Puasa Dan Al Qur’an


“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS Al-Baqarah: 185). 

Pendahuluan 
Puasa  di bulan Ramadhan erat kaitannya dengan Al Qur’an. Dalam surat yang berkaitan dengan turunnya kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan disebutkan pula mengenai diturunkannya Al Qur
an. Bahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan, Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi lainnya juga pada bulan Ramadhan. Oleh sebab itulah maka kedudukan bulan Ramadhan penting sekali. Dari bulan inilah bermula firman-firman Allah yang mulia ini disampaikan kepada Rasulullah SAW untuk generasi terakhir dari umat manusia. Al Quran yang turun berangsur-angsur diturunkan Mekkah dan Medinah memberikan kerangka yang jelas bagi umat manusia bagaimana way of life yang dikehendaki oleh-Nya. 
Satu generasi terbaik zaman Rasulullah SAW telah membuktikan dengan berbekal Al Qur’an ini seluruh pencapaian peradaban bisa diwujudkan. Prestasi itu tidak hanya secara individual tercipta manusia-manusia shaleh kelas dunia tetapi juga secara kolektif Al Qur’an telah mencetak generasi baru yang berkiblat kepada pengabdian semata-mata kepada Allah SWT. Generasi umat Islam pertama yang tidak diperhatikan dunia telah melahirkan peradaban selama tujuh abad dan dibanggakan sampai sekarang. Mereka lahir ke pentas peradaban dunia dengan panji-panji Islam yang didasarkan kepada Al Qur’an. 
Begitulah Al Qur’an dalam kehidupan ini. Jika terdapat generasi yang bisa membentuk peradaban baru melalui Al Quran yang mulia inilah maka saatnya kita merenungkan bahwa generasi seperti itu telah dijanjikan pula oleh Al Qur’an untuk masa-masa lainnya hingga empat belas abad kemudian. Semuanya bisa dicapai dengan syarat-syarat yang telah ditempuh oleh generasi salafusalih. Rasulullah bersabda: 
“Puasa dan Al-Qur`an itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur`an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah Swt. memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani) Tidak lama lagi, peristiwa turunnya Al Qur’an yakni Nuzulul Al Qur’an akan diperingati. Saatnya kita mengenal lebih jauh mengenai ayat-ayat pertama yang diturunkan kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW. Dan juga kewajiban kita berkaitan dengan Al Qur’an. 

Empat kewajiban 
Dari berbagai kajian ulama, dapat disebutkan disini sedikitnya empat kewajiban kita kepada Al Qur’an. Dalam bulan Ramadhan ini saatnya kita juga bersama-sama memperbaharui sikap kepada Kitab Suci terakhir ini. Pertama, seperti disebutkan dalam Surat Al Baqarah bahwa Al Qur’an adalah Al Huda dan Al Furqan. Pemandu dan Pembeda. Dalam ayat lain seperti surat Al Fath ayat 28 dimana Rasulullah menerima Al Huda dan Dinul Haq. Maka Al Quran merupakan sebuah panduan kehidupan secara individu maupun masyarakat. Tingkat nasional maupun internasional. 
Disinilah kita diperintahkan untuk meyakini sedalam-dalamnya bahwa sistem kehidupan yang dibawa Al Qur’an merupakan sesuatu yang haq dan menyelamatkan umat manusia. Seluruh petunjuk Al Qur’an merupakan kerangka kesuksesan kehidupan di dunia dan akhirat. Ambil saja sebuah surat seperti Al Alaq ayat satu Iqro (Bacalah) maka tersurat dan tersirat kewajiban kita untuk menuntut ilmu setiap hari tanpa henti dari sejak lahir sampai liang kubur. Kedua, karena adanya keyakinan itulah Al Qur’an dijadikan sebagai hiasan dalam kehidupannya. Kemanapun dia pergi baik dalam kepentingan individu, keluarga dan komunitas Al Qur’an dijadikan sebagai sandaran utamanya. Al Qur’an menjadi perhatian kita setiap hari apalagi di bulan Ramadhan baik dengan cara mendengarkannya sesering mungkin, dibandingkan mendengar lagu-lagu pop; membacanya secara sungguh-sungguh, selembar demi selembar. Dan tentu saja kecintaan dan keyakinan itu akan mendorong kesungguhan dalam menambah khasanah bacaan Al Qur’an.“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 204).Kita dianjurkan untuk tadarus Al Quran secara rutin Dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil Al-Qur`an dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur`an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” Rasulullah Saw. bersabda,“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh kali. Aku tidak katakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HRTirmidzi). 

Ketiga, . “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).Ali bin Abi Thalib Ra. berkata, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur`an kecuali dengan tadabbur.”Oleh sebab itulah kewajiban kita adalah menghayati Al Qur’an. Menyerap semua hikmah dalam Al Qur’an adalah kewajiban kita. Menyelamati dan merenungkan ayat-ayat Al Qur’an serta menghayati kebesaran Allah SWT dengan firman-firmannya seyogyanya menjadi keseharian kita. Terakhir, sesuatu yang wajar apabila kita memiliki keyakinan kepada Al Qur’an sebagai sumber keberhasilan hidup ini, maka dorongan untuk mengamalkannya menjadi alamiah. Artinya dalam diri tidak ada paksaan karena meyakini dengan jalan inilah keselamatan dan kesuksesan hidupnya dapat diraih.Allah berfirman dalam surat Al An’am:155. “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS Al-An’am: 155).  

Penutup Rasulullah menyatakan orang yang jenius adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan hari akhir, kehidupan yang abadi. Wal akhirati khairul minal uula. Kehidupan hari akhir lebih baik dari kehidupan dunia. Al Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan ini adalah panduan kesuksesan mempersiapkan kehidupan di hari akhirat. Jadi mereka yang membaca, mengkaji, menghayati dan mengamalkanya tergolong orang dan umat jenius.Wallahu a’lam bishshawab. (dari berbagai sumber)

Posting Komentar