Murotal Al - Imran Ayat 133 - / Meraih Surga Melalui Amalan Takwa




Meraih Surga Melalui Amalan Takwa
Dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan untuk bersegera dalam dua hal yaitu :
[1] Meraih ampunan Allah [2] Meraih surga-Nya yang lebarnya selebar langit dan bumi. Apalagi panjangnya!! Surga ini Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa. –semoga Allah memudahkan kita untuk masuk di dalamnya-
Memahami Takwa Apa pengertian takwa?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (XX/132) bahwa takwa bukanlah hanya meninggalkan maksiat (kejelekan) namun takwa -sebagaimana ditafsirkan oleh ulama-ulama dahulu dan belakangan- adalah melakukan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang.
Tholaq bin Habib rahimahullah mengatakan,
Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah (yaitu di atas ilmu) dengan harapan untuk mendapatkan pahala dari Allah dan engkau menjauhi maksiat atas cahaya dari Allah (yaitu di atas ilmu) karena takut akan ’adzab Allah. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 211)
Di antara bentuk ketakwaan adalah menjaga shalat lima waktu di mana Allah memerintahkan hal ini pada kita,
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar atau Shubuh)” (QS. Al Baqarah [2] : 238)
Dan Allah melarang meninggalkan perkara agung ini karena inilah amalan yang pertama kali akan dihisab (diperhitungkan) di hari kiamat kelak di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
”Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah shalat. Yang perkara pertama kali yang akan diputuskan adalah urusan darah.” (HR. An Nasa’i dan Ath Thobroni, dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 1748).
Oleh karena itu, janganlah menganggap remeh shalat ini dan janganlah meninggalkannya karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,
 “Sesungguhnya di antara pembeda antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
yaitu yang menghalangi seseorang dari kekafiran adalah tidak meninggalkan shalat (yaitu melakukan shalat). Apabila seseorang meninggalkan shalat tidak lagi tersisa penghalang antara keislaman dan kesyirikan bahkan dia telah jatuh dalam dosa kekafiran. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
 “Tidak mungkin keimanan dan kekufuran itu bersatu dalam hati seseorang.” (Silsilah Ash Shohihah no. 1050).
Imam Syafi’i dan Imam Malik mengatakan orang yang meninggalkan shalat adalah orang yag fasik dan dia akan dihukum sebagaimana orang yang berzina.
Ibnul Qayyim dalam kitab Ash Sholatu wa Hukmu Tarikiha berkata,
”Kaum muslimin sepakat bahwa meninggalkan shalat yang wajib dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”
Meraih Surga Melalui Amalan Takwa Surga ini Allah sediakan bagi orang yang bertakwa dan mereka ini adalah penghuninya. Amalan takwa adalah amalan yang mengatarkan padanya. Kemudian selanjutnya Allah mensifati orang yang bertakwa dan amalannya: [1] { الذين ينفقون في السراء والضراء } = Gemar Berinfak Yaitu orang-orang yang banyak berinfak dalam keadaan susah maupun mudah, lapang atau sempit, senang maupun sulit, sehat ataupun sakit dan dalam segala kondisi. Jika dalam keadaan mudah dan kelebihan mereka berinfak, begitu juga dalam keadaan sempit (susah), mereka tetap berinfak walaupun sedikit. [2] { والكاظمين الغيظ } = Menahan Amarah Orang yang bertakwa ini adalah orang yang menahan amarah. Apabila ada yang menyakitinya, maka normalnya manusia, dalam hatinya akan dongkol, dan akan membalas dengan kata-kata maupun perbuatan. Inilah kebiasaan orang ketika disakiti. Namun orang yang bertakwa yang akan dijanjikan memasuki surga Allah akan menahan hatinya dari amarah, berusaha untuk sabar walaupun telah disakiti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
kuat bukanlah orang yang pandai bergelut. Namun, orang yang kuat adalah yang pandai menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
 “Kemarahan itu akan mengumpulkan seluruh kejelekan.” (HR. Ahmad. Dishohihkan Syaikh Al Albani dalam Shohih Targhib wa Tarhib)
[3] { والعافين عن الناس } = Memaafkan Orang Lain Termasuk dalam memaafkan orang lain adalah memberi maaf kepada semua orang yang telah menyakiti dengan perkataan dan perbuatan.
Memaafkan orang lain ini lebih utama dari menahan amarah karena memaafkan orang lain berarti tidak balas dendam terhadap orang yang telah menyakiti dan bermurah hati kepadanya.
Inilah orang-orang yang menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela karena memaafkan hamba Allah sebagai rahmat (kasih sayang) kepada mereka, berbuat baik kepada mereka, dan tidak senang menyakiti mereka. Semoga Allah mengampuni orang-orang seperti ini. Dan ingatlah balasannya adalah di sisi Allah yang Maha Mulia dan balasannya bukanlah di sisi hamba yang fakir yang tidak dapat memberikan apa-apa. Ingatlah firman Allah Ta’ala,
”Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya adalah di sisi Allah.” (QS. Asyura [42] : 40)
”Tiga hal yang Allah bersumpah dengannya : [1] Harta tidaklah berkurang dengan shodaqoh, [2] Tidaklah Allah menambahkan kepada orang yang memberi maaf kecuali kemuliaan, [3] Barangsiapa yang tawadhu (rendah diri) karena Allah maka Allah akan meninggikan (derajatnya).” (HR. Tirmidzi, Lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Semoga kita selalu dibekali oleh Allah dengan sifat takwa. Allahumma inna nasalukal huda wat tuqo wal afaf wal ghina. 

Puasa Tiga Hari Setiap Bulan dan Puasa Ayyamul Bidh




Kita disunnahkan berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali. Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah (Qomariyah). Puasa tersebut disebut ayyamul bidh (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih.

Dalil Pendukung

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 1- berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2- mengerjakan shalat Dhuha, 3- mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari no. 1979)
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2425. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa haditsnya hasan).
Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR. An Nasai no. 2347. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Namun dikecualikan berpuasa pada tanggal 13 Dzulhijjah (bagian dari hari tasyriq). Berpuasa pada hari tersebut diharamkan.
Semoga sajian singkat ini bermanfaat bagi pembaca Muslim.Or.Id sekalian. Hanya Allah yang memberi taufik untuk beramal sholih.

Referensi:
Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Bugho, dkk, terbitan Darul Qolam, cetakan kesepuluh, tahun 1431 H, hal. 357-358.
Artikel Muslim.Or.Id


Tanda Mendapatkan Lailatul Qadar?

Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar

Di masyarakat kami ada keyakinan, orang yang mendapat lailatul qadar, dia akan menjumpai atau melilhat kejadian yang luar biasa. Misal, melihat tulisan Allah di langit atau pohon bersujud, atau langit terbelah atau orang buta tiba-tiba bisa melihat, atau orang lumpuh bs jalan tiba-tiba, dan kejadian luar biasa lainnnya. Apakah ini benar?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, lailatul qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh. Allah berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 3 – 5)
Karena lailatul qadar berada pada rentang dari maghrib sampai subuh, maka peristiwa apapun yang terjadi sepanjang rentang itu berarti terjadi pada lailatul qadar. Sehingga,
·         Orang yang shalat maghrib di malam itu berarti dia shalat maghrib ketika lailatul qadar
·         Orang yang shalat isya di malam itu berarti dia shalat isya ketika lailatul qadar
·         Orang yang shalat tarawih di malam itu berarti dia shalat tarawih ketika lailatul qadar
·         Orang yang sedekah di malam itu berarti dia sedekah ketika lailatul qadar
Kedua, semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di lailatul qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.
Oleh karena itu, sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di lailatul qadar.
Imam Malik meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib (tabiin senior, menantu Abu Hurairah) tentang orang yang beribadah ketika lailatul qadar.
Bahwa Said bin Musayib pernah mengatakan, “Siapa yang ikut shalat isya berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar.” (Muwatha’ Malik, no. 1146).
Az-Zarqani menjelaskan,
“dia telah mengambil bagian lailatul qadar” maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha, 3/463).
Ketiga, keterangan di atas bukan mengajak kita untuk bermalas-malasan dalam meraih kemuliaan lailatul qadar. Sebaliknya, dengan penjelasan ini diharapkan kaum muslimin semakin optimis dalam mengejar lailatul qadar, karena semua orang yang beribadah di dalamnya pasti mendapatkannya. Banyak dan sedikitnya, tergantung dari kesungguhan dirinya dalam mendekatkan diri kepada Allah. Mereka yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan petunjuk, sehigga dimudahkan Allah mendapatkan banyak kebaikan di malam itu.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69)
Keempat, keyakinan bahwa orang yang mendapat lailatul qadar akan mengalami kejadian luar biasa, adalah keyakinan yang tidak benar. Bukan syarat untuk mendapat lailatul qadar harus mengalami kejadian aneh atau kejadian luar biasa.
Bahkan karena keyakinan ini, banyak orang menjadi pesimis dan mutung untuk beribadah. Karena merasa sudah sering ibadah di malam-malam ganjil, namun ternyata selama dia beribadah tidak mendapatkan kejadian aneh apapun.
Untuk itu, keyakinan ini tidak selayaknya ditanamkan dalam diri kita dan masyarakat sekitar kita.
Allahu a’lam.


(Sumber: https://konsultasisyariah.com)

Bagaimana Cara Meruqyah Diri Sendiri?





Bagaimana cara meruqyah diri sendiri?
Syaikh Shalih Al Ushaimi menjawab:
Dalam hadits yang shahih yang terdapat dalam Shahihain dari hadits Aisyah radhiallahu’anha[1], cara seseorang meruqyah diri sendiri adalah dengan menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian membacakannya ayat Al Qur’an apa saja yang ia inginkan.
Dan yang paling bagus adalah membacakan ayat Qur’an yang disebut dalam hadits, yaitu surat Al Ikhlas dan Mu’awwidzatain (An Naas dan Al Falaq) kemudian meniup 3 kali ke kedua telapak tangannya, jadi meniup setelah membaca Al Qur’an agar bersatu antara air liur dan bacaan Al Qur’an.
Kemudian ia mengusap apa yang ada di hadapannya atau yang ia sanggup untuk usap, atau pada bagian yang sakit jika ia bermaksud untuk meruqyah bagian tertentu yang sakit.
Boleh juga yang dibaca adalah ayat Kursi atau ayat yang lainnya dengan cara yang sama demikian.
***

Catatan kaki
[1] Hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut, dari Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata:
 Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan al mu’awwidzat (doa-doa perlindungan) ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Ketika sakit beliau semakin parah, akulah yang meniup beliau dengan al mu’awwidzat dan aku mengusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berkahnya kedua tangan beliau” (HR. Al-Bukhari no. 5735 dan Muslim no. 2192).

https://kangaswad.wordpress.com

Keutamaan Bulan Ramadhan yang Tak Diraih: Puasa tanpa Pahala - Poster Da...



Keutamaan Bulan Ramadhan yang Tak Diraih: Puasa tanpa Pahala


Keutamaan bulan Ramadhan atau keistimewaan bulan Ramadhan? Apa itu keutamaan bulan Ramadhan atau keistimewaan bulan Ramadhan? Sudah tahu keutamaan bulan Ramadhan atau keistimewaan bulan Ramadhan?
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Sesungguhnya Allah ta'ala mengkhususkan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya dengan keutamaan yang agung dan keistimewaan yang banyak.
Banyak dari saudara kita yang ingin tahu tentang seputar keistimewaan Ramadhan, keutamaan bulan Ramadhan, pidato keutamaan bulan suci Ramadhan keistimewaan bulan Ramadhan, keutamaan bulan Ramadhan dan dalilnya, keutamaan bulan suci Ramadhan, keistimewaan bulan suci Ramadhan, keutamaan Ramadhan, dan semisalnya.
Di antara keistimewaan bulan Ramadhan atau keutamaan bulan Ramadhan adalah sebagai berikut.
1) Bulan diturunkannya al-Qur'an. (QS. al-Baqarah [2]: 185)
2) Setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, dan pintu-pintu surga dibuka ketika Ramadhan tiba. (lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [7/188])
3) Terdapat malam yang penuh dengan kemuliaa dan keberkahan (QS. al-Qadr [97]: 1-3)
4) Salah satu waktu dikabulkannya doa. (HR. al-Bazaar dari Jabir bin ‘Abdillah. al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa'id [10/149] mengatakan bahwa perawinya tsiqah (terpercaya). lihat Jami’ul Ahadits [9/224]).
Ingin meraih berkah Ramadhan? Apa sih hikmah bulan Ramadhan itu?
Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-‘Arifi hafizhahullah pernah menjelaskan hikmah Ramadhan terhadap kehidupan; Jika Anda menghidupkan Ramadhan dengan baik, maka akan terasa keridhaan Allah kepada Anda dan perubahan kehidupan Anda menjadi lebih baik.
Sungguh, di bulan Ramadhan banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik. Pelajaran paling besar yang dapat kita ambil adalah pelajaran taqwa. Bahkan setiap amalan yang ada di bulan Ramadhan bertujuan untuk meraih taqwa.
Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik. Ini salah satu hikmah puasa Ramadhan. Tahukah Anda? Salah satu keutamaan puasa Ramadhan 30 hari atau keutamaan puasa di bulan Ramadhan adalah jalan meraih taqwa.
Kita telah sepakat, tujuan utama Allah mewajibkan kita untuk berpuasa adalah agar kita menjadi pribadi yang bertaqwa. Hanya saja, ada satu pertanyaan yang selayaknya untuk kita renungkan.
Apakah setiap kaum muslimin yang lulus melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan penuh berkah ini, secara otomatis menjadi insan yang bertaqwa?
Ataukah justru sebaliknya, banyak di antara kita atau kaum muslimin yang keluar bulan ramadhan berkah ini, tetapi masih memiliki sifat yang jauh dari ketaqwaan?


AKU DAN HIDUPKU - kisah seorang yatim piatu




Begini Cara Rasulullah SAW Memuliakan Yatim

Yatim, punya kedudukan tersendiri dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda akan bertetangga di surga untuk orang yang memuliakan yatim. Pun begitu sebaliknya, ada ancaman bagi yang mengabaikannya.
Keagungnya ajaran Islam, terlihat dari bagaimana agama ini menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi, Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan tentang hal ini.
Dalam surat Al-Ma’un misalnya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak  yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin.”(QS. Al-ma’un : 1-3)
Orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin, dicap sebagai pendusta Agama yang ancamannya berupa api neraka Dalam ayat lain, Allah juga berfirman, “Maka terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap  pengemis janganlah menghardik.”(QS.  Ad-Dhuha : 9 – 10 )
Keutamaan Memuliakan Yatim
Tak hanya membawa kebaikan dan kebahagiaan pada anak yatimnya, dengan memuliakannya ternyata yang melakukannya pun mendapatkan keutamaan di mata Allah subhanahu wa ta’ala.  Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim di antara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.”
Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu hadits yang berbunyi, “Dari Abu Hurairah, bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hatinya yang keras, lalu Nabi berkata, ‘Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin.’”
Dilansir dari almanhaj.or.id, terdapat beberapa faedah penting yang terkandung dalam hadits ini. Di dalam kitab, Aunul Ma’buud, menjelaskan makna hadits ini adalah orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dalam Syarhu Shahiihi Muslim, penjelasan selanjutnya dituliskan bahwa arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.
Tak hanya dengan tegas Allah melarang untuk menyakitinya, namun Allah juga dengan tegas menjanjikan surga bersama dengan Rasulullah bagi orang yang menyantuni anak yatim. Tentunya ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu. (muf/smn)
https://suaramuslim.net



E-book Spesial Ramadhan



Telah terbit E-book pertama dari muslimah.or id yang berjudul "Bersemilah Ramadhan". E-book ini adalah E-book kumpulan artikel pilihan seputar ramadhan yang dimuat di website Muslimah.Or.Id.

E-book Spesial Ramadhan

Bersemilah Ramadhan…
di hati orang-orang yang beriman.
Hadirnya disambut kebahagiaan,
Detik-detiknya diisi ketaatan,
Sudah siap kencangkan ikat pinggang?
Untuk “dia” yang segera akan bertandang..
Kiranya kita menyiapkan diri, agar Ramadhan tak hanya datang dan kemudian menghilang (tanpa meraih banyak keutamaannya).
***

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat.
Telah terbit E-book pertama dari muslimah.or id yang berjudul 
“Bersemilah Ramadhan”.
E-book ini adalah E-book kumpulan artikel pilihan seputar ramadhan yang dimuat di website Muslimah.Or.Id.
Berisi artikel tentang ilmu, nasihat, penyemangat dan motivasi khususnya bagi muslimah untuk mempersiapkan diri menyambut ramadhan, produktif selama ramadhan dan istiqomah beramal setelah ramadhan.
Memuat beberapa artikel, diantaranya:
(1) Nasihat
(2) Fiqh wanita
(3) Fatwa ulama
(4) Pendidikan anak
(5) Kumpulan tips,
(6) Kesehatan
(7) Serba-serbi hari raya
(8) Qadha puasa, dan
(9) Puasa Syawal.
 Download:
Atau
Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal di bulan Ramadhan.
Sumber : www.muslimah.or.id


Meraih Ampunan Allah di Bulan Ramadhan



الحمد لله رب العالمين. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله :وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ:
Dosa-dosa banyak diampuni di bulan Ramadhan, karena bulan itu merupakan bulan rahmat, ampunan, pembebasan dari neraka, dan bulan untuk melakukan kebaikan. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan kesabaran yang pahalanya adalah surga.
Puasa adalah perisai dan penghalang dari dosa dan kemaksiatan serta pelindung dari neraka, maka celakalah orang yang menemui bulan Ramadhan namun ia tidak diampuni dosanya; dalam hadits shahîh dijelaskan, sesungguhnya Nabi mengucapkan amîn sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdoa, Para Sahabat bertanya:
أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ اللَّه؟ قَالَ : جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ :بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْلَهُ، قُلْتُ : آمِيْن، فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّانِيَةُ قَالَ: بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، قُلْتُ : آمِيْن، فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّالِشَةَ قَالَ: بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ، قُلْتُ: آمِيْن
“Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amîn”. Beliau menjawab: “Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata: “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn” (HR. Al-Hakim, ia menshaihkan sanadnya, disetujui Imam adz-Dsahabi dan disahihkan Syaikh al-Albani rahimahumullah)
Insya Allah sehari lagi kita akan memasuki Ramadahan 1439 H, mari kita amalkan Ramadhan dengan amal yang dilandasi ikhlas dan ilmu yang shahihah, semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita, amin…
Download:
Download CHM atau Download ZIP dan Download PDF atau Download Word
(Sumber: ibnumajjah.com)