Kumpulan Tanya Jawab Puasa Ustadz Ahmad Sarwat

0 komentar
 
Berikut beberapa arsip Tanya Jawab tentang Puasa dari Ustadz Ahmad Sarwat Lc di Eramuslim dan dari situs beliau sendiri :
1.Puasa dan produktifitas
2.Bagaimana menentukan awal ramadhan
3.Tradisi bermaaf-maafan sebelum puasa
4.Hadits tidurnya orang puasa adalah ibadah
5.Bagaimana cara membayar hutang puasa ramadhan
6.Apa saja yang dilakukan saat i'tikaf

Puasa dan Produktifitas
Assalamu 'alaikum pak Ustadz,
Begitu sering kita dapati sebagian umat Islam yang banyak tidur di siang hari bulan Ramadhan, bahkan sampai meninggalkan kewajiban kerja dan merusak disiplin yang telah ditetapkan perusahaan.
Mohon dijelaskan pak Ustadz, apakah memang demikian ketentuannya dari segi syariah, yaitu bahwa di bulan Ramadhan memang waktunya untuk banyak tidur dan mengurangi kerja serta produkfitas. Adakah hal itu memang dibenarkan syariah?
Hal ini penting karena yang saya dapati dari kebanyakan teman-teman memang suka tidur di siang hari bulan Ramadhan dengan alasan malamnya tarawih, tahajud, bangun sahur dan seterusnya.
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jawaban ustadz
Wassalam
H Bondan
bondanmaknyus@yahoo.com
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Memang benar apa yang anda sampaikan bahwa salah satu cara penyikapan yang perlu dikoreksi dari kebanyakan umat Islam adalah masalah banyak tidur di kala puasa. Seolah-olah datangnya bulan Ramadhan menjadi legitimasi untuk memperbanyak jam tidur siang. Walau pun hal itu terjadi pada jam-jam kerja sehingga menjadikan jam kerja di bulan Ramadhan menjadi kurang produktif.
Hal seperti itu bisa kita lihat dari pemandangan yang kita lihat di masa sekarang ini, di siang hari bulan Ramadhan, di mana masjid-masijd dipenuhi oleh tubuh-tubuh bergelimpangan untuk tidur di jam-jam produktif. Sayangnya melakukan hal itu dengan alasan karena malamnya melakukan shalat malam atau karena bangun sahur.
Namun benarkah syariat Islam mendisain seperti itu? Mari kita lakukan sedikit kajian.
Jadwal Shalat Malam
Sebenarnya kalau kita teliti lebih jauh, shalat malam tidak hanya dianjurkan di dalam bulan Ramadhan saja, tetapi di luar Ramadhan pun sama juga dianjurkan. Rasulullah SAW dan para shahabat terbiasa bangun di tengah malam dan melakukan qiyamullail, bukan hanya di bulan Ramadhan saja tetapi juga di luar bulan Ramadhan.
Namun kita juga tahu bahwa pada siang hari, Rasulullah SAW dan para shahabat tetap bekerja di siang hari dan tetap produktif dalam kerjanya.Hal itu dibuktikan dengan begitu banyaknya prestasi dan kemenangan yang mereka raih selama bulan Ramadhan.
Lalu apa rahasianya?
Ada banyak hal yang menyebabkannya. Tetapi ada salah satu bahan pemikiran yang barangkali berguna untuk kita renungkan.
Begini, kalau kita teliti nash-nash tentang jadwal siklus kehidupan yang dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat, ternyata memang ada sedikit perbedaan cara puasa dan ibadah antara kita.
Ternyata Rasulullah SAW tidak tidur sebelum shalat 'Isya namun tidak suka berbicara (begadang) setelah shalat 'Isya'. Dan itu banyak dijelaskan dalam banyak riwayat. Lalu apa yang bisa kita tarik kesimpulan dari hal ini?
Seandainya kita di masa sekarang ini menerapkan konsep jadwal siklus kehidupan seperti dalam riwayat di atas, mungkin hasilnya akan berbeda. Cobalah setelah shalat Isya' jam 19.00 atau jam 20.00 malam, kita langsung tidur, tidak nonton TV atau mengerjakan hal-hal lain.
Maka kalau kita hitung-hitung, ternyata kita akan tidur lebih awal dari biasanya. Dengan tidur di waktu sesiang itu, kalau seandainya di tengah malam kira-kira jam 02.00 atau jam 03.00 malam kita bangun untuk tahajjud, secara matematis jam tidur kita sudah sangat cukup. Sudah sekitar 7 jam lamanya. Dan tidak ada lagi alasan untuk mengantuk, baik setelah shubuh atau pun di siang hari.
Sayangnya, justru yang sering kita lakukan justru sebaliknya. Kita terbiasa tidur larut malam. Setelah shalat 'Isya' kita sering masih keluyuran ke sana kemari, atau bahkan malah belum tiba di rumah.
Lalu anggaplah kita tidur jam23.00 atau jam 24.00 malam, lalu kita ingin bangun shalat tahajjud atau bangun sahur, secara matematis ternyata kitabaru tidur selama 2 atau 3 jam saja.
Secara perhitungan manusiawi normal umumnya, sangat logis kalau tubuh kita minta tambahan jam tidur di siang hari, entah ba'da shubuh atau pun ba'da shalat Dzhuhur.
Padahal kalau kita bisa atur jadwal seperti di atas, insya Allah tidak akan ada masalah dengan jadwal tidur dan istirahat.
Jadwal Sahur Yang Tepat
Sebagian dari kita ada yang menjadikan bangun malam untuk makan sahur sebagai penyebab untuk dimakluminya tidur di siang hari. Padahal kalau mau ikut sunnah Rasulullah SAW, seharusnya bangun sahur tidak perlu dijadikan alasan untuk mengantuk di siang hari.
Sebab yang disunnahkan ketika makan sahur itu adalah yang semakin dekat dengan waktu shubuh. Katakanlah 15 menit sebelum masuk waktu shubuh sampai setengah jam. Dengan demikian, kalau ada jam tidur malam kita yang terambil untuk sahur, paling banyak hanya 30 menit saja. Dan seandainya kita tidur agak awal setengah jam, maka hitung-hitungannya akan sama saja.
Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidur di siang hari. Karena jam tidur malam kita praktis tidak ada yang berkurang. Kecuali hanya beberapa menit saja.
Sebaliknya, kalau kita sudah bangun sejak jam 2 malam untuk sahur dan kemudian setelah itu tidak tidur lagi sampai shubuh, pastilah siangnya kita akan mengantuk. Sebab secara perhitungan manusiawi, tubuh kita masih kekurangan jam tidur.
Masalah Cara Pandang
Tetapi yang paling serius menyebabkan kebanyakan umat Islam tidur di siang hari bulan Ramadhan dan menjadi tidak produktif adalah masalah cara pandang yang keliru.
Selama ini, seolah semua pihak menjadi maklum kalau siang hari bulan Ramadhan itu tidak produktif. Mereka maklum karena malam hari digunakan untuk ibadah dan juga makan sahur.
Padahal cara pandang seperti ini tidak sepenuhnya benar. Buktinya, segudang prestasi umat di masa lalu terjadi di bulan Ramadhan. Kalau mereka kerjanya hanya 'molor' dan bermalas-malasan di siang hari, mustahil prestasi dan kemenangan demi kemenangan bisa diraih.
Tetapi sekali lagi, masalahnya memang ada pada cara pandang yang keliru. Selama cara pandang keliru itu masih bersemayam di otak kita, maka selama itu pula kita aka kehilangan jam-jam produktif di siang hari selama bulan Ramadhan.
Sejarah Prestasi Umat Islam di dalam Bulan Ramadhan
Bahkan ada begitu banyak catatan sejarah tentang prestasi umat Islam yang terjadi di bulan Ramadhan. Di antaranya:
Perang Badar Kubra terjadi pada 17 di bulan Ramadhan tahun 2 hijriyah
Fathu Makkah terjadi tanggal 21 bulan Ramadhan tahun ke-8 hijriyah
Tersebar agama Islam pertama kali di negeri Yaman terjadi di bulan Ramadhan tahun ke-10 hijriyah
Perang Zallaqah terjadi pada bulan Ramadhan, tanggal 25 tahun 479 hijriyah
Perang 'Ain Jalut terjadi pada tanggal 15 Ramadhan tahun 658 hijriyah
Islam masuk ke Spanyol pertama kali pada 28 Ramadhan tahun 92 hijriyah, di tangan Thariq bin Ziyad
Dan sebenarnya masih banyak lagi berbagai prestasi umat Islam yang tercatat dengan tinta emas sejarah, di mana semua terjadi justru di dalam bulan Ramadhan.
Wasslamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Bagaimana Menentukan Awal Ramadhan
Assalamualaikum ustadz,
Mau tanya bagaimana caramenentukan awal ramadhan? Begitu aja, terima kasih,
wassalam
Adityanugroho
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bulan Ramadhan masih satu bulan lagi. Tapi sudah ada yang sejak dini bertanya tentang bagaimana cara menentukan awal Ramadhan. Berarti kita ini memang sudah jauh-jauh hari menyiapkan mental menghadapi Ramadhan.
Untuk menentukan awal Ramadhan, ada dua cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan telah diajarkan secara sambung-menyambung dari generasi ke generasi oleh silsilah para ulama.
1. Melihat Bulan (ru`yatul hilal)
Yaitu dengan cara memperhatikan terbitnya bulan di hari ke 29 bulan Sya`ban. Pada sore hari saat matahari terbenam di ufuk barat.
Apabila saat itu nampak bulan sabit meski sangat kecil dan hanya dalam waktu yang singkat, maka ditetapkan bahwa mulai malam itu, umat Islam sudah memasuki tanggal 1 bulan Ramadhan.
Jadi bulan Sya`ban umurnya hanya 29 hari bukan 30 hari. Maka ditetapkan untuk melakukan ibadah Ramadhan seperti shalat tarawih, makan sahur dan mulai berpuasa.
2. Ikmal
Menggenapkan umur bulan Sya`ban menjadi 30 hari Tetapi bila bulan sabit awal Ramadhan sama sekali tidak terlihat, maka umur bulan Sya`ban ditetapkan menjadi 30 hari (ikmal) dan puasa Ramadhan baru dilaksanakan lusanya.
Perintah untuk melakukan ru`yatul hilal dan ikmal ini didasari atas perintah Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Hurairah ra.:
Puasalah dengan melihat bulan dan berfithr (berlebaran) dengan melihat bulan, bila tidak nampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya`ban menjadi 30 hari.(HR Bukhari dan Muslim).
Sedangkan metode penghitungan berdasarkan ilmu hisab dalam menentukan awal Ramadhan tidak termasyuk cara yang masyru` karena tidak ada dalil serta isyarat dari Rasulullah SAW untuk menggunakannya.
Ini berbeda dengan penentuan waktu shalat di mana Rasulullah SAW tidak memberi perintah secara khusus untuk melihat bayangan matahari atau terbenamnya atau terbitnya atau ada tidaknya mega merah dan seterusnya.
Karena tidak ada perintah khusus untuk melakukan rukyat, sehingga penggunaan hisab khusus untuk menetapkan waktu-waktu shalat tidak terlarang dan bisa dibenarkan.
Ikhtilaful Mathali`
Ada perbedaan pendapat tentang ru`yatul hilal, yaitu apakah bila ada orang yang melihat bulan, maka seluruh dunia wajib mengikutinya atau tidak? Atau hanya berlaku bagi negeri di mana dia tinggal?
Dalam hal ini para ulama memang berbeda pendapat:
1. Pendapat Pertama
Pendapat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Mereka menetapkan bahwa bila ada satu orang saja yang melihat bulan, maka semua wilayah negeri Islam di dunia ini wajib mengikutinya.
Hal ini berdasarkan prinsip wihdatul mathali`, yaitu bahwa mathla` (tempat terbitnya bulan) itu merupakan satu kesatuan di seluruh dunia. Jadi bila ada satu tempat yang melihat bulan, maka seluruh dunia wajib mengikutinya.
Pendapat ini didukung oleh Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal.
2. Pendapat Kedua
Pendapat ini adalah pendapat Imam Syafi`i rahimahullah. Beliau berpendapat bahwa bila ada seorang melihat bulan, maka hukumnya hanya mengikat pada negeri yang dekat saja, sedangkan negeri yang jauh memeliki hukum sendiri. Ini didasarkan pada prinsip ihktilaful mathali` atau beragamnya tempat terbitnya bulan.
Ukuran jauh dekatnya adalah 24 farsakh atau 133, 057 km. Jadi hukumnya hanya mengikat pada wilayah sekitar jarak itu. Sedangkan diluar jarak tersebut, tidak terikat hukum ruk`yatul hilal.
Dasar pendapat ini adalah hadits Kuraib dan hadits Umar, juga qiyas perbedaan waktu shalat pada tiap wilayah dan juga pendekatan logika.
Perbedaan Umat Islam Indonesia
Ada sebuah fenomena menarik di Indonesia, yaitu umat Islam di Indonesia paling sering berbeda-beda dalam menetapkan awal Ramadhan. Perbedaan itu kadang terjadi dalam satu rumah. Ayah dan ibu mulai puasa hari ini, tapi anak-anaknya baru mulai puasa besok.
Entah apa sebabnya, mungkin karena kebanyakan jumlah rakyatnya, atau kebanyakan ormasnya, atau mungkin juga kelebihan pe-de nya.
Yang jelas, kita selalu menyaksikan masing-masing ormas seolah merasa punya hak otoritas menetapkan tanggal 1 Ramadhan dan juga tanggal 1 Syawal. Setidaknya untuk konstituen mereka sendiri.
Pemandangan aneh seperti ini tentu tidak terlalu banyak terjadi di luar Indonesia. Umumnya, urusan penetapan seperti itu 100% diserahkan pemerintah. Masing-masing ormas tidak pernah merasa berhak untuk menetapkan sendiri.
Jadi cerita seperti ini memang lebih khas Indonesia.
Dan lebih lucu lagi, bukan hanya ormas yang sering tidak kompak dengan pemerintah, tetapi di dalam satu ormas pun terkadang sering terjadi tidak kompak juga. Misalnya, ketika DPP ormas tertentu mengatakan A, belum tentu DPW atau DPD dan DPC-nya bilang A. Masing-masing sturktur ke bawah kadang-kadang masih merasa lebih pintar untuk menetapkan sendiri jadwal puasa.
Selain itu, juga ada ormas yang selalu menginduk ke jadwal puasa di Saudi Arabia. Mau lebaran hari apa pun, pokoknya ikut Saudi.
Bahkan mungkin karena saking semangat untuk ijtihad, ada ormas yang sampai menasehati pemerintah untuk tidak usah mencampuri masalah ini.
Semua pemandangan ini hanya terjadi di Indonesia, ya, sangat khas Indonesia. Dan ceritanya dari zaman nenek moyang sampai abad internet sekarang ini masih yang itu-itu juga. Pokoknya, Indonesia banget deh.
Kita Ikut Siapa Dong?
Sebenarnya apa pun yang dikatakan baik oleh NU, Muhammadiyah, Persis dan lainnya, semua tidak lepas dari ijtihad. Karena tidak ada nash baik Quran maupun hadits yang menyebutkan bahwa lebaran tahun 1428 hijriyah jatuh tanggal sekian.
Dan sebagai muslim, kita wajib menghormati berbagai ijtihad yang dilakukan oleh para ahlinya. Lepas dari apakah kita setuju dengan hasil ijtihad itu atau tidak.
Dan karena kita bukan ahli ru'yat, juga bukan ahli hisab, kita juga tidak punya ilmu apa-apa tentang masalah seperti itu, maka yang bisa kita lakukan adalah bertaqlid atau setidaknya berittiba' kepada ahlinya.
Kalau para ahlinya berbeda pendapat, 100% kita punya hak untuk memilih. Tidak ada satu pun ulama yang berhak untuk memaksakan kehendaknya, apalagi menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan hasil ijtihadnya. Toh kalau ijtihad itu benar, ulama itu akan dapat pahala. Sebaliknya kalau salah, beliau tidak berdosa, bahkan tetap dapat satu pahala.
Berpuasa dan Berlebaran Bersama Mayoritas Umat Islam
Salah satu hadits menyebutkan sebagai berikut:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.
Hadits rasanya agak cocok buat keadaan kita yang bukan ulama, bukan ahli ru'yat atau ahli hisab. Kita adalah para muqaalid dan muttabi'. Maka jadwal puasa kita mengikuti umat Islam umumnya di suatu negeri.
Kalau di Indonesia umumnya atau mayoritasnya lebaran hari Sabtu, ya kita tidak salah kalau ikut lebaran hari Sabtu, meski tetap menghormati mereka yang lebaran hari Jumat. Sebab lebaran di hari di mana umumnya umat Islam lebaran adalahhal paling mudah danjuga ada dalilnya serta tidak membebani.
Tapi kalau ternyata 50% ulama mengatakan lebaran jatuh hari Jumat dan 50% lagi mengatakan hari Sabtu, lalu mana yang kita pilih?
Jawabnya bahwa dalam hal ini syariah Islam memberikan kewenangan dan hak untuk menengahi perbedaan pendapat di kalangan umat. Sebagaimana pemerintah berhak untuk menjadi wali atas wanita yang tidak punya wali untuk menikah.
Berpuasa dan Berlebaran Bersama Pemerintah Islam
Jadi pemerinah resmi yang berkuasa diberikan wewenang dan otoritas untuk menetapkan jatuhnya puasa dan lebaran, di tengah perbedaan pendapat dari para ahli ilmu, ahli hisab dan ahli falak.
Kewenangan seperti ini bukan tanpa dalil, justru kita menemukan begitu banyak dalil yang menegaskan hal itu. Bahkan para ulama sejak dulu telah menyatakan bahwa urusan seperti ini serahkan saja kepada pemerintah yang sah. Kalau pun pemerintah itu salah secara sengaja dan berbohong misalnya, maka dosanya kan mereka yang tanggung.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.”
Beliau juga berkata mengutip hadits nabi SAW: “Tangan Allah SAW bersama Al-Jama’ah."
Apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal kemudian diamini oleh para ulama hingga sekarang ini. Salah satunya adalah arahan dan petunjuk dari Al-'AllamahSyeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.
Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tradisi Bermaafan Sebelum Puasa

Assalamualaikum wr wb ustadz,
Pertanyaan saya sebagai berikut:
Apakah bermaaf-mafan sebelum memasuki bulan Ramadhan sejalan dengan Hadis Rosululloh SAW? Bila ya, bisa ustadz tolong jelaskan dengan hadisnya.
NHLB
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sepanjang apa yang kami ketahui, sampai saat ini -wallahu a'lam- kami masih belum menemukan nash hadits yangmenyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan atau mencontohkan kita untuk saling bermaafan, khususnya pada saat menjelang masuknya bulan Ramadhan.
Entahlah barangkali ada ustadz atau ulama hadits yang menemukan dalilnya. Tentu kalau ada dan shahih serta eksplisit redaksinya, kita pun perlu untuk melakukannya.
Adapun bermaaf-maafan secara umum, tidak terkait dengn masuknya bulan Ramadhan, sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Begitu banyak dalil untuk meminta maaf dan memberi maaf. Salah satunya adalah firman Allah SWT berikut ini:
فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al-Baqarah: 109)
Demikian juga di dalam ayat lain disebutkan bahwa memaafkan orang lain adalah sifat orang bertaqwa. Sementara tujuan kita berpuasa adalah juga agar kita menjadi orang yang bertaqwa.
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَالَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali Imran: 132-133)
Di dalam ayat lain, disebutkan bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu mendekatkan kita kepada sifat taqwa. Dan taqwa adalah tujuan dari kita berpuasa.
وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al-Baqarah: 237)
Memaafkan kesalahan orang lain adalah sebuah ibadah yang mulia. Dan sebagai muslim, Allah SWT telah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain. Sehingga hukum memberi maaf itu adalah wajib 'ain, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلينَ
Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(QS. Al-A'raf: 199)
Selain itu, memaafkan kesalahan orang lain yang telah berbuat salah itu akan diganjar oleh Allah SWT dengan ampunan atas dosa-dosa kita kepada Allah.
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ألاَ تُحِبُّونَ أنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ
Dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nuur: 22)
Meski pun seorang yang dizalimi dibenarkan untuk membalas, namun memaafkanjauh lebih baik, di mana Allah akan memberi ganjaran dan pahalatersendiri.
وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema'afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.(QS. Asy-Syura: 40)
Even untuk Saling Memaafkan
Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu even Ramadhan atau Idul Fithri. Karena memang tidak ada hadits atau atsar yang menunjukkan ke arah sana.
Namun kalau kita mau telusuri lebih jauh, mengapa sampai muncul trend demikian, salah satu analisanya adalah bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang hal itu.
عن أَبي هريرة أنَّ رسول الله ، قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيماناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ متفقٌ عَلَيْهِ
Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)
Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia?
Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Demikian latar belakangnya.
Maka meski tidak ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermafaan menjelang Ramadha, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja.
Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan. Seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.
Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid'ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit.
Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid'ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, ceramah dzhuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i'tikaf Ramadhan, pesantren kilat Ramadhan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit?
Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid'ah dan calon penghuni neraka? Kenapa jadi mudah sekali membuat vonis masuk neraka?
Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa terjadi di masa nabi?
Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non formal. Semua yang disebutkan di atas itu hanya semata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama.
Namun kita tetap menghormati kecenderungan saudara-saudara kita yang gigih mempertahankan umat dari ancaman dan bahaya bid'ah. Isnya Allah niat baik mereka baik dan luhur.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah
Saya pernah mendengar orang berkata bahwa tidurnya orang berpuasa itu adalah ibadah. Tapi sampai saat ini saya tidak tahu, benarkah hal itu? Kalau memang benar, apakah itu merupakan hadits nabi atau bukan? Dan kalau memang hadits nabi, riwayatnya serta statusnya bagaimana?
Terima kasih atas jawabannya ustadz
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ungkapan seperti yang anda sampaikan, yaitu tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah memang sudah seringkali kita dengar, baik di pengajian atau pun di berbagai kesempatan. Dan paling sering kita dengar di bulan Ramadhan.
Di antara lafadznya yang paling populer adalah demikian:
Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.
Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Asy-Syu'ab Al-Iman. Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah).
Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif teteapi sudah sampai derajat hadits 
maudhu' (palsu).
Hadits Palsu
Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan bahwa ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi.Karena di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi, yang kedudukannya adalah pemalsu hadits.
Hal senada disampaikan oleh Al-Iraqi, yaitu bahwa Sulaiman bin Amr ini termasuk ke dalam daftar para pendusta, di mana pekerjaannya adalah pemalsu hadits.
Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal 
rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.
Bahkan lebih keras lagi adalah ungkapan Yahya bin Ma'in, beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, tetapi beliau menambahkan bahwa Sulaiman ini adalah "
manusia paling pendusta di muka bumi ini!"
Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh kita yang satu ini. Belaiu mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah 
matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.
Saking tercelanya perawi hadits ini, sampai-sampai Yazid bin Harun mengatakan bahwa 
siapapun tidak halal meriwayatkan hadtis dari Sualiman bin Amr.
Iman Ibnu Hibban juga ikut mengomentari, "Sulaiman bin AmrAn-Nakha'i adalah orang Baghdad yang secara lahiriyah merupakan orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits. Keterangan ini bisa kita dapat di dalam kitab 
Al-Majruhin minal muhadditsin wadhdhu'afa wal-matrukin. Juga bisa kita dapati di dalam kitabMizanul I'tidal.
Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap, maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.
Oleh karena itu, tindakan sebagian saudara kita untuk banyak-banyak tidur di tengah hari bulan Ramadhan dengan alasan bahwa tidur itu ibadah, jelas-jelas tidak ada dasarnya. Apalagi mengingat Rasulullah SAW pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.
Kalau pun ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah SAW hanya sejenak memejamkan mata. Dan yang namanya sejenak, paling-paling hanya sekitar 5 sampai 10 menit saja. Tidak berjam-jam sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bagaimana Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan?
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ustadz, ana mau tanya. Bagaimanakah cara membayar hutang puasa Ramadhan yang batal karena hubungan suami isteri? Pada bulan Ramadhan saya khilaf, saya dan suami bercumbu di siang hari tapi tidak melakukan hubungan suami isteri.
Apakah cara bayarnya sama dengan ketika hutang puasa Ramadhan karena ada udzur (haid) atau bagaimana? Terus terang saya binggung. Saya sudah membayar puasa tersebut dengan puasa yang sama dengan seperti saya bayar untuk hutang puasa karena udzur. Apakah cara bayarnya sama seperti itu atau ada yang lain?
Jazakallah khairon katsiro
 Wassalamu'alaikum wr. wb.
jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Kewajiban seorang yang sedang berpuasa Ramadahan adalah menjaga diri dari makan, minum dan berhubungan suami isteri di siang hari.
Makan dan minum secara sengaja, tentu membatalkan puasa, berdosa dan untuk itu ada kewajiban untuk menggantinya dengan puasa di hari lain.
Sedangkan bila melakukan hubungan suami isteri, selain membatalkan puasa dan berdosa, kaffarat (tebusan)-nya adalah membebaskan budak, atau puasa 2 bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin. Sesuai sabda Rasulullah SAW:
Dari Abi Hurairah ra., bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ”Celaka aku, ya Rasulullah.” “Apa yang membuatmu celaka?“ "Aku berhubungan seksual dengan isteriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya, ”Apakah kamu punya uang untuk membebaskan budak.“ “Aku tidak punya.” “Apakah kamu sanggup puasa 2 bulan berturut-turut?” ”Tidak.” “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang fakir miskin? " ”Tidak.” Kemudian duduk. Lalu dibawakan kepada Nabi sekeranjang kurma maka Nabi berkata,”Ambilah kurma ini untuk kamu sedekahkan.” Orang itu menjawab lagi, ”Adakah orang yang lebih miskin dariku? Tidak lagi orang yang lebih membutuhkan di barat atau timur kecuali aku.” Maka Nabi SAW tertawa hingga terlihat giginya lalu bersabda, ”Bawalah kurma ini dan beri makan keluargamu.” (HR Bukhari: 1936, Muslim: 1111, Abu Daud 2390, Tirmizy 724, An-Nasai 3115 dan Ibnu Majah 1671)
Batas Pelanggaran
Namun batalnya puasa itu hanya terjadi manakala memang benar-benar terjadi persetubuhan. Sedangkan sekedar bercumbu sampai mencium, meski sampai terangsang namun tidak terjadi jima', tidak membatalkan puasa, juga tidak mewajibkan kaffarat.
Bila yang terjadi hanya sekedar percumbuan, tidak sampai jima', maka hukumnya hanya makruh saja. Tetapi tidak ada kewajiban membayar tebusan (kaffarah), bahkan tidak membatalkan puasa. Kecuali bila percumbuan itu sampai mengeluarkan mani, maka puasanya batal, tapi tidak ada kewajiban membayar kaffarat. Cukup mengganti puasanya yang batal itu saja.
Tentang kemakruhan untuk mencumbu isteri saat puasa, karena dikhawatirkan akan kelewatan yang beresiko lebih buruk. Sedangkan bila seseorang mampu menjaga diri dan menahan gejolak syahwatnya, tidak mengapa. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW:Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW menciumnya dalam keadaan sedang berpuasa. Dan beliau mencumbunya ketika sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling mampu menahan hawa nafsunya. (HR Bukhari Muslim)Walahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apa Saja yang Dilakukan Saat I'tikaf?
Assalamu'alaikum wr. wb.
Pak Ustadz yang baik, ada beberapa pertanyaan seputar I'tikaf:
Sebenarnya apa sih yang dilakukan orang saat I'tikaf, bolehkah hanya diam saja?
Apakah I'tikaf harus selalu di masjid dan harus punya wudlu?
Apakah sebelum melakukan I'tikaf harus berniat dulu, bagaimana niatnya?
Apakah benar kita dianjurkan I'tikaf pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, apa dalilnya?
Mohon penjelasannya.
Jazakallohu khoiron katsiron.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,
1. Kata i'tikaf berasal dari 'akafa alaihi', artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i'tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar'iyah kata i'tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Selama hari-hari itu, seorang yang melakukan i'tikaf (mu'takif) mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadat dan zikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i'tikaf seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita berserah diri kepada Allah dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat-Nya.
Yang dilakukan pada saat i'tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Makna taqrrub adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beragam rangkaian ibadah. Di antaranya:
A. Shalat
Baik shalat wajib secara berjamaah atau punshalat sunnah, baik yang dilakukan secara berjamaah maupun sendirian. Misalnya shalat tarawih, shalat malam (qiyamullail), shalat witir, shalat sunnah sebelum shalat shubuh, shalat Dhuha', shalat sunnah rawatib (qabliyah dan ba'diyah) dan lainnya.
B. Zikir
Semua bentuk zikir sangat dianjurkan untuk dibaca pada saat i'tikaf. Namun lebih diutamakan zikir yang lafaznya dari Al-Quran atau diriwayatkan dari sunnah Rasulullah SAW secara shahih. Jenis lafadznya sangat banyak dan beragam, tetapi tidak ada ketentuan harus disusun secara baku dan seragam. Juga tidak harus dibatasi jumlah hitungannya.
C. Membaca ayat Al-Quran
Membaca Al-Quran (tilawah) sangat dianjurkan saat sedang beri'tikaf. Terutama bila dibaca dengan tajwid yang benar serta dengan tartil.
D. Belajar Al-Quran
Bila seseorang belum terlalu pandai membaca Al-Quran, maka akan lebih utama bila kesempatan beri'tikaf itu juga digunakan untuk belajar membaca Al-Quran, memperbaiki kualitas bacaan dengan sebaik-baiknya. Agar ketika membaca Al-Quran nanti, ada peningkatan.
E. Belajar Memahami Isi Al-Quran
Selain pentingnya membaca Al-Quran dengan berkualitas, maka meningkatkan pemahaman atas setiap ayat yang dibaca juga tidak kalah pentingnya. Sebab Al-Quran adalah pedoman hidup kita yang secara khusus diturunkan dari langit. Tidak lain tujuannya agar mengarahkan kita ke jalan yang benar. Apalah artinya kita membaca Al-Quran, kalau kita justru tidak paham makna ayat yang kita baca.
Tentunya belajar baca dan memahami ayat Al-Quran membutuhkan guru yang ahli di bidangnya. Tanpa guru, sulit bisa dicapai tujuan itu.
F. Berdoa
Berdoa adalah meminta kepada Allah atas apa yang kita inginkan, baik yang terkait dengan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Dan aktifitas meminta kepada Allah bukanlah kesalahan, bahkan bagian dari pendekatan kita kepada Allah. Allah SWT senang dengan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya. Meski tidak langsung dikabulkan, tetapi karena meminta itu adalah ibadah, maka tetaplah meminta.
Semakin banyak kita meminta, maka semakin banyak pula pahala yang Allah berikan. Dan bila dikabulkan, tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri.
Dan meminta kepada Allah (berdoa) sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam berik'tikaf.
Namun dari semua kegiatan di atas, bukan berarti seorang yang beri'tikaf tidak boleh melakukan apapun kecuali itu. Dia boleh makan di malam hari, dia juga boleh isterirahat, tidur, berbicara, mandi, buang air, bahkan boleh hanya diam saja. Sebab makna i'tikaf memang diam. Tetapi bukan berarti diam saja sepanjang waktu i'tikaf.
Adapun yang terlarang dilakukan saat i'tikaf adalah bercumbu dengan isteri hingga sampai jima'. Sedangkan yang dimakruhkan adalah berbicara yang semata-mata hanya masalah kemegahan dan kesibukan keduniaan saja, yang tidak membawa manfaat secara ukhrawi.
Bicara masalah dagang, tentu boleh bila terkait dengan bagaimana dagang yang sesuai syariat. Sebab syariat itu tentu bukan hanya bicara hal-hal di akhirat saja, tetapi tercakup luas semua masalah keduniaan.
Sunnat bagi orang yang sedang i'tikaf tidak boleh menengok yang sakit, jangan menyaksikan jenazah, tidak boleh menyentuh perempuan dan jangan bercumbu, dan jangan keluar (dari masjid) untuk satu keperluan kecuali dalam perkara yang tidak boleh tidak, dan tidak ada i'tikaf melainkan di masjid kami." (HR Abu Dawud).
2. I'tikaf tidak sah dilakukan kecuali di masjid. Ini adalah hal yang kebenarannya telah menjadi kesepakatan semua ulama. Sesuai dengan firman Allah SWT:
Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187)
Sedangkan masalah wudhu, bukan merupakan syarat. Namun sebagian ulama mewajibkan seseorang berwudhu' bila masuk masjid. Sebagian lain tidak mewajibkan tapi hanya menyunnahkan.
3. Niat adalah syarat sah semua ibadah. Tanpa niat, semua ibadah tidak sah.
Tetapi niat itu bukan lafadz yang diucapkan, melainkan sesuatu yang ditetapkan di dalam hati. Lafadz niat hanya sekedar menguatkan, bahkan hukumnya diperdebatkan para ulama. Sebagian menganjurkannya, tetapi sebagian lain malah melarangnya.
Jadi niatkan saja di dalam hati bahwa anda akan melakukan i'tikaf, maka sah sudah niat anda.
4. Benar, 'itikaf itu hukumnya sunnah untuk dilakukan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dalilnya adalah perbuatan nabi SAW yang telah melakukannya, bahkan tiap tahun tanpa meninggalkannya sekalipun. Sehingga ada sebagian ulama yang nyaris hampir mewajibkannya. Namun hukumnya tidak wajib, tetapi sunnah yang sangat dianjurkan.
Adapun dalilnya adalah:
Dari Aisyah Ra. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sampai saat ia dipanggil Allah Azza wa Jalla." (HR Bukhari dan Muslim).
Dan dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." (HR Bukhari dan Muslim).
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Apa yang Dimaksud dengan Imsak?
Assalammu''alaikum Ustadz,
Tahun ini saya puasa di Amerika untuk pertama kalinya. Saya agak bingung karena setelah meminta jadwal puasa di Masjid, tidak ada jadwal Imsak.
Ketika saya tanya untuk jadwal Imsak, staff yang ada di Masjid malah nanya balik ke saya utk apa jadwal Imsak. Saya lalu menjelaskan supaya ada jarak antara berhenti sahur dan Shubuh.
Tapi terus, saya malah diberitahu kalau hanya untuk jarak antara berhenti sahur dan shubuh, tidak perlu jadwal Imsak, tapi bisa juga dikira-dikira 10 menit sebelum Shubuh. Logis sih, tapi terus kenapa selama ini ada jadwal Imsak di Indonesia? Apa jadwal Imsak itu sangat penting?
Terima kasih
Wassalammu''alaikum
Jawaban
Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Istilah ''imsak'' yang sangat populer di negeri kita sebenarnya merupakan istilah yang agak salah kaprah. Sebab makna imsak adalah puasa, bukan ''bersiap-siap untuk puasa 10 menit lagi''.
Bersiap-siap untuk berpuasa itu tidak penting-penting amat, setidaknyabuat sebagian orang. Dan pentinguntuk diketahui bahwa waktu ''imsak''bukan tanda masuknya waktu mulai untuk puasa. Seandainya bila sedang makan sahur lalu tiba-tiba masuk waktu shalat shubuh, tinggal dimuntahkan saja.
Justru hal ini yang perlu diluruskan, bahwa saat dimulai puasa itu bukan sejak masuknya waktu ''imsak'', melainkan sejak masuknya waktu shubuh. Ini penting agar jangan sampai nanti ada orang yang salah dalam memahami. Dan merupakan tugas kita untuk menjelaskan hal-hal kecil ini kepada masyarakat.
Kalau anda bertanya kenapa ada jadwal imsak di Indonesia, ini memang pertanyaan menarik. Indonesia punya karakter unik yang terkadang tidak dimiliki oleh negara di mana Islam itu berasal. Salah satunya imsak ini. Bahkan sampai ada istilah jadwal imsakiyah. Padahal maksdunya adalah jadwal waktu-waktu shalat. Karena kebetulan dicantumkan juga waktu ''imsak'' yang kira-kira 10 menit sebelum shubuh itu, akhirnya namanya jadi seperti itu.
Padahal waktu 10 menit itu pun juga hanya kira-kira, sebagai terjemahan bebas dari kata sejenak. Memang asyik kalau ditelusuri, kenapa 10 menit, kenapa tidak 5 menit atau 15 menit? Pasti tidak ada yang bisa menjawab.
Dan itu khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Mudah menjiplak sesuatu yang dia sendiri tidak pernah tahu asal muasalnya. Pokoknya itu yang masyhur di masyarakat, itu pula yang kemudian dijalankan. Urusan dasar pensyariatan dan asal usulnya, urusan belakang.
Halal bi Halal
Salah satu istilah yang ''super aneh'' di telinga dunia Islam tapi sangat akrab di telinga kita adalah istilah halal bi halal. Semua orang arab yang datang ke Indonesia pasti dahinya berkerut sepuluh lipatan kalau mendengar istilah ini. Istilah itu tidak pernah tercantum kamus arab mana pun yang pernah ditulis di muka bumi ini.
Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah ini. Tapi tak ada satu pun hadits atau bahkan kitab yang menjelaskan hal ini. Ini khas Indonesia, sangat Indonesia sekali...
Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ziarah Kubur Sebelum Puasa Ramadhan
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Ustaz, ma'af, saya langsung ke inti pertanyaan. Kapankah batasan waktu dan jam atau hari-hari yang baik yang dianjurkan untuk kita berziarah kubur?
Ada berbagai pendapat yang saya terima dan sepertinya saya belum puas sebelum Ustaz menjelaskannya berikut jika ada hadits-hadits pendukung tentang hal ini, juga pendapat masing-masing Imam Mazhab.
Billahi sabililhaq
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh,
jawaban
Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Sayang sekali ternyata kami tidak menemukan dalil yang menganjurkan waktu yang paling baik untuk berziarah kubur. Apalagi jika dikaitkan dengan kedatangan bulan Ramadhan. Yang ada hanyalah anjuran untuk berziarah kubur, karena mengingatkan kita kepada kematian. Tapi waktunya tidak pernah ditentukan. Jadi boleh kapan saja, tidak harus menjelang masuknya bulan Ramadhan.
Adapun kebiasaan yang sering kita saksikan di tengah masyarakat untuk berziarah kubur menjelang datangnya Ramadhan, kami yakin bahwa mereka melakukannya tanpa punya dalil yang eksplisit dari nabi SAW. Dalil yang mereka gunakan hanyalah dalil umum tentang anjuran berziarah kubur. Sedangkan dalil yang mengkhususkan ziarah kubur menjelang Ramadhan, paling tinggi hanya sekedar ijtihad. Itu pun masih sangat mungkin disanggah.
Beliau SAW tidak pernah menganjurkan secara tegas bahwa bila Ramadhan menjelang, silahkan kalian berziarah ke kuburan-kuburan. Atau kalau ke kuburan jangan lupa pakai pakaian hitam-hitam, dan juga jangan lupa bawa kembang buat ditaburkan. Sama sekali tidak ada nashnya, baik di Al-Quran maupun di Sunnah nabi-Nya.
Dan memang semua fenomena itu terjadi begitu saja, tanpa ada ulama yang memberian arahan dan penjelasan. Padahal masyarakat kita ini terkenal sangat agamis dan punya semangat besar untuk menjalankan agama. Sayangnya, mereka tidak punya akses untuk bertanya kepada para ulama syariah yang ahli di bidangnya.
Yang tersedia hanya para penceramah, da''i, atau ahli pidato yang digelembungkan namanya lewat media massa, sehingga sangat tenar bahkan masuk ke wilayah selebriti, tetapi sayangnya mereka kurang punya perhatian dalam masalah hukum Islam, apalagi sampai kepada kritik sanad hadits-hadits nabawi.
Ini perlu dipikirkan agar jangan sampai kejahilan di tengah umat ini terus-menerus terjadi, bahkan menjadi tradisi. Sudah waktunya bila umat ini punya akses kuat kepada para ulama ahli syariat, untuk meluruskan kembali kehidupan mereka sesuai dengan syariat Islam yang lurus. Jauh dari pola ikut-ikutan tanpa manhaj yang benar.
Namun sekedar mencaci dan mengumpat atau menuduh bahwa mereka itu ahli bid''ah, atau jahiliyah, atau tidak sejalan dengan manhaj ahli sunnah, tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan dalam banyak kasus, malah akan menimbulkan masalah.
Kita berharap proses pencerahan umat untuk mengenal syariah ini tidak terkotori dengan adab yang buruk, atau dengan sikap arogan, yang hanya akan membuat objek dakwah kita semakin menjauh. Yang dibutuhkan adalah pemberian pemahaman secara simpatik, cerdas, dan tetap menghargai serta tidak mempermalukan.
Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ramadhan Vs. Syaithan Laknatullah
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apakah malam Lailatur Qadar itu sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan Atau sepanjang malam bulan Ramadhan? Apakah maknanya bahwa Syetan pada bulan Ramadhan diikat atau dibelenggu? Apa maknanya secara haqiqi atau kias? Memang secara otomatis orang yang berpuasa lebih cenderung untuk tidak melakukan perbuatan yang berdosa karena merasa terikat dengan keadaan mereka yang sedang berpuasa? Walaupun tidak dipungkiri tetap ada yang melakukannya, walhasil yang tanpa disadari fasilitas-fasilitas syetan untuk menggoda manusia yang berpuasa itu menjadi berkurang.
Maaf kalau pendapat saya ini salah. Apa sebenarnya maknanya, Pak Ustadz? Terima kasih sebelumnya atas jawabannya, Pak Ustadz. Wallahu a''lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr. wb.
jawaban
Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Hadis-hadis yang menyatakan bahwa syetan-syetan akan dibelenggu pada bulan Ramadhan adalah hadis shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, antara lain: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Ibnu Huzaimah dan lain-lain.
Dari Abu Hurairah Ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu.” (HR Bukhari No. 1898 dan Muslim 1079)
Sedangkan mengenai maknanya, ada beberapa penjelasan dari para ulama mengenai maksud dari perkataan Rasulullah SAW bahwasanya syetan-syetan “dibelenggu” pada bulan suci Ramadhan:
a. Tidak Bisa Leluasa Mengganggu dan Mencelakakan Manusia
Pendapat lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan terbelenggunya syetan adalah bahwa syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan mencelakakan manusia tidak seperti biasanya.
Mengapa?
Karena di bulan Ramadha umumnya orang-orang sibuk dengan shaum, membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Dan kegiatan mereka ini membuat syetan menjadi terbelenggu untuk leluasa menggoda dan mencelakakan manusia.
Ruang gerak mereka menjadi lebih terbatas, dibandingkan dengan har-hari di luar bulan Ramadhan.
b. Yang Dibelenggu Hanya Syetan yang Membangkang
Sedangkan pendapat lain lagi mengatakan bahwa yang dibelenggu bukan semua syetan, melainkan hanya sebagiannya saja. Mereka adalah syetan-syetan yang membangkang, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim.
Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah SAW bersabda, “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan yang membangkang.”
c. Ketidak-mampuan Syetan Menggoda dan Menyesatkan Manusia.
Yang dimaksud dengan “dibelenggu” merupakan suatu ungkapan akan ketidak-mampuan syetan untuk menggoda dan menyesatkan manusia.
Jika ada pertanyaan, mengapa masih banyak terjadi kemaksiatan pada bulan Ramadhan? Bukankan syetan-syetan yang biasa menggoda manusia telah dibelenggu? Berdasarkan pengertian di atas, para ulama menjawab pertanyaan tersebut dengan empat jawaban:
Dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yang melakukan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan.
Yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan di atas.
Yang dimaksud adalah berkurangnya tindak kejahatan atau perilaku maksiat. Dan hal tersebut dapat kita rasakan meskipun masih terjadi tindak kejahatan atau kemaksiatan tapi biasanya tidak sebanyak di bulan-bulan lainnya.
Tidak mesti dengan dibelenggunya syetan maka kemaksiatan akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab lainnya selain syetan. Bisa jadi kemaksiatan tersebut timbul karena sifat jelek manusianya, adat istiadat yang rusak, lingkungan masyarakat yang sudah bobrok, serta kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh syetan-syetan dari golongan manusia. (Fathul Bari IV/ 114-115, ‘Umdatul Qari X/386 dan Ikmalul Mu’lim IV/6)
d. Terhalangi dari Mencuri Dengar Berita dari Langit
Sedangkan pendapat lainnya lagi seperti apa yang dikatakan oleh Al-Hulaimi, di mana beliauberpendapat bahwa yang dimaksud dengan syetan-syetan di sini adalah syetan-syetan yang suka mencuri berita dari langit.
Malam bulan Ramadhan adalah malam turunnya Al-Qur’an, mereka pun terhalangi untuk melakukan dengan adanya “belenggu” tersebut. Maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tidak mampu melakukannya lagi).
Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Arti Ucapan Selamat Lebaran
Assalamualaikum... Selamat lebaran Pak Ustadz.
Saya langsung saja ke pertanyaan pak ustadz. Setiap menyambut hari raya idul fitri, kebanyakan kaum muslim mengirimkan ucapan selamat Lebaran berbunyi " Taqabalallahu Minna waminkum, shiyamana washiyamakum. Minal aidin wal faidzin." Saya sebagai orang awam yang tidak tahu dengan bahasa Arab, bingung dengan arti kata-kata di atas.
Mohon kepada Pak Ustadz menjelaskan arti kalimat di atas.
Wassalam
jawaban
Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, itu artinya semoga Allah mengabulkan. Minaa wa minkum berarti dari kami dan dari anda. Shiyamana wa shiyamakum berarti puasa kami dan puasa anda.
Taqabballahu
Sedangkan lafadz minal a'idin wal faidzin merupakan doayang terpotong, arti secara harfiyahnya adalah: termasuk orang yang kembali dan menang.
Lafadz ini terpotong, seharusnya ada lafadz tambahan di depannya meski sudah lazim lafadz tambahan itu memang tidak diucapkan. Lengkapnya ja''alanallahu minal a''idin wal faidzin, yang bermakna semoga Allah menjadi kita termasuk orang yang kembali dan orang yang menang.
Namun sering kali orang salah paham, dikiranya lafadz itu merupakan bahasa arab dari ungkapanmohon maaf lahir dan batin. Padahal bukan dan merupakan dua hal yang jauh berbeda.
Lafadz taqabbalallahu minna wa minkum merupakan lafadz doa yang intinya kita saling berdoa agar semua amal kita diterima Allah SWT. Lafadz doa ini adalah lafadz yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika kita selesai melewati Ramadhan.
Jadi yang diajarkan sebenarnya bukan bermaaf-maafan seperti yang selama ini dilakukan oleh kebanyakan bangsa Indonesia. Tetapi yang lebih ditekankan adalah tahni''ah yaitu ucapan selamat serta doa agar amal dikabulkan.
Meski tidak diajarkan atau diperintahkan secara khusus, namun bermaaf-maafan dan silaturrahim di hari Idul Fithri juga tidak terlarang, boleh-boleh saja dan merupakan ''urf (kebiasaan) yang baik.
Di luar Indonesia, belum tentu ada budaya seperti ini, di mana semua orang sibuk untuk saling mendatangi sekedar bisa berziarah dan silaturrahim, lalu masing-masing saling meminta maaf. Sungguh sebuah tradisi yang baik dan sejalan dengan syariah Islam.
Meski terkadang ada juga bentuk-bentuk yang kurang sejalan dengan Islam, misalnya membakar petasan di lingkungan pemukiman. Tentunya sangat mengganggu dan beresiko musibah kebakaran.
Termasuk juga yang tidak sejalan dengan tuntunan agama adalah bertakbir keliling kota naik truk sambil mengganggu ketertiban berlalu-lintas, apalagi sambil melempar mercon, campur baur laki dan perempuan dan tidak mengindahkan adab dan etika Islam.
Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bukankah Makan Sahur Sudah Berarti Niat?
Assalamu''alaikum wr. Wb
Ketika seseorang bangun dimalam hari untuk makan sahur, bukankah dalam hatinya secara nyata dia berniat untuk melaksanakan puasa di esok harinya?
Adanya perbedaan penafsiran di antara muslim bahwa niat harus diucapkan dan muslim yang lain berpendapat bahwa niat itu dari dalam hati kita masing-masing dan tidak perlu diucapkan. Bagaimana pendapat ustadz tentang hal ini.
Wassalamu''alaikum wr. Wb
jawaban
Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya secara syarat, ketika seseorang bangun untuk makan sahur, pastilah di dalam hatinya sudah terbersit niat puasa. Jadi anda sudah benar. Coba saja tanyakan kepada mereka yang sedang makan sahur, mau apa kok bangun dan makan di pagi buta begini?
Pasti jawabannya seragam, "Kan kita mau puasa besok."
Tuh kan, jawabannya jelas, mereka mau puasa. Dan itu saja sebenarnya sudah cukup untuk menegaskan bahwa di dalam hati mereka sudah ada niat untuk puasa.
Bahkan sebenarnya, jangankan bangun sahur, sekedar terbersit di dalam hati untuk berpuasa, sebenarnya sudah merupakan niat. Karena sebagaimana perkataan semua ulama bahwa niat itu memang adanya di dalam hati, bukan di lisan.
Dan tidak ada satu pun ulama baik dari kalangan mazhab Asy-Syafi''i maupun dari mazhab manapun yang mengatalakan bahwa niat itu di lidah. Semua ulama dari ujung barat Maroko sampai ujung timur Maraoke, sepakat bulat-bulat bahwa niat itu bukan di lidah tetapi di dalam hati.
Lalu bagaimana dengan lafadz niat puasa yang sangat terkenal itu? Apakah wajib dilafadzkan? Apakah puasa kita sah bila kita tidak melafadzkan niat?
Lafadz niat yang sering kita dengar atau banyak dibaca di masjid-masjid terutama selesai shalat tarawih sebenarnya bukan syarat sah puasa. Lafadz itu sendiri pun tidak ada dasarnya dari Rasululllah SAW. Kita tidak pernah menemukan ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melafadzkan niat puasa di malam hari selesai shalat tarawih.
Jangankan melafadzkan niat, shalat tarawih pun tidak pernah beliau lakukan seumur hidupnya, kecuali hanya 2 kali saja. Dan penjelasan tentang hal ini sudah berulang kali dibahas di rubrik ini.
Maka puasa kita sah selama kita sudah berniat sejak malamnya sebelum masuknya waktu shubuh, meski tanpa melafadzkan niat itu di lidah kita.
Lalusekarang pertanyaan di balik, apakah melafadzkan niat itu lantas menjadi bid''ah, haram dan mendatangkan dosa?
Di sini para ulama berbeda pendapat seperti biasanya. Sebagian dari mereka yang sangat sensitif dan hati-hati dengan urusan perbid''ahan, umumnya memang langsung to the point mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya bid''ah, haram dan berdosa.
Alasannya, karena tidak ada ajarannya dari Rasulullah SAW. Padahal urusan puasa itu merupakan ibadhah mahdhah, sehingga haram hukumnya bila ditambah-tambahi sendiri sesuai selera.
Atas fatwa yang seperti ini, ada yang kurang sabarkemudian memvonis bahwa praktek melafadzkan niat yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di masjid-masijd itu haram dan berdosa. Bahkan sebagian dari mereka mengharamkan hadir di masjid itu lantaran menganggap masjid itu masjid ahlul bid''ah.
Mau dibilang apa lagi, memang begitu lah tipologi sebagian umat kita. Mudah sekali menjatuhkan vonis kepada sesuatu yang dirasa sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauannya.
Lalu apa hujjah dari mereka yang tetap melafadzkan niat puasa? Adakah dasar argumentasi yang bisa diterima secara syar''i sehingga membebaskan mereka dari tuduhan sebagai ahli bid''ah tadi?
Jawabnya ada tentu saja. Logikanya, kalau pun melafadzkan niat itu memang mutlak kebid''ahannya, pasti tidak ada lagi orang yang mau melakukannya. Sebagaimana tidak ada orang yang mau shalat shubuh 8 rakaat, karena memang tidak ada ajarannya.
Bagi kalangan ini, melafadzkan niat puasa itu meski tidak ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukannya, berguna besar untuk menguatkan niat. Rupanya di masa lalu, ada orang yang hatinya mudah was-was, selalu ragu dan kurang percaya diri.
Di dalam hatinya selalu ada gejolak, apakah saya sudah siap melakukan ibadhah ini atau belum ya? Nah, kepada kalangan yang seperti ini, muncullah fatwa untuk melafadzkan niat. Dengan dilafadzkan, maka rasa was-was di dalam hati akan sirna berganti dengan keyakinan.
Kira-kira mirip dengan orang yang sedang jatuh cinta kepada seorang yang sudah lama diincar, tetapi ada rasa ragu, takut, malu, was-was untuk menyatakan rasa cinta itu dalam bentuk kata-kata. Maka sejuta perasaan ragu tidak karuan itu akan pecah begitu dinyatakan rasa cinta itu dengan kata-kata.
Maka menurut ulama yang mendukung pelafadzan niat, kalau ragu-ragu, ucapkan saja niat itu. biar plong dan selesai masalahnya.
Sekakrang mari kita lihat apa yang dikatakan para ulama salaf tentang melafadzkan niat, sesuai literatur ilmu syariah yang kita miliki:
1. Mazhab Al-Hanafiyah
Kita mulai dari mazhab Abu Hanifah. Para ulama di kalangan mazhab ini terpecah pendapatnya ketika menghukumi pelafadzkan niat. Sebagian dari mereka mengatakan hukumnya bid''ah, namun sebagian lain mengatakan hukumnya jaiz atau boleh. Tidak merupakan bid''ah yang merusak shalat.
Bahkan sebagian dari mereka itu menyunnahkan pelafadzan niat terutama bagi mereka yang di dalam hatinya ada was-was. Dengan melafadzkan niat, maka was-was itu akan hilang. Sehingga pelafadzan niat itu justru membantu menguatkan niat.
2. Mazhab Al-Malikiyah
Melafadzkan niat menyalahi yang utama, kecuali bagi mereka yang was-was. Maka melafadzkan niat bagi mereka yang was-was justru hukumnya mandub (semacam sunnah) agar rasa was-was itu menjadi hilang.
Ungkapan ini bisa kita baca dalam kitab Al-Fiqhu ''ala mazahibil arba''ah.
3. Mazhab As-Syafi''i
Umumnya para ulama di dalam mazhab ini menyunnahkan kita untuk melafadzkan niat. Setidaknya mengatakan tidak mengapa bila kita melafadzkannya. Lantaran hal itu membantu hati.
Namun mereka pun sepakat bahwa melafazkan niat itu bukan niat itu sendiri. Jadi seandainya seseorang beribadah tanpa melafadzkan niat, maka ibadahnya tetap sah dan diterima Allah SWT secara hukum.
Pendapat Imam Ibnu Taimiyah
Niat untuk bertaharah, wudhu'' mandi, shalat, puasa dan lainnya sama sekali tidak membutuhkan pelafazhan niat. Itu merupakan kesepakatan para imam mazhab. Karena tempat niat itu hati, bukan lisan.
Seandainya seseorang melafazkan suatu lafadz niat yang ternyata berbeda dengan apa yang terbersit di dalam hati, maka yang berlaku sah adalah yang ada di dalam hati, bukan yang diucapkan di lisan. Tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari hal ini.
Namun memang ada sebagian ulama dari kalangan mazhab As-syafi''i di masa-mas berikutnya yang berijtihad untuk melafadzkan niat. Namun sepertinya mereka agak rancu dalam memahami nash dari Imam mereka, Asy-Syafi''i.
Imam Ibnu Taimyah kemudian mengatakan bahwa urusan melafazkan niat itu para ulama terpecah dua. Menurut sebagain ulama dari mazhab Imam Abu Hanifah, mazhab Al-Imam ASy-Syafi''i dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya mustahab (lebih disukai), lantaran menguatkan niat di dalam hati.
Sementara sebagian lainnya dari ulama kalangan mazhab Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya mengatakan bahwa melafazhkan niat itu tidak mustahab, bahkan hukumnya bid''ah. Lantaran tidak ada contoh dari nabi Muhammad SAW, para shahabat dan tabi''in.
Kerancuan Sebagian Ulama Asy-Syafi''i?
Menurut Ibnu Al-Qayyim, sebagian ulama mutaakhkhirin dari kalangan mazhab Asy-Syafi''i telah rancu dalam memahami nash Imam mereka sendiri tentang melafadzkan niat.
Di dalam nash As-Syafi''i memang menyebutkan bahwa seseorang tidak sah memulai shalat kecuali dengan zikir. Itulah nash dari Imam As-Syafi''i yang asli.
Namun nash ini dipahami menjadi tidak sah shalat itu kecuali dengan melafadzkan niat. Mereka memahami bahwa zikir yang dimaksud oleh Al-Imam As-Syafi''i adalah lafazh ushalli. Padahal menurut Ibnul Qayyim, yang dimaksud dengan dzikir oleh Asy-Syafi''i adalah takbiratul ihram, bukan melafadzkan niat.
Dalam hal ini kelihatan bahwa Ibnu Qayyim membela dan tidak menyalahkan Al-Imam ASy-Syafi''i, namun beranggapan bahwa para ulama mutaakhkhirin dari kalangan mazhan ini yang salah paham terhadap nash dari imam mereka.
Kesimpulan
Masalah melafazkan niat adalah masalah khilafiyah di kalangan ulama. Sebagian membid''ahkannya, sebagian membolehkannya, sebagian lain bahkan menganggapnya mustahab, terutama bagi yang merasa was-was. Bahkan para ulama dalam satu mazhab pun punya pendapat yang berbeda-beda dalam masalah ini.
Maka sikap saling menyalahkan apalagi sampai bermusuhan dengan sesama muslim untuk urusan seperti ini justru merupakan sikap yang kurang dewasa. Kita sebaiknya tidak terjebak kepada permusuhan, apalagi sampai saling mengejek, saling melecehkan atau saling memboikot saudara kita sendiri.
Serahkan urusan ini kepada ulama yang ahli di bidangnya. Kalau ternyata mereka pun berbeda pendapat, memang demikian lah keterbatasan kita. Sebagai muqallid (orang yang bertaqlid) kepada para ulama, maka kita tetap harus bersikap santun, hormat, dan menghargai berbagai perbedaan pendapat di kalangan mereka.
Toh nanti di alam kubur, kita tidak akan pernah ditanyai urusan seperti ini, bukan?
Dan yang pasti, tidak ada satu pun ulama yang sampai mewajibkannya, apalagi sampai mengatakan puasa itu tidak sah kalau tidak melafadzkan niat. Tidak ada seorang pun yang mengatakan itu.

Siapa yang Berwenang Menetapkan 1 Syawal?
Assalamu''alaikum wr. Wb
Beberapa tahun belakangan ini seringkali terjadi perbedaan masuknya 1 syawal, sehingga umat dibuat bingung. Karena banyak metode penentuan 1 syawal, maka di negara yang bukan negara Islam seperti kita ini,
1. Siapakah yang berwenang untuk menetapkan 1 syawal(tentunya menurut al-Qur''an & hadits)?
2. Bolehkah seorang pemimpin kelompok menetapkan itu dengan mendasarkan pada ayat yang artinya: Hai orang-orang muslim, taatlah kamu kepada Allah, dan rasulnya dan Ulil Amri di antara kamu....
3. Apakah pemimpin kelompok bisa juga disebut "Ulil Amri Minkum"
Demikian pertanyaan saya, mudah-mudahan ustadz berkenan menjawab
jawaban
Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Karena sudah pasti ada perbedaan pendapat di kalangan para mujtahid dalam menetapkan jatuhnya tanggal 1 Syawwal, maka khusus untuk masalah ini, harus ada penengah yang perkataannya ditaati oleh semua mujtahid tersebut.
Apalagi mengingat urusan jatuhnya lebaran ini menyangkut kepentingan orang banyak, maka kesepakatan harus diambil dan persatuan harus lebih diutamakan.
Kita bisa maklum kalau ada perbedaan pendapat yang didiamkan saja, karena memang tidak ada solusi. Misalnya, perbedaan pendapat tentang jumlah bilangan rakaat shalat tarawih, atau perbedaan pandangan tentang kesunnahan qunut shalat shubuh dan kebid''ahannya.
Demikian juga perbedaan pendapat dalam hukum penyelenggaraan hari besar seperti maulid nabi, isra'' mi''raj, nuzulul quran dan seterusnya. Biarlah masing-masing mujtahid berpendapat sesuai dengan apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran.
Asalkan satu sama lain tidak saling mengejek, mencemooh, mencaci atau memerangi dengan jalan memboikot, tidak mau bertegur sapa hingga menuduhnya sebagai calon penghuni neraka jahannam.
Perbedaan pendapat dalam banyak masalah cabang syariah adalah sebuah kepastian, tidak mungkin ditampik dan mustahil dihilangkan. Demikian secara umum yang berlaku untuk setiap masalah furu''iyah dalam masalah kajian fiqih.
Namun khusus untuk penetapan tanggal 1 Syawwal, 1 Ramadhan atau pun 1 Dzulhijjah, seharusnya ada kesepakatan di antara para mujtahid. Tidak diserahkan kepada masing-masing orang untuk menetapkan sendiri-sendiri.
Sejarah agama kita sejak 14 abad yang lampau, baik selama masih ada khilafah Islamiyah atau pada periode setelah keruntuhannya, tidak pernah ada mujtahid yang menetapkan sendiri jatuhnya hari raya itu.
Ilmu hisab dan ilmu rukyatul hilal boleh berkembang dan dipelajari oleh orang banyak, akan tetapi urusan penanggalan dan jatuhnya jadwal puasa serta lebaran, tetap harus diserahkan kepada satu pihak di dalam dunia Islam.
Di masa khilafah masih ada dulu, seorang khalifah adalah pengambil keputusan terakhir untuk masalah ini. Itu merupakan hak preogratifnya karena memang demikian yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai kepala negara tertinggi di masa lalu.
Dan hal yang sama selalu dilakukan oleh para khalifah pengganti beliau, baik Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali ridhwanullahi ''alaihim ajma''in, keputusan ada di tangan khalifah sebagai otoritas tertinggi umat Islam.
Dan semua khalifah dari berbagai dinasti Bani Umayyah, Bani Abbasiyah dan Bani Utsmaniyah juga melakukan hal yang sama. Tidak ada satu pun elemen umat Islam yang secara lancang menetapkan jadwal Ramadhan dan Syawwal sendiri. Meski mereka ahli di bidang astronomi, hisab bahkan rukyatulhilal, namun biar bagaiamana pun mereka sangat menghormati khalifah.
Pasca Runtuhnya khilafah
Di masa kita sekarang ini di mana khilafah sudah tidak ada lagi, tradisi menyerahkan urusan jadwal Ramadhan dan Syawwal kepada otoritas penguasa tertinggi yang ada di tengah umat Islam tetap berlangsung.
Rakyat Mesir yang merupakan gudang ulama dan ilmuwan, tetap saja menyerahkan masalah ini kepada satu pihak. Bersama dengan pemerintah yang resmi mereka sepakat menyerahkan masalah ini kepada Grand Master Al-Azhar (Syaikhul Azhar). Dan yang menarik, begitu Syaikhul Azhar menetapkan keputusannya, semua jamaah di Mesir baik Ikhwanul Muslimin, Ansharussunnah, Takfir wal jihad, Salafi sampai kepada kelompok-kelompok sekuler sepakat untuk taat, tunduk dan patuh kepada satu pihak.
Hal yang sama juga kita saksikan di Saudi Arabia. Meski di sana ada banyak jamaah, kelompok, dan aktifis yang sering kali saling menyalahkan dan berbeda pendapat, tetapi khusus untuk jadwal Ramadhan dan Syawwal, mereka bisa akur dan patuh kepada keputusan mufti Kerajaan.
Dan hal yang sama terjadi di semua negeri Islam, mereka semua kompak untuk menyerahkan urusan ini kepada satu pihak, yaitu pemerintah muslim.
Entah bagaimana ceritanya, di negeri kita yang konon negeri terbesar dengan jumlah penduduk muslim di dunia, justru setiap pihak tidak bisa berbesar hati untuk menyerahkan masalah ini ke satu tangan saja. Setiap ormas merasa punya hak 100% untuk menetapkan jatuhnya jadwal ibadah itu.
Bahkan tanpa malu-malu melarang otoritas tertinggi yaitu pemerintah untuk bersikap dan menjalankan tugasnya. Padahal yang diperselisihkan hanya urusan ijtihad yang mungkin benar dan mungkin salah. Nyaris tidak ada kebenaran mutlak dalam masalah ini. Sebab sesama yang rukyat sudah pasti berbeda. Dan sesama yang berhisab juga berbeda. Dan perbedaan itu akan selalu ada.
Padahal maslalah ini adalah masalah nasional dan menyangkut kepentingan orang banyak. Seharusnya 200 juta umat Islam menyerahkan masalah ini kepada satu pihak yang dipercaya dan konsekuen untuk patuh dan tunduk.
Satu pihak itu seharusnya adalah pihak yang netral, tidak punya kepentingan kelompok, ahli di bidang rukyat dan hisab serta punya legitimasi. Dan menurut kami, pihak itu adalah pemerintah sah negeri ini. Karena dalam hal ini pemerintah adalah pihak yang merupakan otoritas tertinggi umat Islam. Dan direpresentasikan sebagai Menteri Agama RI.
Kalau hukum hudud diberlakukan di negeri ini, maka beliau pula yang punya hak untuk merajam pezina, memotong tangan pencuri, mencambuk peminum khamar. Dan selama ini, beliau pula yang memiliki hak secara sah untuk menikahkan wanita yang tidak punya wali.
Sebuah ormas tidak punya hak apapun untuk mengeksekusi hukum hudud, sebagaimana tidak punya hak untuk menikahkan wanita tak berwali. Maka logika sederhananya, seharusnya juga tidak punya hak untuk menetapan secara nasional tentang jatuhnya puasa dan lebaran. Sepintar apa pun orang yang ada di dalam ormas itu.
Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ciri-ciri Malam Lailatul Qodar
Assalaamua'laikum Wr.Wb
Ustadz tiga pertanyaan mengenai Lailatul Qodar.
1. Ciri-ciri akan/turunnya malam Lailatul Qadar dan sesudahnya turunnya Lailatul Qadar
2. Perbedaan waktu/jam dengan negara lain tentang turunnya Lailatul Qodar.
3. Ciri-ciri orang yang mendapatkan curahan rahmat Malam Lailatul Qodar (kalau kita pas lagi ibadah  menyambut Lailatul Qadar, kebetulan malam itu Lailatul Qodar turun).
Itu saja pertanyaan saya, mudah-mudahan ustadz berkenan memberikan jawaban.
Terimakasih.
Wassalaamua'laikum Wr.Wb
Muhtadin
adin
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Adin yang dimuliakan Allah swt
Ciri-ciri Lailatul Qodr
Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt :
Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)
Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :
Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)
Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :
1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)
4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)
Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)
Perbedaan Waktu Antar Negara
Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).
Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)
Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)
Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara—sebagaimana sering kita saksikan—maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qodr di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qodr karena lailatul qodr ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.
Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.
Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodr
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”
Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)
Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.
Wallahu A’lam








Leave a Reply