Fatwa Fatwa Tentang Puasa

0 komentar
 


ISI FATWA:
1.Bolehkah wanita hamil tidak puasa ?
2.Mencicipi makanan....
3.Menggunakan siwak....
4.Hukum orang puasa tidak shalat
5.Hukum menggunakan inhaler
6.Hukum cuci darah
7.Hukum mengeluarkan darah
8.Puasa dan junub
9.Wanita suci setelah shubuh....
10.Penderita maag....
11.Menggunakan pasta gigi....
12.Puasa berdasar satu rukyat
13.'Itikaf dan syaratnya
14Tidur sepanjang hari...
15.Meninggal pada bulan ramadhan
16.Hukum berbekam....
17.Hukum mencicipi masakan....
18.Menonton TV.....
19.Berbuka pada wanita hamil yang sedang menyusui.....

Bolehkah Wanita Hamil Tidak Berpuasa
Tanya :
Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Ifta' ditanya: Apakah ada rukhshah bagi wanita hamil di bulan Ramadhan untuk tidak berpuasa, jika rukhshah itu ada baginya, apakah itu berlaku pada bulan-bulan tertentu saja di masa hamil yang umumnya sembilan bulan itu, ataukah keringanan itu hanya berlaku pada masa hamil. Jika rukhshah itu ada baginya, apakah wajib qadha baginya ataukah boleh memberi makan orang miskin dan berapakah ukuran memberi makan itu? Kemudian, karena kita tinggal di daerah yang panas, apakah puasa itu dapat berpengaruh terhadap wanita hamil?
Jawab :
Jika seorang wanita hamil khawatir adanya bahaya terhadap dirinya atau terhadap janinnya jika ia melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, maka hendaknya ia tidak berpuasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasa itu, baik ia tinggal di daerah panas ataupun di daerah dingin. Hal itu tidak dibatasi pada umur kehamilan tertentu, karena ia sama kedudukannya dengan orang sakit, dan Allah ta'ala telah berfirman: "dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain." (Al-Baqarah: 184)

Mencicipi Makanan Oleh Orang Yang Sedang Berpuasa
Tanya :
Apakah seorang juru masak boleh mencicipi masakannya untuk memastikan ketepatan rasanya, sementara ia sedang berpuasa?
Jawab :
Tidak apa-apa mencicipi makanan jika diperlukan, yaitu dengan cara menempelkannya pada ujung lidahnya untuk mengetahui rasa manis, asin atau lainnya, namun tidak ditelan, tapi diludahkan, dikeluarkan lagi dari mulutnya. Hal ini tidak merusak puasanya. Demikian menurut pendapat yang kami pilih. Wallahu a’lam.
( Syaikh Ibnu Jibrin, Fatawa Ash-Shiyam, disusun oleh Rasyid Az-Zahrani, hal. 48. )

Menggunakan Siwak Di Bulan Ramadhan
Tanya :
Ada orang yang enggan menggunakan siwak pada bulan Ramadhan karena kakhawatiran akan merusak puasanya. Apakah sikap ini dibenarkan? Lalu, kapan waktu yang utama untuk bersiwak di bulan Ramadhan?
Jawab :
Menghindari penggunaan siwak tidak ada dasarnya, baik pada bulan Ramadhan ataupun hari-hari lainnya yang digunakan untuk puasa, karena menggunakan siwak itu sunat, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, bahwa siwak itu membersihkan mulut dan menyebabkan keridhaan Allah serta sangat dianjurkan ketika wudhu’ dan sebelum shalat, juga ketika bangun tidur dan saat masuk rumah, baik ketika puasa maupun tidak. Siwak itu tidak merusak puasa, jika mengandung rasa dan bekas pada ludah maka tidak boleh ditelan. Dan jika gusi berdarah karena siwak, maka tidak boleh ditelan. Jika anda berhati-hati terhadap hal-hal tersebut, maka hal itu sama sekali tidak mempengaruhi puasa.
(Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ash-Shiyam, disusun oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 39. )

Hukum Orang Yang Puasa Tapi Tidak Shalat
Tanya :
Apa hukum orang yang berpuasa tapi meninggalkan shalat? Apakah puasanya sah?
Jawab :
Yang benar, bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hukumnya kufur akbar. Puasa dan ibadah-ibadah lainnya tidak sah sampai ia bertaubat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Hal ini berdasarkan firman-Nya,
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
Dan berdasarkan ayat-ayat serta hadtis-hadits lain yang semakna.
Sebagian ulama menyatakan bahwa hal itu tidak menyebabkannya kafir dan puasa serta ibadah-ibadah lainnya tidak batal jika ia masih mengakui kewajiban-kewajiban tersebut, ia hanya termasuk orang-orang yang meninggalkan shalat karena malas atau meremehkan.
Yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu kafirnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja walaupun mengakui kewa-jibannya. Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya adalah sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,
“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah Radhiallaahu anhu.
dan sabda beliau,
“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barang-siapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan keempat penyusun kitab sunan dengan isnad shahih dari hadits Buraidah bin Al-Hushain Al-Aslami Radhiallaahu anhu.)
Al-’Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullaah telah mengupas tuntas masalah ini dalam tulisan tersendiri yang berjudul “Shalat dan orang yang meninggalkannya”, risalah beliau ini sangat bermanfaat, sangat baik untuk merujuk dan mengambil manfaatnya.
( Syaikh Ibnu Baz, Fadha’il Ramadhan, disusun oleh Abdurrazaq Hasan, (pertanyaan no. 15). )

Hukum Menggunakan Inhaler Bagi Yang Berpuasa
Tanya :
Di sebagian apotik ada inhaler yang digunakan oleh sebagian pen-derita asma. Apakah orang yang berpuasa boleh menggunakannya di siang hari Ramadhan?
Jawab :
Menggunakan inhaler tersebut bagi yang berpuasa hukumnya boleh, baik itu puasa Ramadhan ataupun lainnya. Karena inhaler itu tidak sampai ke lambung tapi hanya berfungsi melegakan saluran pernafasan dan pengunaannya pun hanya dengan bernafas seperti biasa. Jadi hal ini tidak seperti makan dan minum, dan dengan itu pun tidak ada makanan dan minuman yang sampai ke lambung.
Sebagaimana diketahui, bahwa hukum asalnya adalah puasanya sah sampai ada dalil yang meunjukkan rusaknya puasa, baik dari Al-Kitab, As-Sunnah atau ijma’ ataupun kias yang shahih.
( Syaikh Ibnu Utsaimin, Fadha’il Ramadhan, disusun oleh Abdurrazaq Hasan, (pertanyaan no. 1). )

Hukum Cuci Darah Bagi Yang Berpuasa
Tanya :
Apa hukum mencuci darah bagi penderita sakit ginjal yang sedang berpuasa. Apakah ia harus mengqadha’ atau tidak?
Jawab :
Ia wajib mengqadha karena adanya tambahan darah bersih, dan jika ditambahkan zat lain, maka itu juga pembatal yang lain. ( Syaikh Ibnu Baz, Fadha’il Ramadhan, disusun oleh Abdurrazaq Hasan, (pertanyaan no. 2). )
  


Hukum Mengeluarkan Darah Dari Orang Yang Sedang Berpuasa
Tanya : 
Apakah mengambil sedikit darah di siang bulan Ramadhan untuk pemeriksaan medis atau untuk donor membatalkan puasa?
Jawab :
Jika seseorang mengambil sedikit darah yang tidak menyebabkan kelemahan pada tubuhnya, maka hal ini tidak membatalkan puasanya, baik itu untuk pemeriksaan medis atau untuk transfusi darah kepada orang lain ataupun untuk didonorkan kepada seseorang yang membutuhkannya.
Tapi jika pengambilan darah itu dalam jumlah banyak yang menyebabkan kelemahan pada tubuh, maka hal itu membatalkan puasa. Hal ini dikiaskan pada berbekam yang telah ditetapkan oleh As-Sunnah bahwa hal itu membatalkan puasa. Berdasarkan ini, seseorang yang tengah melaksanakan puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, tidak boleh mendonorkan darah dalam jumlah banyak, kecuali bila terpaksa (darurat), karena dalam kondisi ini berarti ia telah batal puasanya sehingga diboleh-kan makan dan minum pada sisa hari tersebut untuk kemudian mengqadha’ pada hari lain di luar bulan Ramadhan.
( Syaikh Ibnu Utsaimin, Fadha’il Ramadhan, disusun oleh Abdurrazaq Hasan, (pertanyaan no. 2). )
 
Puasa Dan Junub
Tanya : 
Apakah seseorang boleh puasa sementara ia junub karena tidak sengaja?
Jawab :
Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa pada suatu Subuh Nabi a pernah junub karena menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.
Mandi junub itu adalah syarat sahnya shalat, sehingga tidak boleh menundanya, karena melaksanakan shalat Subuh itu harus pada waktunya. Tapi jika ia tertidur dalam keadaan junub dan baru bangun waktu dhuha, maka saat itu ia harus segera mandi dan shalat Subuh serta melanjutkan puasanya. Demikian juga jika ia tertidur di siang hari dalam keadaan berpuasa, lalu mimpi junub, maka ia harus mandi untuk shalat Zhuhur atau Ashar dan tetap melanjutkan puasanya.
(Syaikh Ibnu Jibrin, Fatawa Ash-Shiyam, disusun oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 31. )
 
Jika Seorang Wanita Suci Setelah Subuh, Maka Ia Harus Berpuasa Dan Mengqadha’
Tanya : 
Jika seorang wanita suci setelah Subuh, apakah ia harus berpuasa pada hari tersebut dan dianggap berpuasa atau harus mengqadha’?
Jawab :
Jika keluarnya darah berhenti ketika terbit fajar atau sesaat setelah terbit fajar, maka puasanya sah dan berarti telah melaksankaan kewajiban tersebut, walaupun ia baru mandi besar setelah lewat Subuh. Tapi jika baru berhenti setelah lewat Subuh, maka harus berpuasa pada hari itu, tapi tidak dianggap telah menyelesaikan kewajiban puasanya, ia harus meng-qadha’ hari tersebut di luar Ramadhan. Wallahu a’lam.
(Syaikh Ibnu Jibrin, Fatawa Ash-Shiyam, disusun oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 26. )

Penderita Mag Dan Puasa
Tanya : 
Saya menderita penyakit mag, para dokter telah menyarankan agar saya tidak berpuasa, tapi saya tidak mengindahkan saran mereka, saya tetap berpuasa. Akibatnya, sakit saya bertambah parah. Apakah berdosa jika saya tidak berpuasa, dan apa kaffarahnya (tebusannya)?
Jawab :
Jika puasa itu memberatkan bagi anda dan menambah parah penya-kitnya, sementara ada dokter Muslim yang dikenal ahli di bidangnya telah memberitahukan anda bahwa puasa itu dapat membayakan kesehatan anda dan menambah parahnya penyakit serta mengancam jiwa anda, maka anda boleh berbuka dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang anda tinggalkan. Tidak ada qadha’ bagi anda karena tidak memungkinkan untuk mengqadha’. Tapi jika penyakitnya sembuh dan kesehatan anda pun telah pulih, maka anda harus berpuasa di bulan lain seperti yang lainnya. Hanya saja anda tidak perlu mengqadha’ untuk tahun-tahun sebelumnya yang anda tinggalkan dengan membayar kaffarah (tebusan).
(Syaikh Ibnu Jibrin, Fatawa Ash-Shiyam, disusun oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 19. )

Menggunakan Pasta Gigi Saat Berpuasa
Tanya : 
Apa hukumnya menggunakan pasta gigi di siang bulan Ramadhan bagi yang sedang berpuasa?
Jawab :
Tidak apa-apa menggunakan pasta gigi bagi yang berpuasa jika tidak sampai ke lambungnya, tapi lebih baik tidak menggunakannya, karena pasta gigi itu mengandung zat-zat yang kuat yang bisa sampai ke lambung tanpa dirasakan oleh penggunanya. Karena itulah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepada Al-Qaith bin Shabrah,
“Dan mantapkanlah (hiruplah dalam-dalam) saat istinsyaq (mem-bersihkan hidung dengan menghirup air) kecuali jika engkau sedang berpuasa.”
Maka yang lebih utama bagi yang sedang berpuasa adalah tidak menggunakannya. Masalahnya cukup fleksible, jika mau menundanya hingga saat berbuka, berarti telah menghindari hal-hal yang dikhawatirkan dapat merusak puasa.
( Kitab Ad-Da’wah (5), Syaikh Ibnu Utsaimin, (2/168). )

Puasa Berdasarkan Satu Ru’yat (Penglihatan)
Tanya : 
Apakah kaum Muslimin di seluruh dunia diharuskan berpuasa berdasarkan satu ru’yat? Dan bagaimana puasanya kaum Muslimin di beberapa negaka kafir yang tidak ada ru’yat syar’iyahnya?
Jawab :
Para ahlul ilmi telah berbeda pendapat dalam masalah ini, yaitu, jika di suatu negara kaum Muslimin telah terlihat hilal, yang mana ru’yat itu telah memenuhi standar syari’at, apakah kaum Muslimin lainnya harus mengikuti hasil ru’yat tersebut?
Di antara ahlul ilmi ada yang mengatakan, bahwa itu mengha-ruskan kaum Muslimin untuk berpedoman pada hasil ru’yat tersebut. Mereka berdalih dengan keumuman firman Allah Ta’ala,
“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka wajiblah ia berpuasa dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 185).
Dan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, “Jika kalian melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah.” Mereka mengatakan, “Khitab ini bersifat umum, berlaku untuk seluruh kaum Muslimin.”
 Sebagaimana diketahui, bahwa yang dimaksudkan itu bukanlah ru’yat setiap orang dengan penglihatannya masing-masing, karena hal itu tidak mungkin. Yang dimaksud itu adalah, bila yang melihatnya itu seorang yang dapat dipercaya penglihatannya tentang masuknya bulan (berganti-nya bulan), dan ini bersifat umum di setiap tempat.
Para ahlul ilmi lainnya berpendapat, bahwa tempat-tempat muncul-nya hilal itu berbeda-beda, sehingga setiap wilayah ada tempat sendiri-sendiri. Jika tempat munculnya hilal itu sama, maka orang-orang yang berada di wilayah tersebut, kendati belum melihatnya, harus mengikuti, jika memang di bagian lain (dalam kawasan yang sama tempat terbitnya) telah terlihat hilal.
Mereka berdalih dengan dalil yang sama, mereka mengatakan: Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka wajiblah baginya berpuasa.” (Al-Baqarah: 185).
Dan sebagaimana diketahui, bahwa yang dimaksud itu bukanlah penglihatan masing-masing orang, tapi cukup dilakukan di tempat yang bisa melihat munculnya hilal. Hal ini berlaku untuk setiap tempat yang masih satu kawasan. Adapun kawasan lain yang tempat munculnya hilal berbeda dengan tempat tersebut, jika memang belum melihatnya, maka tidak harus mengikutinya.
Mereka juga mengatakan: Kami juga mengatakan tentang sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,
“Jika kalian melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal) maka berbukalah.”
Bahwa orang yang berada di suatu tempat yang tidak sekawasan dengan orang yang telah melihat hilal, maka secara hakekat dan hukum ia belum termasuk yang melihatnya. Lebih jauh mereka mengatakan: Penen-tuan waktu bulanan adalah seperti halnya penentuan waktu harian, karena negara-negara itu berbeda waktu mulai puasa dan bukanya setiap hari, maka demikian juga dalam penetapan mulai dan berakhirnya bulan. Se-bagaimana diketahui, bahwa perbedaan waktu/hari telah disepakati oleh kaum Muslimin, di mana orang-orang yang berada di belahan timur bumi lebih dulu berpuasa daripada yang berada di belahan barat, demikian juga, mereka berbuka lebih dulu.
Jika kita memberlakukan perbedaan waktu terbit harian ini, maka untuk penetapan bulan pun sama persis perbedaannya.
Tidak mungkin seseorang mengatakan, bahwa firman Allah,
“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam,.” (Al-Baqarah: 187).
Dan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,
“Jika malam telah datang dari sini dan siang telah berlalu dari sini, sementara matahari telah terbenam, maka telah berbuka orang yang puasa.”
Tidak mungkin seseorang mengatakan bahwa ini bersifat umum yang berlaku untuk seluruh kaum Muslimin di semua negara.
Kami pun berpedoman pada keumuman firman Allah Ta’ala,
“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka wajiblah baginya berpuasa.” (Al-Baqarah: 185).
Dan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,
“Jika kalian melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal) maka berbukalah.”
Pendapat ini, sebagaimana anda lihat, cukup kuat baik secara lafazh, pandangan dan kiyas yang benar, yaitu mengkiaskan penetapan waktu bulanan pada penetapan waktu harian.
Ahlul ilmi lainnya berpendapat, bahwa perkaranya di tangan yang berwenang dalam masalah ini. Jika yang berwenang itu berpendapat wa-jibnya puasa atau berbuka berdasarkan itu yang dilandasi oleh sandaran syar’i, maka ketetapan itu yang berlaku. Hal ini agar orang-orang yang berada di satu wilayah tidak berlainan. Mereka berdalih dengan keumuman hadits,
“Hari puasa adalah hari dimana kalian semua berpuasa, dan hari berbuka adalah hari di mana kalian semua berbuka.”
Ada juga pendapat lain dari para ahlul ilmi seputar perbedaan pendapat dalam masalah ini.
Kemudian tentang hal kedua yang disebutkan dalam pertanyaan, yaitu bagaimana puasanya kaum Muslimin di beberapa negara kafir yang tidak ada ru’yat syar’iyahnya? Mereka di sana tidak memungkinkan untuk menetapkan hilal dengan cara syar’i, maka caranya, mereka berusaha untuk melihatnya jika memungkinkan, jika tidak memungkinkan, maka ketika telah ada ketetapan ru’yat hilal di suatu negara Islam, mereka melaksanakan berdasarkan ru’yat tersebut, baik itu mereka telah melihat-nya ataupun belum.
Kalau kita berpijak pada pendapat kedua, yakni masing-masing negara berdiri sendiri jika tempat munculnya hilal berlainan, sementara mereka tidak bisa melakukan ru’yat di negara tempat tinggalnya, maka mereka mengikuti negara Islam yang terdekat, karena cara inilah yang paling memungkinkan untuk mereka lakukan.
( Kitab Ad-Da’wah (5), Syaikh Ibnu Utsaimin, (2/152-156). )



I’tikaf dan Syaratnya
Tanya :
Apakah i’tikaf di bulan Ramadhan sunat muakkad? dan apa syaratnya selain bulan Ramadhan?
Jawab :
I’tikaf di bulan Ramadhan adalah sunat, Nabi Shalallaahu alaihi wasalam melakukannya pada masa hidupnya, para isteri beliau pun melakukannya setelah wafatnya beliau. Ahlul ilmi menyebutkan ijma’ ulama bahwa i’tikaf hukumnya sunat. Tapi i’tikaf itu harus dilakukan sesuai dengan tuntunan syari’at, yaitu di mana seseorang berada di masjid karena mentaati Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan melepaskan diri dari kegiatan duniawi dan beralih kepada ketaatan kepada Allah, jauh dari urusan dunia dan melaksanakan berbagai ketaatan yang berupa shalat, dzikir dan sebagainya. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam beri’tikaf ketika menjelang lailatul qadar. Orang yang beri’tikaf harus menjauhi kegiatan duniawi, yaitu; tidak melakukan jual beli, tidak keluar dari masjid, tidak mengantar jenazah, tidak menjenguk yang sakit. Adapun orang-orang yang beri’tikaf lalu dikunjungi oleh pengunjung sepanjang malam dan siang hari, yang mana dalam hal itu banyak ucapan-ucapan yang terlarang, maka hal itu bertolak belakang dengan maksud i’tikaf.
Adapun jika dikunjungi salah seorang keluarganya dan meng-ajaknya berbicara, maka itu tidak mengapa, sebab ada riwayat dari Nabi, bahwa beliau dikunjungi oleh Shafiyah (isterinya) sementara beliau sedang i’tikaf lalu ia berbicara dengan beliau. Yang jelas, hendaknya orang menjadikan i’tikaf itu untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala .
( “Fatawa Ash-Shiyam” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin )

Tidur Sepanjang Hari Ketika Puasa
Tanya :
Apa hukumnya tidur sepanjang hari, dan apa hukum puasanya orang yang tidur itu jika ia hanya bangun untuk melaksanakan kewajiban shalat kemudian tidur lagi. Bagaimana hukumnya?
Jawab :
Pertanyaan ini meliputi dua kondisi:
Pertama: Orang yang tidur sepanjang hari dan tidak bangun, tidak diragukan lagi bahwa ia telah lupa akan dirinya dan maksiat terhadap Allah Subhannahu wa Ta'ala karena meninggalkan shalat pada waktunya. Jika termasuk yang wajib berjama’ah, maka kemaksiatannya bertambah lagi karena meninggalkan jama’ah. Ini dilarang dan mengurangi nilai puasanya. Perumpamaannya adalah seperti orang yang membangun sebuah istana tapi menghancurkan sebuah negara. Maka hendaknya ia bertobat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan hendaknya ia melaksanakan shalat pada waktunya sebagaimana yang telah diperintahkan.
Kedua: Orang yang seperti itu tapi ia bangun untuk melak-sanakan shalat fardhu pada waktunya dengan berjama’ah. Ini tidak berdosa, hanya saja ia telah melewatkan banyak kebaikan untuk dirinya. Karena selayaknya seorang yang berpuasa itu menyibukkan dirinya dengan shalat, dzikir, doa dan membaca Al-Qur’an, sehingga dengan demikian ia telah menghimpun puasanya dengan berbagai macam ibadah lainnya. Jika ia telah membiasakan dirinya pada amal-amal ibadah ketika berpuasa, maka akan mudah baginya untuk melaksanakan itu. Namun jika ia bermalas-malasan dan berleha-leha, maka tidak ada yang didapatinya kecuali itu, dan akan sulit baginya untuk melaksanakan amal-amal ibadah saat berpuasa. Maka nasihat saya, hendaknya tidak menghabiskan waktu puasanya untuk tidur, hendaknya bersemangat melaksanakan ibadah, karena alhamdulilah, zaman sekarang Allah telah memberikan kemudahan bagi yang berpuasa dengan menghilangkan berbagai kesulitan, di antaranya adalah dengan adanya AC atau kipas angin dan sebagainya, hal ini termasuk yang menyebabkan kemudahan bagi yang berpuasa.
( “Fatawa Ash-Shiyam” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin )

Meninggal Pada Bulan Ramadhan
Tanya :
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Apabila bulan Ramadhan tiba, maka akan dibukalah pintu-pintu Surga dan ditutuplah pintu-pintu Neraka.” Apakah itu artinya bahwa barangsiapa yang meningal pada bulan Ramadhan akan masuk Surga tanpa dihisab?
Jawab :
Artinya tidak demikian. Makna hadits ini, bahwa pintu-pintu Surga dibuka adalah sebagai motivator bagi orang-orang yang melakukan amal kebaikan agar mereka dapat masuk. Dan ditutup-nya pintu-pintu Neraka adalah sebagai pencegah bagi para ahli iman dari kemaksiatan agar mereka dapat selamat dari pintu-pintu itu. Bukan berarti bahwa yang meninggal pada bulan Ramadhan akan masuk Surga tanpa dihisab, sebab orang-orang yang masuk Surga tanpa dihisab telah disebutkan ciri-cirinya oleh Rasul Shalallaahu alaihi wasalam dalam sabdanya:
 “Yaitu mereka yang tidak meminta diruqyah, tidak merajah, tidak tathayyur dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal.”, yang disertai dengan melaksanakan amal-amal sholeh yang diwajibkan atas mereka.
( “Fatawa Ash-Shiyam” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin )

Hukum Berbekam Bagi yang Berpuasa dan Hukum Keluarnya Darah
Tanya :
Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam : “Orang yang membekam dan yang dibekam batal puasanya.” Apakah hadits ini shahih, jika memang shaih, bagaimana penafsirannya?
Jawab :
Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Artinya, bahwa seseorang yang sedang puasa jika ia dibekam oleh orang lain, maka puasanya batal, dan orang yang membekamnya juga puasanya batal. Karena berbekam itu hanya terjadi dengan adanya yang membekam dan yang dibekam.
Yang dibekam, yaitu orang yang dikeluarkan darahnya, sedang-kan yang membekam adalah yang mengeluarkan darah dari yang dibekam. Jika puasa itu puasa wajib, maka orang yang tengah menja-laninya tidak boleh berbekam, karena hal itu dapat membatalkan puasa yang diwajibkan atasnya. Kecuali jika terpaksa harus melakukan itu, misalnya ada pembekukan darah dan menimbulkan gangguan, maka saat itu boleh berbekam, dan ia menganggap dirinya berbuka dan kelak akan mengqadhanya, kemudian setelah itu boleh makan dan minum, karena orang yang berbuka (batal puasanya) karena alasan syari’i (yang dibenarkan syari’at) boleh makan dan minum pada sisa harinya. Karena hari tersebut termasuk hari yang dibolehkan syari’at untuk berbuka, bukan termasuk hari yang diwajibkan atasnya imsak (manahan dari hal yang membatalkan puasa), demikian berdasarkan dalil-dalil syari’at. Perlu juga sampaikan dalam kesempatan ini, bahwa sebagian orang menyamaratakan masalah ini, sehingga ada sebagian mereka yang karena keluar darah sedikit langsung saja mengira bahwa puasanya batal. Dugaan ini tidak benar.
Kami katakan, bahwa jika keluarnya darah itu bukan karena perbuatan anda sendiri, maka tidak berpengaruh terhadap anda, baik darah yang keluar itu banyak ataupun sedikit. Seperti halnya seseorang yang mimisan (keluar darah dari hidungnya) dan darah yang keluar itu cukup banyak maka itu tidak berpengaruh (terhadap puasanya), atau orang yang terluka lalu keluar darah yang banyak, maka itu pun tidak berpengaruh, atau orang yang terkena sesuatu lalu keluar darahnya maka itu pun tidak berpengaruh. Jadi, itu tidak membatalkan puasa karena darah itu keluar tanpa kehendaknya. Adapun jika darah itu keluar karena pilihannya, jika darah itu berdampak seperti dampak yang ditimbulkan oleh berbekam, yaitu dapat melemahkan tubuh dan menurunkan kekuatan fisik, maka itu membatalkan puasa, karena hal itu secara makna tidak berbeda dengan berbekam. Tapi jika darah yang keluar itu hanya sedikit dan tidak berpengaruh terhadap tubuh maka tidak membatalkan sekali pun hal itu merupakan pilihan dan kehendaknya ... Pokoknya setiap orang mengetahui batasan-batasan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya Shalallaahu alaihi wasalam agar dapat beribadah kepada Allah berdasarkan bashirah. Wallahul Muwaffiq.
( “Fatawa Ash-Shiyam” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin )

Hukum Mencium Bagi yang Berpuasa
Tanya :
Jika seorang pria, baik muda maupun tua, mencium isterinya dalam keadaan berpuasa, apakah ia berdosa?
Jawab :
Seorang yang berpuasa bila mencium isterinya tidaklah berdosa, baik itu yang masih muda maupun yang sudah tua. Hal ini berdasarkan riwayat dalam Shahih Muslim¸ bahwa Umar bin Abi Salamah bertanya kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, “Apakah orang yang sedang berpuasa boleh mencium?” Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Tanyalah ini”, maksud-nya adalah Ummu Salamah, lalu ia (Ummu Salamah) mengabarkan bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah melakukan itu. Umar berkata lagi, “Wahai Rasulullah, Allah kan telah mengampuni dosamu yang terdahulu maupuan yang kemudian.” beliau bersabda: “Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya”.

Menonton Televisi Bagi yang Berpuasa
Tanya :
Apakah menonton televisi dan video di siang bulan Ramadhan mengurangi nilai puasa?
Jawab :
Apa yang dilihat atau didengar seseorang, jika hal itu termasuk yang dibolehkan, maka tidak apa-apa dan tidak mencemari puasa. Namun demikian, tidaklah layak bagi yang berpuasa untuk menghabiskan waktunya kecuali dalam hal-hal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, baik itu berupa shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir ataupun lainnya.
Adapun melihat atau mendengarkan sesuatu yang diharamkan, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu akan mempengaruhi puasanya dan mengurangi nilainya, karena hikmah dari puasa itu sendiri adalah agar bertaqwa kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183).
Di sini Allah menjelaskan bahwa hikmah diwajibkannya puasa adalah agar bisa mencapai ketakwaan. Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
 “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan palsu dan perbuatannya serta kejahilan, maka Allah tidak membutuhkan terhadap perbuatannya dalam meninggalkan makan dan minum.”( Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (no. 1903) dalam kitab Ash-Shaum. )
Berdasarkan ini, maka setiap kemaksiatan yang dilakukan oleh orang yang berpuasa akan berpengaruh terhadap puasanya.
Termasuk dalam katogeri ini, adalah apa yang dilakukan oleh sebagian orang, bahwa mereka berpuasa, yakni tidak makan, minum dan berhubungan suami-isteri, namun mereka terjebak dalam kemak-siatan terhadap Allah. Ada di antara mereka yang berusaha makan sahur namun setelah itu ia tidur sehingga melewatkan shalat subuh, ia tidak bangun kecuali setelah terbitnya matahari. Ada juga yang sengaja tidur sebelum waktu shalat Ashar dan tidak bangun kecuali ketika saat mau berbuka, terus ia melakukan shalat empat raka’at dengan tergesa-gesa ia tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit. Ada juga yang berbohong dan menggunjing orang lain, berbuat curang dan menipu dalam jual beli, bahkan ada juga yang melakukan hal-hal yang diharamkan padahal ia sedang berpuasa. Tidak diragukan lagi bahwa semua perbuatan itu akan mengurangi nilai puasa mereka, bahkan boleh jadi pahala dan dosanya saling bersaing sehingga mereka tidak mendapatkan pahala puasa.


Kami nasihatkan kepada saudara-saudara muslim semua, hen-daklah mereka memelihara puasa dari segala yang diharamkan Allah, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan, dan hendaknya menjadi-kan bulan yang penuh berkah itu sebagai pendorong kepada mentaati Allah Subhannahu wa Ta'ala , karena sesungguhnya dengan itu mereka mencapai pendidikan yang agung, yaitu dengan membiasakan diri meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan melaksanakan kewajiban-kewajiban. Wallahul Muwaffiq.
( “Fatawa Ash-Shiyam” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin )

Berbukanya Wanita Hamil dan Wanita yang Menyusui
Tanya :
Ketika datang bulan Ramadhan, saya tengah hamil sembilan bulan. Setelah melahirkan saya merasa khawatir terhadap diri dan bayi saya lalu saya berbuka (tidak berpuasa). Hari-hari yang saya tinggalkan itu sudah saya qadha, apakah masih ada kewajiban lain atas saya selain itu? Dan apakah saya berdosa karena saat itu saya berbuka?
Jawab :
Pertanyaan ini melahirkan hukum lain, yaitu, bahwa wanita hamil dan wanita menyusui jika keberatan melaksanakan puasa dan khawatir terhadap dirinya atau terhadap anaknya, maka mereka boleh berbuka. Jika kekhawatiran itu terhadap dirinya saja atau terha-dap dirinya dan anaknya, maka tidak ada kewajiban lain selain qadha. Namun jiwa kekhwatiran itu hanya terhadap anaknya, maka pendapat yang masyhur dari madzhab Imam Ahmad, bahwa mereka wajib meng-qadha puasanya dan bagi penanggung jawab anak itu (biasanya adalah ayahnya) memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang diting-galkannya. Jadi, wanita itu (yang hamil atau yang menyusui), harus mengqadha puasa yang ditinggalkannya, sementara penanggung jawab si anak (misalnya, ayahnya) memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya. Adapun jawaban dari pertanyaan tadi adalah, bahwa kewajiban anda adalah mengqadha, dan itu telah anda laksanakan, dan untuk hal itu tidak ada dosa. Alhamdulillah.
( “Fatawa Ash-Shiyam” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin )




Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin 
Pertanyaan:
Apakah anak kecil yang belum mencapai usia 15 tahun (belum baligh -red) diperintahkan untuk berpuasa sebagaimana dalam shalat??
Jawaban:
Ya, anak-anak kecil yang belum mencapai usia baligh diperintahkan untuk berpuasa jika mereka mampu. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh para shahabat terhadap anak-anak mereka.
Sungguh para ulama telah mengatakan dengan tegas bahwa seorang pemimpin itu memerintahkan orang yang dibawah kepemimpinannya dari anak-anak kecil untuk berpuasa agar mereka terlatih dan terbiasa serta akan menjadi tabiat (kebiasaan-red) untuk melaksanakan prinsip (dasar) dari agama Islam pada hati-hati mereka.
Akan tetapi jika hal ini memberatkan atau bermudharat kepada mereka, tidak diharuskan bagi mereka untuk melaksanakannya. Dan saya ingin memeberi peringatan terhadap apa yang dilakukan oleh para bapak dan ibu, dimana mereka melarang anak-anak mereka untuk berpuasa. Mereka mengannggap bahwa pelarangan terhadap anak-anak mereka untuk berpuasa merupakan kasih sayang buat mereka dan merasa kasihan. Padahal, hakikatnya mengasihi para anak itu ialah dengan memerintahkan mereka untuk mengerjakan syariat-syariat Islam dan membiasakannya. Karena ini tidak diragukan lagi adalah sebaik-baik mendidik mereka dan sempurna dia dalam mengatur orang yang di bawah pimpinannya (tanggung jawabnya). Telah bersabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam (yang artinya):
"Sesungguhnya seseorang itu akan menjadi pemimpin terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya" (HR. Bukhari No. 2409, Muslim No. 1829)
Sepantasnya bagi para pemimpin yaitu orang-orang yang Allah jadikan di sebagai pemimpin terhadap keluarganya dan anak-anak kecil untuk bertakwa (takut) kepada Allah dalam urusan mereka dan hendaklah para pemimpin itu memerintahkan mereka dengan syariat Islam. (af)
Dinukil dari:
48 Soal Jawab tentang Puasa bersama Syaikh Utsaimin-rahimahullah
Penulis : Syaikh Salim bin Muhammad Al-Juhani
Penerbit : Maktabah Al-Ghuroba’ Solo


Leave a Reply