang suci di pertengahan siang, tidak wajib menhan diri pada sisa siangnya, karena mereka semua berbuka berdasarkan sebab yang membolehkan mereka berbuka. Bagi mereka, pada hari itu tidak ada kewajiban untuk memuliakan puasa, karena syariat membolehkan mereka berbuka di dalamnya sehingga mereka tidak wajib menahan diri.
Kasus ini berbeda dengan orang yang baru tahu bahwa dia telah masuk bulan Ramadhan di pertengahan siang. Orang yang baru tahu bahwa dia masuk di bulan Ramadhan setelah pertengahan siang, pada saat itu juga dia harus menahan diri. Perbedaan antara keduanya jelas; jika ada keterangan tentang datangnya bulan puasa di pertengahan siang, maka orang yang baru tahu wajib menahan diri pada sisa hari berikutnya, tetapi dia dimaafkan jika dia tidak menahan diri sebelum adanya keterangan itu.
Maka dari itu, jika dia tahu bahwa hari itu sudah masuk bulan Ramadhan, maka dia harus menahan diri. Sedangkan orang yang mendapatkan udzur syar’i seperti yang kami paparkan di atas, diperbolehkan berbuka walaupun dia tahu bahwa hari itu hari puasa. Antara keduanya terdapat perbedaan yang jelas.
Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007



Gigi Tanggal dan Menelan Ludah Batalkan Puasa?
Pertanyaan:
Apakah tanggalnya gigi geraham orang yang sedang berpuasa membatalkan puasanya? Dan apakah menelan ludah serta memeriksakan darah juga membatalkan puasa?
Jawaban:
Darah yang keluar karena tanggalnya gigi atau lainnya tidak membatalkan puasa, karena tidak menimbulkan efek seperti yang ditimbulkan oleh berbekam (hijamah). Demikian juga mengeluarkan darah untuk pemeriksaan medis tidak membatalkan puasa. Adakalanya dokter perlu mengambil sampel darah si sakit untuk diperiksa agar bisa memastikan penyakit yang dideritanya, hal ini juga tidak membatalkan puasa, karena biasanya darah yang diambil itu hanya sedikit sekali dan tidak menimbulkan efek pada tubuh seperti yang ditimbulkan oleh berbekam. Maka dengan begitu, tidak membatalkan puasa. Hukum asalnya adalah tetap berpuasa dan tidak mungkin kita menyatakannya rusak, kecuali berdasarkan dalil syar’i.
Dalam kasus ini, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa orang yang berpuasa menjadi batal karena keluarnya sedikit darah yang seperti itu. Adapun mengambil darah dalam jumlah banyak dari orang yang berpuasa untuk ditransfusikan kepada orang lain yang membutuhkan umpamanya, jika darah yang dikeluarkannya itu dalam jumlah banyak yang berpengaruh terhadap tubuh seperti dampak yang diakibatkan oleh berbekam, maka hal itu membatalkan puasa. Karena itu, jika puasa tersebut puasa wajib, maka seseorang tidak boleh mendonorkan darah dalam jumlah banyak kepada orang lain, kecuali yang membutuhkan darah itu dalam kondisi berbahaya dan tidak mungkin ditangguhkan hingga Maghrib, sementara para dokter telah menyatakan, bahwa darahnya orang yang sedang berpuasa itu bisa berguna baginya dan bisa menghalau bahayanya. Dalam situasi seperti ini ia boleh mendonorkan darahnya, dan dengan begitu ia telah berbuka sehingga dibolehkan makan dan minum agar kekuatan tubuhnya kembali pulih, lalu ia meng-qadha’ hari tersebut di lain hari. Wallahu a’lam.
Syaikh Ibnu Utsaimin, Masa’il ‘an ash-Shiyam, Dar Ibnul Jauzi, hal. 24-25.
Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2009




2 Responses so far.

  1. halo pak .ada yg mau sy tanyakan pak ,
    2 hari lagi umat islam akan menjalankan puasa, namun saya masih ada utang puasa Nazar 2 hari .puasa tsb mau sy byr dihari ini dan besok . tapi ketika saya bangun sahur td subuh ,saya awalnya mengira di jam dinding itu pukul setengan lima kurang sy pun lalu menyemptkan makan sahur sbntr .setelah sy mkn beberapa sendok dan mata sy melirik ke jam lagi , ternyata saya salah lihat! rupanya bukan jam setengan lima tapi jam setengan enam . saat itu sudah jm stgh enam dan sy tdk mungkin makan hingga satu jam dari 2-3 sendok suap .pantas saja dari tadi saya tidak mendengar ngaji atau azan . lalu pak ,
    1) apakah puasa sy batal atau tidak pak ?
    sebaiknya sy teruskan atau tidak ?
    saya takut jika azab jika tdk mengganti nazar sy pak , apa puasa sy masih sah pak ?

    2) saya ingin bertanya lg pak , saya juga masih ada hutang puasa 9 harri dr tahun kmrin , sy bnr2 ceroboh dan selalu lupa untuk menggantinya .sy skrg sgt merasa bersalah dan sy takut azab Allah pak , hutang puasa saya 9 hari namun puasa tinggal 2 hari lagi dan 2 hari itupun sy isi dg puasa nazar .
    bagaimana cr nya mengganti puasa 9 hari tsb pak ?
    bolehkah jika sy membayar fidyah saja ?

  2. 1. Puasanya dapat diteruskan dan tetap syah.

    2. Setelah puasa ramadhan 1434H besok usai (setelah puasa Syawal) anda segera mengganti sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan. Tidak alasan yang syar'i untuk mengganti dengan fidiyah.

Leave a Reply