Murottal Sheikh Bandar Baleela

0 komentar
 
Sheikh Bandar Baleela adalah Imam Masjidil Haram yang baru. Berikut suara beliau yang sangat merdu


http://citiesoflight.me/
Readmore...

Puasa Daud, Sebaik-baiknya Puasa

0 komentar
 
Puasa Daud berarti sehari berpuasa, keesokan harinya tidak berpuasa, dan berpuasa lagi besoknya. Ini adalah sebaik-baik puasa dan derajat puasa yang paling tinggi.
Puasa Daud adalah puasa yang paling disukai oleh Allah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya,
أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
Sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau shalat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya.” (HR. Bukhari no. 1131).
Demikian juga hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr ada pula hadits dalam musnad Imam Ahmad sebagai berikut,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ قُرَيْشٍ فَكَانَ لاَ يَأْتِيهَا كَانَ يَشْغَلُهُ الصَّوْمُ وَالصَّلاَةُ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَمَا زَالَ بِهِ حَتَّى قَالَ لَهُ « صُمْ يَوْماً وَأَفْطِرْ يَوْماً ». وَقَالَ لَهُ « اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى كُلِّ شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ خَمْسَ عَشْرَةَ ». قَالَ إِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ سَبْعٍ ». حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى كُلِّ ثَلاَثٍ ». وَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةً وَلِكُلِّ شِرَةٍ فَتْرَةً فَمَنْ كَانَتْ شِرَتُهُ إِلَى سُنَّتِى فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ »
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa ia telah menikahi wanita dari Quraisy, namun ia tidaklah mendatanginya (menyetubuhinya) karena sibuk puasa dan shalat (malam). Lalu ia menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Berpuasalah setiap bulannya selama tiga hari”. “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Lalu ia terus menjawab yang sama sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan padanya, “Puasalah sehari dan tidak berpuasa sehari”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata padanya, “Khatamkanlah Al Qur’an dalam sebulan sekali”. “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Kalau begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Khatamkanlah Al Qur’an setiap 15 hari”. “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Kalau begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Khatamkanlah Al Qur’an setiap 7 hari”. Lalu ia terus menjawab yang sama sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Khatamkanlah setiap 3 hari”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa” (HR. Ahmad 2: 188. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
Puasa Daud ini dengan sehari berpuasa dan keesokan harinya tidak puasa lalu seterusnya seperti itu adalah semaksimalnya puasa. Tidak ada yang boleh lebih dari itu seperti dengan menggabungkan puasa Senin Kamis dengan Puasa Daudini tidak dibolehkan. Lihat riwayat lainnya dari Bukhari dan Muslim,
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو قَالَ أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّى أَقُولُ وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ ، وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ ، مَا عِشْتُ . فَقُلْتُ لَهُ قَدْ قُلْتُهُ بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى . قَالَ « فَإِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ ، فَصُمْ وَ أَفْطِرْ ، وَقُمْ وَنَمْ ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ » . قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ » . قُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . قَالَ « فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا ، فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – وَهْوَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ » .فَقُلْتُ إِنِّى أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ »
“‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat kabar bahwa ‘Abdullah berkata, “Demi Allah aku akan berpuasa di siang hari dan aku shalat di malam hari terus menerus sesuai kemampuanku.” Kemudian ‘Abdullah mengatakan bahwa ia telah mengatakan seperti itu sembari bersumpah dengan ayah dan ibunya. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh engkau tidak bisa melakukan seperti itu. Cukuplah berpuasa sehari dan luangkan waktu untuk tidak puasa. Dirikanlah shalat malam, namun tetap tidurlah. Atau berpuasalah setiap bulannya minimal tiga hari karena satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Jika demikian, hitungannya sama saja dengan puasa dahr (setahun penuh)“. ‘Abdullah berkata pada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau masih mampu lebih dari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu berpuasalah sehari, lalu berikutnya tidak puasa dua hari“. ‘Abdullah berkata pada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau masih mampu lebih dari itu. Beliau bersabda, “Kalau begitu berpuasalah sehari, lalu berikutnya tidak puasa sehari. Inilah yang disebut puasa Daud ‘alaihis salam. Puasa Daud inilah sebaik-baik puasa“. ‘Abdullah masih berkata pada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau masih mampu lebih dari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidak ada yang lebih afdhol dari itu” (HR. Bukhari no. 1976 dan Muslim no. 1159).
Dalam riwayat lain disebutkan,
لاَ صَوْمَ فَوْقَ صَوْمِ دَاوُدَ ، شَطْرَ الدَّهْرِ ، صِيَامُ يَوْمٍ ، وَإِفْطَارُ يَوْمٍ
Tidak ada puasa yang lebih afdhol dari puasa Daud. Puasa Daud berarti sudah berpuasa separuh tahun karena sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa.” (HR. Bukhari no. 6277 dan Muslim no. 1159).
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Hadits di atas secara tegas menunjukkan bahwa puasa Daud adalah sebaik-baiknya puasa. Bahkan puasa Daud lebih utama daripada puasa sepanjang tahun. Namun puasa Daud ini dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak sampai melalaikan orang yang melakukan puasa ini dari perkara yang lebih penting. Dalam riwayat lain disebutkan,
وَلاَ يَفِرُّ إِذَا لاَقَى
Jangan sampai lari ketika menemui kesulitan” (HR. Bukhari no. 1977 dan Muslim no. 1159). Maksudnya adalah jangan sampai puasa Daud melalaikan dari perkara yang wajib seperti jihad.” (Syarh ‘Umdatil Ahkam, hal. 361).
Semoga sajian puasa Daud ini bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus beramal sholih.

Referensi:
  • Ash Shiyam fil Islam fii Dhouil Kitab was Sunnah, Dr. Sa’id bin Wahf bin ‘Ali Al Qohthoni, terbitan Maktabah Al Malik Fahd, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 367-369.
  • Syarh ‘Umdatil Ahkam, Syaikhuna -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1429 H.
  • Syarh ‘Umdatil Ahkam, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Darut Tauhid, cetakan pertama, tahun 1431 H.
Disusun @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, di siang hari selepas shalat Zhuhur, 10 Syawal 1434 H


Readmore...

Adakah Larangan Puasa pada Hari Ahad?

0 komentar
 
Adakah larangan berpuasa pada hari Ahad (Minggu)? Misalnya saja ada yang ingin puasa Syawal atau puasa yang punya sebab lainnya bertepatan pada hari Ahad, apakah masih dibolehkan?
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Adapun hari Ahad, sebagian ulama menyunnahkan puasa ketika itu dan sebagian lainnya memakruhkan. Adapun ulama yang menyunnahkan karena hari tersebut adalah hari ‘ied (hari yang diagungkan) oleh orang Nashrani. Biasanya hari ‘ied adalah hari makan-makan dan bersenang-senang. Sehingga menyelisihinya adalah dengan berpuasa.
Adapun ulama yang menganggap makruh karena menganggap bahwa berpuasa berarti mengagungkan suatu hari. Jika hari Ahad adalah hari ‘iednya orang kafir, maka berpuasa saat itu berarti mengagungkan hari tersebut. Sehingga tidak boleh melakukan pengagungan seperti yang dilakukan oleh orang kafir karena itu adalah syi’ar mereka.
Ringkasnya, berpuasa pada hari Selasa dan Rabu itu dibolehkan. Namun tidak disunnahkan dan tidak dimakruhkan berpuasa pada dua hari tersebut. Sedangkan untuk hari Jum’at, Sabtu dan Ahad dimakruhkan mengkhususkan (menyendirikan) puasa ketika itu. Mengkhususkan puasa pada hari Jum’at sangat dilarang keras karena ada hadits yang melarangnya tanpa ada perselisihan sengit di antara para ulama. Sedangkan berpuasa pada hari Jum’at lalu ditambah dengan berpuasa pada hari sesudahnya, maka tidak ada masalah. Adapun berpuasa pada hari Senin dan Kamis ada sunnahnya.” (Syarhul Mumti’, 6: 464).
Adapun larangan berpuasa pada hari Ahad secara khusus adalah hadits dari Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أكثر ما كان يصوم من الأيام يوم السبت والأحد ، كان يقول : « إنهما يوما عيد للمشركين وأنا أريد أن أخالفهم »
Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak puasa pada hari Sabtu dan Ahad. Beliau berkata bahwa hari Sabtu dan Ahad adalah hari ‘ied orang musyrik dan aku ingin menyelisihi mereka ketika itu.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya).
Hadits di atas menunjukkan larangan berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad. Namun itu bila dikhususkan atau diistimewakan kedua hari tersebut. Bila berpuasa pada kedua hari tadi lalu diikuti dengan puasa hari sebelum atau sesudahnya atau karena bertepatan dengan kebiasaan puasa, maka tidak ada masalah. Sehingga melakuan puasa Syawal atau puasa Daud atau puasa yang punya sebab lainnya yang bertepatan dengan hari Ahad, maka tidak ada masalah. Wallahu a’lam.
Hanya Allah yang memberi taufik.

ReferensiSyarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1424 H.
Disusun @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, diselesaikan pada 11 Syawal 1434 H


Readmore...

Tuntunan Puasa Syawal

0 komentar
 

Puasa Syawal

Pertanyaan:
Bagaimanakan tuntunan Islam dalam melaksanakan puasa Syawal?
Jawaban:
Dari Abu Ayyub radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal, maka itulah puasa satu tahun.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Tata cara puasa Syawal

Ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.
Pendapat pertama, dianjurkan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Ibnul Mubarak. Pendapat ini didasari sebuah hadis, namun hadisnya lemah.
Pendapat kedua, tidak ada beda dalam keutamaan, antara dilakukan secara berturut-turut dengan dilakukan secara terpisah-pisah. Ini adalah pendapat Imam Waki’ dan Imam Ahmad.
Pendapat ketiga, tidak boleh melaksanakan puasa persis setelah Idul Fitri karena itu adalah hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan. Ini adalah pendapat Ma’mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha’. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 384–385)
Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa Syawal tanpa berurutan. Keutamaannya sama dengan puasa Syawal secara terpisah. Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?
Beliau menjelaskan, “Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keterangan secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal ….‘ (Hadis riwayat Muslim, dalam Shahih-nya)
Wa billahit taufiiq ….” (Majmu’ Fatwa wa Maqalat Ibni Baz, jilid 15, hlm. 391)

Boleh puasa di tanggal 2 Syawal

Ibnu Rajab mengatakan, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak dimakruhkan puasa pada hari kedua setelah hari raya (tanggal 2 Syawal). Ini sebagaimana diisyaratkan dalam hadis dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, ‘Jika kamu sudah selesai berhari raya, berpuasalah.’ (H.r. Ahmad, no. 19852).” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 385)

Antara qadha dan puasa Syawal

Keutamaan puasa Syawal hanya diperoleh jika puasa Ramadan telah selesai
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin mengatakan, “Setiap orang perlu memerhatikan bahwa keutamaan puasa Syawal ini tidak bisa diperoleh kecuali jika puasa Ramadan telah dilaksanakan semuanya. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki tanggungan qadha Ramadan, hendaknya dia bayar duluqadha Ramadan-nya, baru kemudian melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal. Jika dia berpuasa Syawal sementara belum meng-qadha utang puasa Ramadhan-nya maka dia tidak mendapatkan pahala keutamaan puasa Syawal, tanpa memandang perbedaan pendapat, apakah puasanya sebelum qadha itu sah ataukah tidak sah.
Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan …” sementara orang yang punya kewajiban qadha puasa Ramadan baru berpuasa di sebagian Ramadan dan belum dianggap telah berpuasa Ramadan (penuh).
Boleh melaksanakan puasa sunah secara berurutan atau terpisah-pisah. Namun, mengerjakannya dengan berurutan, itu lebih utama karena menunjukkan sikap bersegera dalam melaksanakan kebaikan, dan tidak menunda-nunda amal yang bisa menyebabkan tidak jadi beramal.” (Fatawa Ibni Utsaimin, kitab “Ad-Da’wah“, 1:52–53)
Keterangan dari Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Yang lebih tepat, mendahulukan qadha Ramadan sebelum melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal atau puasa sunah lainnya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal, maka itulah puasa satu tahun.’ (H.r. Muslim). Siapa saja yang berpuasa Syawal sebelum qadha puasa Ramadan maka dia tidak dianggap ‘mengikuti puasa Ramadan dengan puasa Syawal’, namun hanya sebatas ‘mengikuti SEBAGIAN puasa Ramadan dengan puasa Syawal,’ karena qadha itu hukumnya wajib dan puasa Syawal hukumnya sunah. Ibadah wajib lebih layak untuk diperhatikan dan diutamakan.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, jilid 15, hlm. 392, Syekh Abdul Aziz bin Baz)

Bolehkah puasa sunah Syawal sebelum qadha?

Keterangan dari Syekh Khalid Al-Mushlih,
Bismillahirrahmanirrahim.
Ulama berbeda pendapat tentang bolehnya berpuasa sunah sebelum menyelesaikan qadha puasa Ramadan. Secara umum, ada dua pendapat:
Pertama, bolehnya puasa sunah sebelum qadha puasa Ramadan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Ada yang mengatakan boleh secara mutlak dan ada yang mengatakan boleh tetapi makruh.
Al-Hanafiyah berpendapat, ‘Boleh melakukan puasa sunah sebelum qadha Ramadan karena qadha tidak wajib dikerjakan segera. Namun, kewajiban qadha sifatnya longgar. Ini merupakan salah riwayat pendapat Imam Ahmad.’
Adapun Malikiyah dan Syafi’iyah menyatakan bahwa boleh berpuasa sunah sebelum qadha, tetapi hukumnya makruh, karena hal ini menunjukkan sikap lebih menyibukkan diri dengan amalan sunah sebelum qadha, sebagai bentuk mengakhirkan kewajiban.
Kedua, haram melaksanakan puasa sunah sebelum qadha puasa Ramadan. Ini adalah pendapat Mazhab Hanbali.
Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa sunah sebelum qadha karena waktu meng-qadha cukup longgar, dan mengatakan tidak boleh puasa sunnah sebelum qadha itu butuh dalil. Sementara, tidak ada dalil yang bisa dijadikan acuan dalam hal ini.” (Sumber:http://www.saaid.net/mktarat/12/10-2.htm)
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)
Readmore...

Warga Palestina Sesaki Al Aqsha Hidupkan Lailatul Qadar

0 komentar
 
REPUBLIKA.CO.ID, ALQUDS -- Warga Palestina dari berbagai wilayah di Alquds, Tepi Barat, dan wilayah Palestina terjajah 1948 terus berdatangan ke masjid Al Aqsha. Mereka menyebar di area masjid untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar di bulan suci Ramadhan ini.

Sejak Ahad (4/8) sore waktu setempat, ribuan kendaraan menuju Alquds dari berbagai provinsi di Tepi Barat dan wilayah Palestina terjajah 1948. Kondisi ini mencerminkan cinta orang-orang Palestina pada Alquds dan masjid Al Aqsha.

Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa bahwa warga telah melintasi perlintasan-perlintasan sebelum ditutup pada Ahad petang untuk sampai di masjid Al Aqsha.

Sumber di Wakaf Islam di Alquds menyatakan bahwa dengan kedatangan para jamaah ini maka jumlah jamaah shalat di masjid Al Aqsha kali ini tidak diperkirakan sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya.

''Di Kota Tua Alquds, di jalan-jalannya, di pasar-pasarnya serta di jalan-jalan kecilnya penuh sesak akibat banyaknya jumlah jamaah shalat yang datang ke masjid Al aqsha. Meskipun, pihak penjajah Zionis telah memperketat prosedur di perlintasan-perlintasan militernya,'' sebut laporan Pusat Informasi Palestina.
http://www.republika.co.id
Readmore...

Fatwa Ramadhan: Tidak Dapat Lailatul Qadar Karena Tidak Lihat Tandanya?

0 komentar
 

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Soal:
Apakah tanda lailatul qadar bisa dilihat dengan mata telanjang? Karena sebagian orang berkata bahwa lailatul qadar bisa dilihat tandanya yaitu dengan melihat sebuah cahaya di langit atau semacam itu. Lalu bagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat radhiallahu’anhum ajma’in melihat tanda lailatul qadar? Dan bagaimana seseorang bisa tahu bahwa yang dilihat itu adalah tanda lailatul qadar? Apakah seseorang bisa mendapatkan keutamaan lailatul qadar padahal ketika itu ia tidak melihat tandanya? Mohon penjelasan anda dengan dalilnya
Jawab:
Terkadang lailatul qadar itu bisa dilihat tandanya bagi orang yang diberi taufiq oleh Allah untuk melihat tandanya. Dahulu para sahabat radhiallahu’anhum juga berdalil dengan beberapa jenis tanda. Namun bagi orang yang memang beribadah di malam itu karena iman dan mengharap pahala namun tidak melihat tanda apa-apa bukan berarti tidak mendapatkan keutamaannya.
Maka setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk mendapatkan pahala dan ganjaran. Jika seseorang mengisi malam lailatul qadar dengan ibadah karena iman dan mengharap pahala  ia akan mendapatkan ganjarannya, walaupun ketika itu ia tidak mengetahui. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam di malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain:
من قامها ابتغاءها ثم وقعت له غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر
Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam di malam lailatul qadar dan berharap mendapatkannya, akan diberikan padanya ampunan dosa yang telah lalu dan akan datang
Demikian juga terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa diantara tanda lailatul qadar adalah matahari terbit di pagi harinya dengan sinar yang tidak menyilaukan. Dan Ubay bin Ka’ab bersumpah ketika melihat tanda ini bahwa itu di hari ke-27. Namun yang shahih lailatul qadar itu muntaqilah (selalu berpindah) di sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan malam ganjil itu lebih besar kemungkinannya, dan malam ke-27 lebih kuat kemungkinannya dari malam-malam ganjil yang lain. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh di semua sepuluh malam terakhir dengan shalat, membaca dan tadabbur Al Qur’an, berdoa, dan amalan kebaikan yang lain, ia akan mendapatkan lailatul qadar tanpa keraguan. Ia akan menjadi orang yang beruntung yang mendapatkan janji Allah yang diberikan kepada orang yang menghidupkan malam itu karena iman dan mengharap pahala.
Wallahu waliyut taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa alihi wa shahbihi
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Readmore...

Aplikasi Kalkulator Zakat

0 komentar
 
Sebagaimana kita ketahui bersama, menunaikan zakat adalah salah satu dari rukun Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan” (Muttafaq ‘alaih)
Maka zakat merupakan hal urgen yang mesti diperhatikan oleh setiap Muslim. Oleh karena itu untuk membantu kaum Muslimin menghitung zakat mal yang harus dibayarkan dari hartanya kami menyediakan aplikasi kalkulator zakat yang dapat diakses pada alamat apps.muslim.or.id/zakat.

Deskripsi

Aplikasi kalkulator zakat ini menghitung zakat yang wajib dikeluarkan berdasarkan informasi rincian harta pengguna yang diinputkan ke form. Jika kolom total zakat menunjukkan angka 0 (nol) berarti pengguna yang bersangkutan belum diwajibkan mengeluarkan zakat karena harta yang dimiliki belum melebihi nishab zakat. Adapun nishab zakat yang dipakai dalam aplikasi ini selalu up-to-date setiap harinya berdasarkan harga emas dan perak yang ada di web kontan.web.id.
Untuk saat ini aplikasi kalkulator zakat ini hanya menghitung jenis zakat:
  1. zakat emas dan perak
  2. zakat mata uang dan penghasilan
  3. zakat harta usaha
Dan untuk zakat mata uang / penghasilan serta zakat harta usaha dalam aplikasi ini digunakan nishab emas, yaitu 85 gram emas.

Cara Penggunaan

Pada bagian header dari aplikasi ini berisi informasi harga emas dan perak terkini juga nilai dari nishab 85 gr emas serta total zakat hasil perhitungan. Jadi hasil perhitungan total zakat anda akan muncul pada kolom “TOTAL ZAKAT YANG HARUS DIBAYARKAN”.
app-zakat1
Sedangkan bagian body, adalah form tempat anda mengisikan rincian harta anda. Sebagaimana telah dijelaskan, ada 3 jenis zakat yang dihitung pada aplikasi ini. Maka pada tab 1 adalah form pengisian harta emas dan perak, tab 2 pengisian harta mata uang dan penghasilan dan tab 3 pengisian harta usaha jika ada. Tidak semua form ini harus diisi, tergantung pada harta yang anda miliki. Jika anda hanya memiliki tabungan berupa uang dan tidak memiliki simpanan emas dan tidak memiliki usaha maka cukup mengisi tab 2.
Form harta emas dan perak
Pada form ini silakan isi jumlah gram emas dan perak yang dimiliki. Aplikasi akan menghitung berat emas dan perak yang wajib dizakatkan serta menghitung nilainya dalam rupiah.
app-zakat2
Aplikasi ini juga mengakumulasikan nilai zakat emas dan perak dalam rupiah. Jika checkbox “Bayar dengan uang” di-check artinya anda akan membayar zakat emas dan perak dengan uang dan jumlahnya akan di masukkan pada kotak total zakat di header untuk di jumlahkan dengan zakat yang lain. Jika tidak di-checkartinya anda akan membayar zakat emas dan perak dengan emas dan perak sehingga nilainya tidak di masukkan pada kotak total zakat.
Form mata uang dan penghasilan
Pada bagian F, isilkan jumlah riil total uang yang anda miliki baik berasal dari gaji, hadiah, penghasilan sampingan, warisan, hibah, deposito, dll.
Pada bagian G, isikan jumlah piutang, atau jumlah uang anda yang sedang dipinjam orang lain, yang diharapkan atau dijanjikan pengembaliannya pada periode ini yaitu periode sebelum jatuh tempo zakat selanjutnya.
Pada bagian H, isikan jumlah lembar saham yang anda miliki serta harga per lembarnya. Kemudian isikan rincian jenis usaha dari perusahaan yang sahamnya anda miliki.
Bagian I menunjukkan total jumlah harta uang dan penghasilan anda. Isikan hutang yang anda miliki pada kolom J.
Maka bagian K akan total jumlah zakat yang harus dibayarkan dari harta uang dan penghasilan setelah dikurangi hutang.
app-zakat3
Total zakat pada bagian L akan diakumulasikan dengan zakat yang lain pada kolom total zakat di bagianheader.
Form harta zakat usaha
Pada bagian M isikan jumlah nilai seluruh aset usaha termasuk uang tunai, simpanan di bank, alat produksi, inventori, barang jadi, produk yang diperdagangkan, dll. Pada bagian N isikan jumlah hutang usaha yang jatuh pada periode ini.
Jika usaha anda tersebut adalah usaha bersama, maka masukkan persentase kepemilikan pada bagian O. Maka bagian R akan didapatkan total jumlah zakat yang harus dibayarkan dari harta usaha setelah dikurangi hutang.
app-zakat4
Semua zakat akan diakumulasikan pada kolom total zakat di header.

Catatan

Aplikasi ini hanya menghitung jumlah zakat yang harus dibayarkan jika melebihi nishab, dengan asumsi sudah haul, yaitu harta yang dihitung sudah mengendap selama 1 tahun jumlahnya tidak berkurang dari nishab. Untuk lebih jelasnya, silakan baca artikel-artikel berikut:
Aplikasi ini dikembangkan oleh Al Akh Muhammad Fuad dan Al Akh Yulian Purnama dari komunitas IT Support Dakwah. Untuk saran, kritik dan laporan kesalahan silakan kirimkan ke emailian.doang[at]gmail.com.
Artikel Muslim.Or.Id
Readmore...

Kajian Ramadhan 19: Lailatul Qadar, Waktu Pencatatan Takdir Tahunan

0 komentar
 
Di antara maksud lailatul qadar adalah waktu penetapan atau pencatatan takdir tahunan. Adapun keyakinan seorang muslim terhadap takdir, ia harus meyakini bahwa Allah mengetahui takdir hingga masa akan datang, Dia mencatat takdir tersebut, yang Dia tetapkan pasti terjadi, serta Dia pun menciptakan perbuatan hamba.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disebut lailatul qadar karena di malam tersebut dicatat untuk para malaikat catatan takdir, rezeki dan ajal yang terjadi pada tahun tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (maksudnya: takdir dalam setahun, -pen).” (QS. Ad Dukhon: 4).
Begitu pula firman Allah Ta’ala,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. ” (QS. Al Qadr: 4). Yang dimaksud ayat ini adalah diperlihatkan pada malaikat kejadian-kejadian dalam setahun, lalu mereka diperintahkan melakukan segala yang menjadi tugas mereka. Namun takdir ini sudah didahului dengan ilmu dan ketetapan Allah lebih dulu. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 57.
Mengenai surat Ad Dukhon ayat 4 di atas, Qotadah rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah pada malam lailatul qadar ditetapkan takdir tahunan.”  (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 13: 132)
Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas bahwa dicatat dalam induk kitab pada malam lailatul qadar segala yang terjadi selama setahun berupa kebaikan, kejelekan, rezeki dan ajal, bahkan sampai kejadian ia berhaji. Disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir, 7: 338.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Pada malam lailatul qadar ditetapkan di Lauhul Mahfuzh mengenai takdir dalam setahun yaitu terdapat ketetapan ajal dan rezeki, begitu pula berbagai kejadian yang akan terjadi dalam setahun. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak, dan ulama salaf lainnya.” Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim dalam penjelasan ayat di atas.
Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman berkata, “Ada salah satu pencatatan kitab yang terdapat pada malam lailatul qadar. Kitab tersebut dicatat namun masih bersesuaian dengan takdir yang dulu sudah ada, di mana Allah sudah menetapkan berbagai takdir makhluk, mulai dari ajal, rezeki, perbuatan serta keadaan mereka. Dalam penulisan tersebut, Allah menyerahkan kepada para malaikat. Takdir tersebut dicatat pada hamba ketika ia masih berada dalam perut ibunya. Kemudian setelah ia lahir ke dunia, Allah mewakilkan kepada malaikat pencatat untuk mencatat setiap amalan hamba. Di malam lailatul qadar tersebut, Allah menetapkan takdir dalam setahun. Semua takdir ini adalah tanda sempurnanya ilmu, hikmah dan ketelitian Allah terhadap makhluk-Nya.”
Semoga dengan semakin merenungkan tulisan di atas, kita pun semakin merenungkan malam kemuliaan lailatul qadar dan semakin beriman pula pada takdir ilahi.
Disusun di malam 23 Ramadhan 1434 H @ Pondok Mertua Indah, Panggang, Gunungkidul
Artikel Muslim.Or.Id

Readmore...