E-book Spesial Ramadhan



Telah terbit E-book pertama dari muslimah.or id yang berjudul "Bersemilah Ramadhan". E-book ini adalah E-book kumpulan artikel pilihan seputar ramadhan yang dimuat di website Muslimah.Or.Id.

E-book Spesial Ramadhan

Bersemilah Ramadhan…
di hati orang-orang yang beriman.
Hadirnya disambut kebahagiaan,
Detik-detiknya diisi ketaatan,
Sudah siap kencangkan ikat pinggang?
Untuk “dia” yang segera akan bertandang..
Kiranya kita menyiapkan diri, agar Ramadhan tak hanya datang dan kemudian menghilang (tanpa meraih banyak keutamaannya).
***

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat.
Telah terbit E-book pertama dari muslimah.or id yang berjudul 
“Bersemilah Ramadhan”.
E-book ini adalah E-book kumpulan artikel pilihan seputar ramadhan yang dimuat di website Muslimah.Or.Id.
Berisi artikel tentang ilmu, nasihat, penyemangat dan motivasi khususnya bagi muslimah untuk mempersiapkan diri menyambut ramadhan, produktif selama ramadhan dan istiqomah beramal setelah ramadhan.
Memuat beberapa artikel, diantaranya:
(1) Nasihat
(2) Fiqh wanita
(3) Fatwa ulama
(4) Pendidikan anak
(5) Kumpulan tips,
(6) Kesehatan
(7) Serba-serbi hari raya
(8) Qadha puasa, dan
(9) Puasa Syawal.
 Download:
Atau
Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal di bulan Ramadhan.
Sumber : www.muslimah.or.id


Meraih Ampunan Allah di Bulan Ramadhan



الحمد لله رب العالمين. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله :وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ:
Dosa-dosa banyak diampuni di bulan Ramadhan, karena bulan itu merupakan bulan rahmat, ampunan, pembebasan dari neraka, dan bulan untuk melakukan kebaikan. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan kesabaran yang pahalanya adalah surga.
Puasa adalah perisai dan penghalang dari dosa dan kemaksiatan serta pelindung dari neraka, maka celakalah orang yang menemui bulan Ramadhan namun ia tidak diampuni dosanya; dalam hadits shahîh dijelaskan, sesungguhnya Nabi mengucapkan amîn sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdoa, Para Sahabat bertanya:
أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ اللَّه؟ قَالَ : جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ :بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْلَهُ، قُلْتُ : آمِيْن، فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّانِيَةُ قَالَ: بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، قُلْتُ : آمِيْن، فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّالِشَةَ قَالَ: بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ، قُلْتُ: آمِيْن
“Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amîn”. Beliau menjawab: “Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata: “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn” (HR. Al-Hakim, ia menshaihkan sanadnya, disetujui Imam adz-Dsahabi dan disahihkan Syaikh al-Albani rahimahumullah)
Insya Allah sehari lagi kita akan memasuki Ramadahan 1439 H, mari kita amalkan Ramadhan dengan amal yang dilandasi ikhlas dan ilmu yang shahihah, semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita, amin…
Download:
Download CHM atau Download ZIP dan Download PDF atau Download Word
(Sumber: ibnumajjah.com)


1st Ramadan 1439 Madeenah Taraweeh Sheikh Mahmood Qari

6 Kelompok Manusia Dibulan Ramadhan



Ada 6 Kelompok Manusia dibulan Ramadhan, dan kita termasuk kelompok yang mana?

Syaikh DR.Abdul Aziz As-Sadhan hafizhahullah menjelaskan dalam kitab beliau Mukhalafat Ramadhan, kata beliau :"Terkait dengan bulan Ramadhan, maka manusia terbagi menjadi beberapa macam :

KELOMPOK PERTAMA :

 Kelompok yang menunggu kedatangan bulan ini dengan penuh kesabaran. Ia bertambah gembira dengan kedatangan nya, hingga ia pun menyingsingkan lengan dan bersungguh - sungguh mengerjakan segala macam bentuk ibadah, seperti puasa, shalat, sedekah dan lain. Ini merupakan kelompok (golongan manusia) yang terbaik.

Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhuma menceritakan : "Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam adalah orang yang paling darmawan. Namun beliau lebih darmawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika beliau selalu ditemui Jibril. Setiap malam pada bulan Ramadhan, Jibril menemui beliau hingga akhir bulan. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam membacakan al-Quran kepada nya. Bila beliau bertemu Jibril, beliau lebih darmawan daripada angin yang bertiup." [Diriwayatkan oleh Bukhari]

KELOMPOK KEDUA :

Kelompok yang sejak bulan Ramadhan datang sampai berlalu, keadaan mereka tetap saja seperti sebelum Ramadhan. Mereka tidak terpengaruh oleh bulan puasa ini, serta tidak bertambah senang atau bersegera dalam melakukan kebaikan. Kelompok ini adalah orang - orang yang menyia - nyiakan keuntungan besar (kesempatan yang baik) yang nilainya tidak bisa diukur dengan apapun. Sebab seorang muslim akan bertambah semangatnya pada waktu - waktu yang banyak terdapat kebaikan dan pahala didalamnya.

KELOMPOK KETIGA :

Kelompok yang tidak mengenal Allah, kecuali pada bulan Ramadhan saja. Bila bulan Ramadhan datang anda dapat melihat mereka ikut rukuk dan sujud dalam shalat. Tetapi bila Ramadhan berakhir, mereka kembali berbuat maksiat seperti semula. Mereka adalah kaum yang disebut kepada Imam Ahmad dan Fudhail bin Iyadh dan keduanya : "Mereka adalah seburuk - buruk kaum lantaran tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan."

Karena itu, setiap orang yang termasuk dalam kelompok ini semestinya tahu bahwa ia telah menipu dirinya sendiri dengan perbuatan nya tersebut. Setan pun juga memperoleh keuntungan besar darinya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : "Setan menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan - angan mereka." [al-Quran surat Muhammad ayat 25]

Sebagai bentuk ajakan dan peringatan untuk kelompok seperti mereka, hendaklah mereka bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan sebenar - benarnya taubat. Kami menghimbau agar mereka memanfaatkan bulan ini untuk kembali dan tunduk kepada Allah serta meminta ampunan dan meninggalkan perbuatan buruk yang telah lalu.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
وأنّى لغفّار لّمن تاب وءامن عمل صىلحا ثمّ اهتدى
"Dan sesungguhnya, Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shaleh, kemudian tetap di jalan yang benar." [al-Quran surat Thaha ayat 82]

Juga firman-Nya :
إلّا من تاب وءامن وعمل عملا صىلحا فأولئك يبدّل الله سيّئاتهم حسنت , وكان الله غفورا رّحيما
"Kecuali orang - orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [al-Quran surat al-Furqan ayat 70]

Bila Allah telah mengetahui ada ketulusan dan keikhlasan dalam hati mereka, maka Dia akan memaafkan mereka sebagaimana yang Dia janjikan. Karena, Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Namun, bila mereka tetap saja berbuat maksiat, maka kita harus mengingatkan perbuatan mereka, dan menyampaikan bahwa mereka dalam bahaya besar. Bahaya macam apalagi yang lebih besar daripada meremehkan kewajiban, batasan - batasan agama, perintah dan larangan Allah Subhanahu wa ta'ala.

KELOMPOK KEEMPAT :

Kelompok yang hanya perutnya saja yang puasa dari segala macam makan dan minuman, namun tidak menahan diri dari selain itu. Anda akan melihatnya sebagai orang yang paling tidak berselera terhadap makanan dan minum. Akan tetapi, mereka mendengar kemungkaran, ghibah, adu domba, penghinaan dan semisalnya. Bahkan ini kebiasaan nya pada bulan Ramadhan dan bulan - bulan lain nya.

Kepada orang - orang seperti ini, perlu kita sampaikan bahwa kemaksiatan pada bulan Ramadhan dan bulan lain nya itu diharamkan, tetapi lebih diharamkan lagi pada bulan Ramadhan ini, menurut pendapat sebagian Ulama. Dengan kemaksiatan tersebut berarti mereka telah menodai puasa dan menyia - nyiakan pahala yang banyak.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, ia berkata : "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :
من لم يدع قول الزّور والعمل به , فليس لله حاجة في أنّ يدع طعامه وشرابه
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam diri orang yang meninggalkan makanan dan minuman nya." [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Daud]

Juga Sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam :
ليس الصّيام من الأكل والشّرب , إنّما الصّيام من اللّغو والرّفث
"Puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum, tetapi puasa itu adalah meninggalkan perbuatan sia - sia dan perkataan keji." [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban]

KELOMPOK KELIMA :

Kelompok yang menjadikan siang hari untuk tidur, sedangkan malam harinya untuk begadang dan main - main belaka. Mereka tidak memanfaatkan siangnya untuk berdzikir dan berbuat kebaikan (beramal) dan tidak pula membersihkan malam nya dari hal - hal yang diharamkan.

Kepada orang - orang seperti ini, perlu kita sampaikan agar mereka takutlah kepada Allah berkenan dengan diri mereka. Janganlah menyia - nyiakan kebaikan yang datang kepada mereka. Mereka telah hidup sejahtera dan makmur. Hendaklah mereka bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya (nasuha) dan bergembira dengan berita dari Allah yang menyangkan (berupa balasan surga).

KELOMPOK KEENAM :

Kelompok yang tidak mengenal Allah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lain nya. Mereka adalah kelompok yang paling buruk dan berbahaya. Anda akan melihat mereka tidak memperhatikan shalat atau puasa. Mereka meninggalkan kewajiban itu secara sengaja, padahal kondisinya sehat dan segar bugar. Setelah itu mereka mengaku sebagai orang Islam. Padahal, Islam sangat jauh dari mereka, bagaikan jauhnya Barat dan Timur. Orang - orang Islam pun berlepas diri dari mereka.

Kepada orang - orang semacam ini perlu dikatakan : "Segeralah bertaubat dan kembalilah kepada agama kalian. Lipatlah lembaran hitam hidup kalian. Sesungguhnya, Rabb kalian Maha Penyayang kepada siapa saja yang mentaati-Nya dan sangat keras siksaan nya kepada orang yang mendurhakai-Nya."

[Mukhalafat Ramadhan, Syaikh DR.Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan. Diterj dengan judul Jangan Biarkan Puasa Anda Sia - Sia hal 25-29. cet Qiblatuna. Dengan sedikit pengeditan dan penambahan yang bermanfaat insya'Allah]

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
نبّئ عبادى أنّى أنا الغفور الرّحيم . وأنّ عذابى هو العذاب الأ ليم
"Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. " [al-Quran surat al-Hijr ayat 49-50]

Demikianlah, klasifikasi manusia secara umum berkaitan dengan bulan Ramadhan. Semoga kita termasuk kelompok pertama, dan berusaha untuk menjadi bagian dari kelompok pertama.

Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau dan sahabat – sahabat beliau.

سبحانك اللهم وبحمدك , اشهد أن لا إله إلا أنت , أستغفرك وأتوب إليك
http://faisalchoir.blogspot.co.id


Puasa dan Al-Quran Memberikan Syafa’at dengan Izin Allah





Puasa dan Al-Quran bisa memberikan syafa’at bagi kaum muslimin di hari kiamat kelak dengan izin Allah.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
 “Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]
Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat. [HR. Muslim 1910]
Hendaknya kita sangat berharap syafa’at terutama di bulan Ramadhan yang merupakan bulan berpuasa dan membaca Al-Quran.
Apakah itu Syafa’at?
Para ulama mendefinisikan syafa’at:
 “Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”
Syafa’at ini bisa berupa syafa’at di dunia maupun syafa’at di akhirat. Syafa’at di dunia bisa berupa syafa’at yang baik dam buruk sedangkan syafa’at di akhirat adalah syafa’at yang baik
Allah berfirman,
 “Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)
Maksud hadits yang kami sampaikan di awal tulisan mengenai syafa’at oleh puasa dan Al-Quran adalah syafaat di akhirat. Saat itu, manusia sangat butuh syafa’at dengan izin Allah karena kesusahan yang manusia alami pada hari kiamat, semisal:
1. Matahari di dekatkan pada manusia sejauh satu mil
2. Manusia ada yang tenggelam dengan keringatnya
3. Manusia ada yang diseret dan berjalan dengan wajahnya
4. Kejadian di padang mahsyar yang sangat lama, di mana satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di bumi.
Kami nukilkan salah satu dalil mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada juga yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian.” (HR. Tirmidzi, Shahih at-Targhib wat-Tarhib  no. 3582).
Kita sangat butuh syafa’at di hari kiamat termasuk yang bisa memberi syafa’at adalah puasa dan Al-Quran sebagaimana dalam hadits.
Perlu ditekankan bahwa syafa’at ini hanya milik Allah
Allah berfirman,
 “Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)
Puasa dan Al-Quran serta makhluk lainnya yang bisa memberi syafa’at sebagaimana dalam dalil tidaklah mempunyai syafa’at sebenarnya, tetapi diberikan izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at. Oleh karena itu, kita hanya boleh meminta syafa’at hanya kepada Allah saja. Tidak boleh meminta kepada makhluknya. Semisal perkataan yang TIDAK boleh:
“Wahai Nabi, aku minta syafa’at-mu”
Tapi katakanlah:
“Yaa Allah, aku memohon syafa’at Nabi-Mu”
Allah berfirman
 “Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)
Semoga kita termasuk orang yang beruntung mendapatkan syafa’at dan bisa memberikan syafa’at pada orang lain.
Sumber: Raehanul Bahraen - www.muslim.or.id


E-book: Meraih Surga di Bulan Ramadhan



Berkata Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah
Seiring dengan akan tibanya bulan suci Ramadhan yang penuh barakah, maka kami akan menyajikan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin pasal-pasal penting yang berkaitan dengan bulan Ramadhan, seraya memohon kepada Allah agar menjadikan amalan kami ikhlas karena-Nya, sesuai dengan syari`at-Nya, bermanfaat bagi makhluk-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Dermawan lagi Maha mulia. Pasal-pasal tersebut adalah:
Pasal pertama              : Hukum puasa.
Pasal kedua                 : Hikmah dan faidah puasa.
Pasal ketiga                  : Hukum berpuasa bagi orang sakit dan musafir.
Pasal keempat              : Hal-hal yang merusak ibadah puasa.
Pasal kelima                 : Shalat Tarawih.
Pasal keenam               : Zakat dan faidah-faidahnya.
Pasal ketujuh                : Golongan yang berhak menerima zakat.
Pasal kedelapan           : Zakat fitrah.
download-ebook


Keajaiban Puasa Bagi Kesehatan Tubuh


Bulan suci Ramadhan menjadi momentum yang sangat dinantikan bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia. Bagi seorang muslim, mempersiapkan diri secara kesehatan menjadi hal utama yang harus diperhatikan, mengingat selama satu bulan tubuh ini akan menahan rasa haus dan lapar.
Mungkin sebagian dari kita hanya mengetahui, ibadah puasa yang kita jalani selama 1 bulan lamanya ini merupakan bentuk keimanan dan  takwa kita sebagai muslim dalam menjalani Rukun Islam ke 4 tersebut. Tapi tahukah Anda? Di lihat dari sisi kesehatan, kegiatan puasa justru akan meningkatkan kesehatan kita, dan menjauhkan kita dari penyakit-penyakit yang berbahaya.
Ketika perintah berpuasa di bulan Ramadhan Allah Swt sampaikan di surat Al Baqaroh ayat 183 (“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”), maka bagi orang beriman itu merupakan panggilan keimanan kepada Allah SWT. Sehingga ketika menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan harus diyakini pastilah ada manfaatnya, termasuk dalam aspek kesehatan atau menyehatkan walaupun kita belum mengetahuinya.
Puasa dalam ilmu kedokteran dan kesehatan berarti mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) beserta enzim dan hormon, yang biasanya bekerja untuk mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 14-18 jam.
Dalam surat Al Baqarah ayat 184 Allah Swt berfirman, “….. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Para ahli kedokteran dan kesehatan sejak zaman dahulu sampai sekarang berusaha mengungkapkan manfaat dari menjalankan puasa untuk kesehatan manusia, bahkan menjadikan puasa sebagai bagian dari terapi atau pengobatan penyakit. Agar mendapatkan manfaat kesehatan dari menjalankan puasa, dianjurkan paling sedikit kita menjalankan ibadah puasa 30-40 hari dalam setahun.
Dokter Yahmin Setiawan, Direktur Utama Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa menjelaskan, menurut ilmu kedokteran dari beberapa penelitian, ternyata ditemukan beberapa manfaat menjalankan puasa untuk kesehatan, diantaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, ketika seseorang menjalankan ibadah puasa selama 12-14 jam, sesungguhnya tubuh kita dapat melakukan proses detoksifikasi (pembuangan zat-zat / racun yang tidak diperlukan tubuh) secara optimal. Proses detoksifikasi ini berlangsung secara optimal karena organ tubuh tidak dibebani untuk mengolah makanan yang kita masukan waktu siang hari atau cemilan lainnya. Zat-zat yang sudah tidak diperlukan lagi dalam tubuh kita (sisa dan sampah hasil metabolisme tubuh) seperti gula, kholesterol, trigleserida dan garam dapat dibuang dengan optimal sehingga tidak menimbulkan penyakit kencing manis dan darah tinggi.
Kedua, selain proses detoksifikasi yang optimal, ketika menjalankan ibadah puasa, sel-sel dalam organ tubuh kita dapat melakukan proses regenerasi (pembaharuan sel) dengan baik. Artinya sel-sel baru pada organ tubuh kita dapat terbentuk dengan baik dan pada akhirnya membuat organ tubuh kita menjadi “baru” dan lebih optimal bekerjanya. Hal ini menyebabkan kita menjadi awet muda.
Ketiga, orang yang menjalankan ibadah puasa, dituntut dan dibiasakan untuk lebih sabar atau tidak mudah marah. Dengan lebih sabar, sesungguhnya kadar zat kathekolamin dalam tubuh kita akan rendah. Apabila kadar zat kathekolamin dalam tubuh kita tinggi, akan berakibat terjadinya peningkatan tekanan darah karena denyut jantung akan meningkat, pembuluh darah akan menyempit dan alirannya akan terhambat. Dengan tekanan darah yang semakin tinggi akan menyebabkan kemungkinan terjadinya stroke.
Dengan lebih sabar dan terus berdzikir kepada Allah Swt, sesungguhnya akan merangsang sistem imun atau kekebalan tubuh kita menjadi lebih kuat. Sehingga kita menjadi tidak mudah menjadi sakit.
Keempat,  dengan berpuasa dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh dimana fungsi dari sel-sel getah bening akan membaik 10 kali lipat. Sel-sel yang bertanggungjawab dalam sistem kekebalan tubuh spesifik kita bertambah banyak dan sel-sel kekebalan tubuh lainnya juga bertambah banyak. Hal-hal tersebut akan meningkatkan reaksi ketahanan tubuh terhadap berbagai penyakit.
Kelima, bagi penderita sakit maag (terutama jenis dyspepsia fungsional), dengan berpuasa sesungguhnya akan menyembuhkan penyakitnya. Secara statistik, penderita sakit maag tipe fungsional (sebenarnya terjadi karena faktor stress, suka cemilan, makan tidak teratur dan merokok) jumlahnya lebih banyak dibandingkan penderita sakit maag tipe organik (terjadi karena memang ada luka dalam lambung atau saluran pencernaannya). Sehingga dengan menjalankan ibadah puasa, penderita sakit maag dapat sembuh dan terbebas dari keluhan yang dirasakannya.
Terbukti sudah, bahwa puasa itu menyehatkan. Dan Rasulullah Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Berpuasalah, maka engkau akan sehat (HR. Thabrani)”. Semoga keyakinan kita semakin kuat dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Romadhon ini dan menjalankan ibadah puasa dengan baik dan tepat. (https://www.dompetdhuafa.org)



Surah Al-Mulk - KEUTAMAANNYA




Keutamaan Surat Al-Mulk
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة » حسن رواه أحمد وأصحاب السنن.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Satu surat dalam Alquran (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafaat (dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat Al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.”  (HR. Abu Dawud no. 1400, At-Tirmidzi no. 2891, Ibnu Majah no. 3786, Ahmad 2:299, dan Al-Hakim no. 2075 dan 3838, dinyatakan shahih oleh Imam Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh imam At-Tirmidzi dan syaikh Al-Albani).
Hadis yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca surat ini secara kontinyu, karena ini merupakan sebab untuk mendapatkan syafaat dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. (Faidhul Qadir, 2:453)
Hadis ini semakna dengan hadis lain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Satu surat dalam Alquran yang hanya (terdiri dari) tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga, yaitu surat: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan.”
(HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath no. 3654 dan Al-Mu’jamush Shagir no. 490, dinyatakan shahih oleh Al-Haitsami dan Ibnu Hajar dinukil dalam kitab Faidhul Qadir 4:115 dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ish Shagir no. 3644).
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadis ini:
– Keutamaan dalam hadis ini diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat Al-Mulk dengan secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan menghayati artinya. (Faidhul Qadir, 4:115).
– Surat ini termasuk surat-surat Alquran yang biasa dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum tidur di malam hari, karena agungnya kandungan maknanya. (HR At-Tirmidzi no. 2892 dan Ahmad 3:340, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihahno. 585).
– Sebagian dari ulama ahli tafsir menamakan surat ini dengan penjaga/pelindung dan penyelamat (dari azab kubur). (Tafsir al-Qurthubi, 18:205). Akan tetapi penamaan ini disebutkan dalam hadis yang lemah. (Dha’ifut Targibi wat Tarhib, no. 887).
– Alquran akan memberikan syafaat (dengan izin Allah) bagi orang yang membacanya (dengan menghayati artinya) dan mengamalkan isinya (Bahjatun naazhirin, 2:240), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bacalah Alquran, karena sesungguhnya bacaan Alquran itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).” (HR. Muslim no. 804).
Ust. Abdullah Taslim, MA - ManisnyaIman.com


7 Persiapan Menjelang Ramadhan | Ustadz Abdul Somad, Lc. MA




7 (Tujuh) Persiapan Menjelang Ramadhan

Sambutlah bulan Ramadhan tahun ini dengan 7 persiapan:

1. Kenali Ramadhan dengan baik
2. Perbaiki hubungan dengan Allah melalui taubat nashuha
3. Perbaiki hubungan dengan sesama
4. Siapkan Al-Quran
5. Bayar hutang puasa tahun lalu
6. Siapkan budget lebih untuk sedekah puasa
7. Jaga kesehatan, karena puasa dan Qiyamul Lail membutuhkan kesehatan fisik.
Mengenal  Ustadz Abdul Somad
Ustadz Abdul Somad dikenal sebagai salah satu pendakwah yang terkenal di Indonesia yang berasal dari Sumatera. Namanya mulai banyak dikenal ketika ia aktif memberikan ceramah agama melalui saluran Youtube.

Bernama lengkap Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A. Beliau akrab dikenal sebagai Ustadz Abdul Somad. Ia lahir di sebuah desa bernama Silo Lama di wilayah kabupaten Asahan, Sumatera Utara pada tanggal 18 Mei 1977.

Masa Kecil Abdul Somad

Sejak kecil, orang tua Abdul Somad sudah memasukkan Abdul Somad disekolah yang berkultur agama islam. Ustad Abdul Somad memulai sekolahnya di SD Al-Washliyah Medan dan tamat disana pada tahun 1990.

Puasa Tahan Tidak Makan, Tapi Tidak Untuk Makan Daging Saudara Sendiri





Bisa jadi banyak yang mampu menahan tidak makan dan tidak minum selama berpuasa, akan tetapi terkadang ia tidak bisa menahan diri untuk “tidak makan daging saudaranya sendiri”. Maksudnya adalah melakukan ghibah, sibuk bergosip dan membicarakan aib orang lain.
Ghibah diperumpamakan dalam Al-Quran dengan “memakan daging mayat saudara sendiri”.
Allah berfirman,
 “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]
Harusnya seseorang sangat benci makan mayat (bahkan jijik), seharusnya ini juga yang ia rasakan ketika melakukan ghibah. Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan,
 “Diserupakan dengan memakan daging mayat saudara karena hal ini dibenci oleh jiwa, (sangat benci) dengan melakukan ghibah.” (Tafsir As-Sa’diy)
Ghibah adalah menyebut-nyebut kejelekan saudaranya, padahal saudaranya tidak suka jika dibicarakan dan orang tersebut sedang tidak ada di majelis tersebut ketika dibicarakan.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
 “Tahukah kalian apa itu ghibah?”
Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Kemudian beliau shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.”
Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa pada saudaraku?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (HR Muslim 2589)
Apabila yang dibicarakan itu nerupa aib dan kekurangan itu tdak benar, maka perkaranya lebih berat lagi karena merupakan fitnah, sehingga tidak ada gunanya membahas dan membicarakan orang lain tanpa kemashalahatan yang lebih semisal mencari solusi dan berniat akan menasehati.
Bisa jadi seseorang berpuasa tetapi masih melakukan ghibah bahkan menjadi hobi. Hal ini akan mengurangi pahala puasanya bahkan membuat pahala puasanya menjadi sia-sia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwa puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum saja. Beliau bersabda,
 “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rafats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah,  Shhih At Targib wa At Tarhib no. 1082)
Puasa itu juga mempuasakan semua anggota tubuh kita dari kemaksiatan dan semoga Allah memudahkan kita.
Sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu berkata,
 “Jika engkau berpuasa maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta. Janganlah menyakiti tetangga, hendaknya engkau penuh ketenangan dan wibawa pada hari puasamu.” (Lathaif Al Ma’arif,Ibnu rajab Al Hambali)
Apabila seorang yang berpuasa tidak bisa menjaga diri dari hal-hal ini bisa jadi pahala puasa sia-sia dan yang hanya ia dapatkan adalah lapar dan haus saja.
Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda,
 “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani, sahih lighairihi)
Bahkan Allah tidak butuh terhadap puasanya dan ini bentuk ungkapan bahwa ibadah puasanya tidak benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)
Semoga kita bisa menjaga anggota badan terutama lisan dari hal-hal yang bisa merusak puasa.
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslim.or.id